728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 09 Maret 2017

    Jacob Zuma Ikutan “Tampar” Anies, Ahok “CEO” Publik Kelas Dunia

    Adalah Presiden Jacob Zuma yang mengatakan Gubernur yang berkomitmen, Afrika Selatan tahun 2016 adalah negara dengan perekonomian terbesar di benua Afrika dengan nilai US$ 301 miliar.

    Jelas perkataan seorang Presiden bukanlah basa-basi semata.

    “Diskusi yang sangat menyenangkan. Tentu kami akan bekerja sama dengan Pak Gubernur, he has a lot of commit (commitment), he has a lot of promise,” kata Zuma mengenai Ahok yang dinilainya berkomitmen dalam pekerjaan itu.(viva.co.id)

    Beberapa hari yang lalu kita melihat sosok Raja dari negara Arab Saudi saja mau bersalaman dan menerima Ahok sang penista agama, maka hari ini giliran Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma yang mau “menepuk lengan kiri Ahok”. Pertanda apakah ini, apakah sebuah berkat, atau kekaguman ?

    Liat saja, ekspresi wajah, senyum lebar dan gestur tubuh yang santai, jelas memperlihatkan sebuah sikap tulus dan penuh kejujuran. Ternyata Ahok Gubernur DKI Jakarta, namanya sudah terkenal hingga ke negara di ujung selatan benua Afrika.

    Jelas saja Ahok gembira dan sumringah, bukan lantaran sang Presiden, karena Jakarta akan menjadi sister city-nya Cape Town. Jakarta memang kota metropolitan tetapi belum pernah lagi menggelar acara atau event olah raga sekelas Final Piala Dunia.

    “Tadi dia kayaknya berkati saya saja. Tepuk-tepuk hahaha,” ujar Ahok sambil bercanda di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (8/3/2017).

    Ahok memang sangat cerdas dalam melihat peluang, buktinya langsung bisa membuat keputusan untuk mempromosikan kepulauan Seribu. Intuisi bisnisnya segera disampaikan pada Jacob bahwa disana ada peluang pembibitan ikan dan pengolahannya. Kalau kerjasama ini dapat terjadi maka dapat dibayangkan, mereka akan go internasional, efeknya jelas memberi nilai tambah dan kesejahteraan bagi masyarakat kepulauan Seribu.

    Kedekatan dengan Susi Pujiastuti memang tidak sia-sia, daripadanya Ahok belajar tentang illegal fishing dan potensi kelautan. Faktanya bahwa banyak area penangkapan ikan di banyak laut atau samudra sudah mengalami kelangkaan ikan akibat over fishing. Beruntung Pakde Jokowi berani mengambil keputusan antimainstream sehingga tidak peduli dengan “ijasah” Susi, bayangkan saja kalau Indonesia terlambat menata perikanan lautnya, bisa-bisa sekarang nelayan kita sudah tidak melaut lagi.

    Ahok juga berpikir kalau kerjasama ini akan diberikan kepada BUMD supaya belajar berbisnis di level internasional. Panggung sudah digelar oleh Ahok, semoga saja para bos BUMD tidak minder terhadap kerjasama dengan bangsa lain. Bagaimana para bos BUMD apakah sudah siap go internasional, atau mau menyusu terus dari dana APBD ?

    Bonus lainnya adalah potensi pariwisata di kepulauan Seribu, tentu keramaian yang dapat tercipta dapat menciptakan lapangan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kata Ahok kalau perut rakyat kenyang maka isu-isu yang berbau SARA akan pudar dengan sendirinya. Wong bisnis saja enak kok, malah mau ngomong benar tidaknya agama orang lain. Yah . . . agama itu jelas penting tetapi tidak perlu diblow up perbedaannya, lha wong titik tolaknya saja sudah beda kok.

    Inilah kehebatan Ahok dapat memanfaatkan setiap momen dan celah untuk kemaslahatan masyarakat, dan tidak memiliki ambisi untuk memperkaya diri sendiri. Gaji sebagai Gubernur sudah lebih dari cukup, tidak perlulah menimbung kekayaan sampai bertriliunan kalau akhirnya harus mengembalikan hasil suapannya, karena takut dikejar KPK. Aduh kena lagi deh teman-teman DPR mantan komisi II pada jaman pak mantan.

    Kira-kira pemimpin negara mana lagi ya yang akan mengundang Ahok untuk sharing ilmu dan komitmennya ?

    Ahok versus Anies

    Kalau untuk ini susah ya dibandingkan kalau harus “apple to apple”, apalagi dalam program kerja di kampanye Pilkada DKI kali ini. Ahok program kerjanya terarah, terencana dan terlaksana walau sebagian on progress, sedangkan Anies baru sebatas mimpi atau khayalan, yang masih harus direvisi sana sini, eh masih harus pakai acara salah data dan “ngeles”.

    Contoh program orsinil Anies nih, hanya flashback di putaran satu. Yaitu program perumahan rakyat mulai DP 0% sampai menjadi program pembiayaan, lihat saja transformasi program ini, selalu direvisi begitu dipertanyakan kelayakannya. Gambaran yang pas adalah program kerja Anies sama seperti mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir, revisi disana-sini sampai akhirnya kesimpulan akhirnya anti klimaks.

    ATM

    Setelah program kerja orsinil akan mustahil dijalankan, Anies menggunakan jurusnya motivator Tung Desem Waringin yaitu ilmu ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi).


    Jurus ATM ini sepertinya akan menjadi salah jurus untuk memoles program yang sudah ada, lha wong cuma sederhana saja kok modusnya adalah memperbesar nominal manfaat bagi penerima kartu KJP plus. Semisal manfaat dari KJP buat SD dari Rp 2.520.000 menjadi Rp 3.000.000 dan seterusnya. Janganlah perlihatkan “kebodohan” dengan modus seperti ini, apakah ini kualitas seorang PhD lulusan Amerika Serikat ?

    Program sudah dimodifikasi, tinggal stempel pelaksanaan, logistik harus disebar, kampanye harus sampai lorong-lorong kampung dan supaya sedap rasanya harus diberi bumbu peringatan. Kampanye harus masif dan terstruktur, untuk urusan keindahan kota ntar dulu, karena masa kampanye bawaslu mendadak lambat memahami tempelan isu SARA dan masyarakat sungkan, mau protes ntar dikira syiah-lah, kafir-lah, liberal-lah, pki-lah dan seputaran itu. Apalagi mau nurunin, bisa-bisa malah terjadi percekcokan.


    Copy Paste

    Satpol PP dan Polisi mulai bergerak untuk menurunkan spanduk liar dan berbau SARA, melihat kejadian ini maka peluang muncul, para relawan paslon yang kalah, mulai unjuk gigi menawarkan bantuan seakan-akan bergabung. Khusus ini dapat dikelompokkan menjadi dua, relawan “bayaran” dan relawan beneran. Kesempatan dan celah ada maka tanpa rasa malu dan permisi, langsung saja dikeluarkan jurus “copy paste“-nya AHY.


    Apa tidak malu pak dan jijik sudah menjilat ludah sendiri ? Untuk seorang Anies sepertinya hal ini sudah pada taraf kebiasaan. Nada-nadanya Anies mengidap penyakit “mendadak amnesia” pada komentar singkat dan menusuk ke AHY terkait program  Rp 1M tiap RW,“bukan cara untuk memajukan Jakarta”.

    Inti dari semua program yang digagas Anies hanya satu, memberikan kemanjaan kepada masyarakat lewat manipulasi program bantuan tunai langsung. Apabila semua program yang ada dikumpulkan pertanyaan selanjutnya adalah
    1. Apakah budgetnya ada atau mencukupi ?
    2. Apakah DPRD akan menyutujui ?
    3. Apakah sudah dipikirkan efek pembelajaran ke masyarakat atau efek hukum yang mungkin timbul ?
    Bukankah dulu ingin menyediakan pancing dan kolamnya, kok sekarang malah ingin memberikan ikannya ? Ayo dong pak, smart dikitlah !

    Bandingkan dengan Ahok, semenjak menjadi pejabat publik prinsipnya adalah pejabat itu pelayan publik bukan ndoro atas rakyat. Makanya Ahok selalu konsisten memperjuangkan keadilan sosial, hal ini sudah dilakukan setiap hari lewat penerimaan masyarakat di Balaikota untuk dapat menerima masyarakat yang hendak mau mengeluh, komplain atau sekedar curhat minta kerjaan.

    Pertanyaan selanjutnay adalah Apakah Anies sudah siap dan mau menjadi pelayan publik setiap pagi di Balaikota, takutnya malah nantinya “ngaret”, “ngeles” atau “ngompor” ? Bisa berabe dong Jakarta.

    Ayat-ayat perang dipakai untuk kondisi damai

    Suasana kampanye putaran 2 akan lebih memanas, semoga saja eksploitasi ayat-ayat agama segera direspon cepat oleh Bawaslu. Kondisi yang membuat repot adalah kelompok garis keras yang ikut nimbrung “asal logistiknya menarik” dengan memperkosa ayat-ayat perang dipakai dalam kondisi damai. Penulis tidak ingin mengumpat atau terlalu kasar kepada Anies, hanya bisa mendefinisikan “dia” bukan “beliau” sebagai seorang yang naïf dan oportunis.

    Coba saja tenggok akan ciutan dari seorang ulama yang sedang berkarya di negara orang bule.
    Inilah cara kita membela al-Qur’an dg benar: menempatkan ayat suci dg terhormat, bukan membenamkannya dalam kubangan politik kebencian – kutipan dari Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD.

    Komitmen itu memiliki arti keteguhan hati dengan mau melakukan secara konsisten dan ketulusan hati 100%. Ahok sudah membuktikannya, penulis jelas gagal paham, bagaimana Anies akan mendefinisikan kata “komitmen” selama ini ?
    Bagaimana menurutmu ?

     Salam NKRI


    Penulis : Trik   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jacob Zuma Ikutan “Tampar” Anies, Ahok “CEO” Publik Kelas Dunia Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top