728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 21 Maret 2017

    Jawaban Telak Kang Emil Bungkam Status Provokatif Jonru

    Saat deklarasi Ridwan Kamil sebagai calon gubernur Jabar oleh Partai Nasdem, Jonru kebakaran jenggot. Ia menulis status yang tidak terlalu panjang dengan nada kecewa berat. Mengapa? Sebab, Nasdem adalah partai pendukung Ahok. Itu artinya, Nasdem adalah partai pendukung penista. Masa Ridwan Kamil mau didukung oleh partai pendukung penista.

    Jonru menulis:

    Selama ini saya mengagumi beliau. Saya sering memuji prestasi beliau. Namun ketika beliau berbuat salah, maka saya pun tak segan-segan mengkritiknya.

    Termasuk ketika Ridwan Kamil memutuskan untuk maju di Pilgub Jabar, didukung oleh parpol pendukung penista agama. Hm.. rasanya kekaguman saya untuk Ridwan Kamil harus berkurang cukup besar.

    Saya mengagumi kepemimpinan Ridwan Kamil selama ini. Saya mengagumi sikapnya yang humoris, merakyat, dan mengutamakan kepentingan rakyat.

    Namun begitu melihat dia mendekat ke Jokowi (ingat kasus ketika dia batal mencalonkan diri sebagai cagub DKI setelah ngobrol dengan Jokowi?), juga setelah dia merapat ke parpol pendukung penista agama, saya jadi paham bahwa politik tetaplah politik, di mana KEPENTINGAN menjadi sesuatu yang paling sakral, jauh lebih sakral di atas IDEALISME.

    Bagi Jonru, siapapun yang dekat dengan Jokowi atau pernah dekat dengan Jokowi atau yang pernah ngobrol dengan Jokowi, lalu memiliki pandangan-pandangan politik yang mulai bersebrangan dengan dirinya, orang tersebut harus ikhlas dieksploitasi oleh Jonru.

    Tapi sayangnya, Ridwan Kamil enggak mirip dengan Jokowi. Kalau Jokowi yang sudah kenyang digosipin Jonru enggak akan pernah memberikan reaksi. Untuk apa? Wong lagi cari makan. Lebih baik ngurusin embek yang baru lahir. Haha..

    Kalau Ridwan Kamil, ia akan sebisa mungkin mengklarifikasi keberataan atau tuduhan orang yang dialamatkan kepada dirinya. Dan saya melihat, status Ridwan Kamil di Facebooknya hari ini merupakan jawaban atas status Jonru yang merasa kecewa.

    Apa saja jawaban dari Walikota Bandung ini yang akrab dipanggil Kang Emil.

        Menjadi cagub itu resminya jika sudah mendaftar ke KPUD. Dalam perjalanannya masih banyak belokan dan lika-liku. Bisa seperti tokoh-tokoh di Jakarta yang heboh2 di awal ternyata tidak jadi. Bisa seperti yang sudah didkelarasikan eh bisa berubah di hari H-1 oleh nama baru.
        Hari ini sebagai independen sifatnya menerima dengan baik aspirasi siapapun yang berniat baik mendukung. Adabnya berterima kasih ketimbang menolak yang terkesan sombong. Toh keputusan pastinya masih jauh. Esok lusa ada tambahan dukungan ya ditunggu, tidak juga ya diterima saja takdirnya.

    Kelihatan memang Jonru ini enggak ngeri politik, tapi merasa yang paling tahu. Bisa saja kan Kang Emil sekarang didukung Nasdem, tapi kita tahu kedepannya gimana? Belum lagi masalah Pilpres 2019 dimana getarannya mulai terasa di Jakarta, kini mulai merambat ke Jawa Barat. Jonru ngomongin idealisme padahal politik enggak mengenal itu.

    Memangnya, siapa sih yang paling enggak idealis di Pilkada DKI? Ya, orang yang didukung oleh PKS. Dulu punya sikap begini, tapi kini punya sikap yang lain. Dulu bilang rumah murah begini, sekarang malah bilang lain. Dulu bilang “tegas” akan hentikan reklamasi, sekarang akan ikut aturan. Idealisme macam apa ini?

    Kalau dilihat dari komposisi pertarungan Pilpres 2019 nanti, Gerindra dan PKS justru yang tidak akan menggandeng Kang Emil untuk maju. Gimana mau maju, Istrinya Kang Aher sudah mulai didaulat. Ingat, politik dalam Bahasa Arab itu bernama “siyasah” yang berarti siasat, adu strategi. Justru Jonru terlalu naïf sekali berbicara idealisme dalam politik.

        Kenapa dengan partai ini atuh. Kenapa tidak dengan partai2 terdahulu? karena partai2 terdahulu, sudah dikomunikasikan, namun belum ada jawaban. belum pasti juga mau. dan masing-masing punya jadwal dan prosedur sendiri yang harus dihormati. Boro geer gede rasa pasti didukung, apek teh ternyata teu jadi?
        Setiap pilihan situasi politik selalu ada yang suka juga tidak suka. Saya sudah melaluinya di tahun 2013. Setengah pertemanan saya balik kanan karena saya maju pilwalkot didukung partai. Sedih? iya. Tapi saat itu dilalui saja prosesnya dengan ikhlas. Dan dibuktikan dengan bekerja dengan maksimal saat terpilih jadi walikota. Sebagian pertemanan itu tidak balik lagi.
        Orang berpikir ini semata syahwat politik? kalo ikut shahwat mah, Bandung sudah ditinggalkan ikut nyagub di DKI kemarin. Tahun depan 2018 itu saya menggenapkan tugas sebagai walikota selama 5 tahun. Selesai on time.

    Janji Bandung belum beres? betul. Namun masih ada 2 tahun anggaran 2017 dan 2018 untuk dibelanjakan mengejar sisa mimpi.

        Tidak terpilih lagi? tidak masalah, da saya mah bukan pengangguran. tidak punya niat cari nafkah dari politik. Kembali jadi dosen dan arsitek adalah kebahagiaan yang kembali pulang,
        Jadi jika sekarang ada yang bully, “saya akan jadi pembenci akang sekarang”, “maaf saya unfollow” , “bye kang RK” dkk itu sudah takdiran berpolitik. Tidak akan baper. Karena politik adalah cara memperjuangkan nilai dan cita-cita. Dan dalam prosesnya tidaklah akan pernah, sampai kapanpun, menyenangkan semua orang. Tinggal karya dan pengabdian yang akan menjawab semua itu.

    Saya sudah kehabisan kata-kata untuk menafsirkan jawaban-jawaban telak Kang Emil ini. Semua keberatan dan rasa kekecewaan Jonru telah terjawab secara lengkap disini.

    Memang siapa Jonru itu? Apakah dengan rasa kekecewaannya itu Jabar bisa bebas dari banjir? Apakah dengan kepeduliannya dengan Jabar permasalahan kerusakan hutan lindung di Jabar bisa teratasi?

    Siapa Jonru itu? Apakah kendali politik ada di tangannya? Bukankah banyak politisi yang gagal dalam kontestasi politik “gara-gara” foto bareng dengannya? (yang ini asli becanda, hahaha)

    Saya bersyukur ada orang seperti Jonru. Mengapa? Pertama, kita bisa mengetahui bahwa masih banyak orang-orang dungu di luar sana yang termakan status-status provokatifnya. Kedua, memudahkan kita untuk memilih pilihan politik. Pokoknya, apa yang sedang dihantam oleh Jonru, itulah yang harus didukung. Ketiga, silahkan diisi yah…

    Kalau sudah diisi, nanti ambil sepedanya di TPS 212 Kelurahan Bumi Datar.


    Penulis :  Muhammad Nurdin  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jawaban Telak Kang Emil Bungkam Status Provokatif Jonru Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top