728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 20 Maret 2017

    Jurus Pamungkas Ahok Pada Kampanye Putaran Ke-2 (Warisan Orang Tuanya)

    Publik juga media bertanya-tanya, mengapa Ahok pada putaran kedua ini terlalu “senyap” kampanyenya? Malahan, Sandiaga Uno berseloroh ringan tanpa dosa “mungkin ketemuan sama pengusaha”. Ahok tetap diam dalam senyapnya kampanye putaran kedua ini. Ia tak menghiraukan ledekan Sandi yang sebenarnya berbalik ke dirinya.

    Apa sih strategi Ahok di putaran kedua ini? Mengapa Ahok begitu senyap dari pemberitaan media? Padahal, saat-saat kampanye ini, media adalah segalanya. Media adalah sarana untuk membentuk kepercayaan publik. Tapi, yang Ahok lakukan malah menunjukkan hal sebaliknya.

    Apakah Ahok sudah pasrah untuk kalah?

    Rudi Valinka alias pemilik akun @kurawa, yang telah menulis sebuah buku fenomenal “A Man Called Ahok” membeberkan sebuah rahasia dari strategi Ahok di putaran kedua ini. Strategi rahasia ini memang terbilang aneh. Bahkan dapat dibilang sebuah anomali sepanjang pesta demokrasi negeri ini. Mengapa?

    Strategi atau jurus pamungkas yang Ahok keluarkan di putaran kedua ini merupakan nasehat yang selalu orang tuanya berikan kepada Ahok. Dan nasehat ini terbilang aneh dalam pandangan tradisi politik yang mapan. Sebab, nasehat yang ayah Ahok berikan, dapat dikatakan mustahil dilakukan oleh Anies-Sandi.

    Ahok sejak kecil diajarkan oleh orang tuanya untuk membiasakan diri mengunjungi orang yang sakit atau orang yang kesusahan. Kata ayahnya, doa mereka manjur. Sehingga, Ahok bisa berdiri hingga sekarang, tetap teguh pada pendiriannya, semakin digoyang semakin terkenal, itu semua adalah tabungan doa yang dulu ia kumpulkan.

    Pada putaran kedua, inilah yang Ahok pakai. Jurus pamungkas warisan orang tuanya, yakni mengunjungi warga DKI yang sedang sakit atau kesusahan. Itulah mengapa strategi ini minim pemberitaan karena memang Ahok menginginkan suasana yang lebih tenang tanpa gaduhnya media-media yang meliput.

    Ahok keliling ke rumah-rumah warga. Dicarinya orang yang sedang sakit dan kesusahan. Diperlakukan layaknya keluarga sendiri. Empatinya sudah terbentuk dari dulu. Ketulusannya tergariskan dari air mukanya. Ia tidak bisa menyembunyikan kepeduliannya yang besar kepada warganya.



    Ahok mengunjungi bapak ini yang sedang terbaring sakit. Coba lihat gesture Ahok dan bapak ini. Ahok tidak bisa menyembunyikan rasa simpatinya yang besar. Apalagi mengatakan, “Pak Anies sudah menjenguk belum?” Ketulusan takkan pernah menjatuhkan orang lain. Ketulusan merupakan upaya yang menihilkan balasan.

     
    Ahok terus blusukan memasuki gang-gang sempit tanpa sorotan kamera wartawan. Ditemuinya orang-orang tua yang tak mampu lagi berjalan. Memberikan mereka kursi roda. Betapa senangnya warga yang sakit tersebut saat seorang pelayan rakyat menyambangi mereka. Mendengar keluh kesah mereka. Memperlakukan mereka dengan kasih yang paling tulus. Dan berusaha meringankan beban sakit mereka.

      

    Ketulusan Ahok ini dianggap hina oleh banyak orang yang ngakunya paling beragama. Saat (Almarhumah) Nenek Hindun mendapat kursi roda dari Ahok, lantas ia dituduh pendukung penista. Saat ia meninggal, mereka tidak mau menshalatkannya. Orang-orang ini telah mati akal dan nuraninya. Demi Pilkada sesaat, bisa-bisanya mereka memutus hubungan yang sudah berpuluh-puluh tahun terjalin.

     
    Mereka tak rela orang yang sudah susah dibantu dan mendapat kebahagiaan di hari-hari akhir hidupnya. Lebih baik orang tersebut menderita yang penting jangan pilih penista. Inilah Pilkada paling menyesatkan dalam sejarah demokrasi negeri kita.

    Selain membesuk orang sakit, Ahok juga menyempatkan diri melihat langsung beberapa rumah warga yang memprihatinkan. Dari sinilah sebuah cerita unik tentang masa depan Jakarta yang lebih cerah berawal.
    Ahok melihat beberapa warga yang mempunyai tempat tinggal tak layak. Atapnya bocor, dindingnya rusak, pokoknya keadaannya sangat memprihatinkan. Dari situlah ia memikirkan untuk menciptakan satu pasukan baru lagi untuk warga DKI Jakarta, yakni Pasukan Merah.

    Ahok berjanji jika ia terpilih lagi. Ia akan membentuk Pasukan Merah ini yang kerjanya memperbaiki rumah-rumah warga yang sudah tidak layak.

    Dengan ide membentuk Pasukan Merah ini, sebenarnya menepis hingar bingar dari lapak sebelah yang meneror warga bahwa Ahok akan menggusur ratusan pemukiman. Ahok bukan menggusur, tapi merelokasi orang-orang yang tinggal di bantaran sungai. Untuk orang-orang yang tidak tinggal di bantaran sungai, Pasukan Merah akan mengurus rumah mereka.

    Dari semua cerita ini, apa yang Ahok dapat? Tentu bukan pemberitaan media yang mampu menaikkan elektabilitasnya. Tapi, yang Ahok dapat adalah “DOA”. Doa dari orang-orang yang sakit dan kesusahan. Bukankah doa orang-orang itu makbul?

    Apa yang Ahok lakukan takkan pernah bisa ditiru oleh lawannya. Mengapa? Karena yang Ahok lakukan memang benar-benar tulus. Dimana ketulusan tidak bisa dilakukan oleh mereka yang tengah mengeluh masalah dana kampanye.

    Demikianlah bocoran dari Bang @kurawa. Saat ia membuat kultwit ini, ia pun takut jika Ahok marah membongkar rahasianya ini. Tapi, bukankah “nikmat Tuhan” harus diberitakan? Sesuai dengan ayat “Wa amma bini’mati rabbika fahaddits

    Penulis : Muhammad Nurdin  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jurus Pamungkas Ahok Pada Kampanye Putaran Ke-2 (Warisan Orang Tuanya) Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top