728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 12 Maret 2017

    Ini Jawaban Al Quran Mengenai Hukum Sholat Jenazah bagi Orang Munafik

    Saat ini media ramai mempersoalkan seruan larangan sholat jenazah bagi pendukung Ahok. Biasanya mereka akan menyitir surat At Taubah ayat 84 sebagai landasan hukum. Oleh karena itu sebelum ikut-ikutan aksi tercela tersebut, mari kita kaji ayat tersebut.

    وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

    Artinya: Dan janganlah kamu sekali-kali menyolatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (At Taubah: 84).

    Penyebab Turunnya Ayat (Asbabun Nuzul)

    Untuk menyatakan sebuah kesimpulan dari ayat atau mengambil hukum dari suatu kejadian, maka seseorang harus mengetahui dulu apa asbabun nuzul (penyebab turunnya ayat) dari ayat tersebut. Asbabun nuzul ini penting, sebab suatu ayat tidak akan diketahui makna dan hukumnya tanpa mengetahui asbabun nuzulnya. Asbabun Nuzul dari ayat di atas berkaitan dengan sikap munafik Abdullah bin Ubay. Berikut kisahnya:

    Sepulang Rasulullah SAW dari perang Tabuk, Abdullah bin Ubay menderita sakit. Mendengar Abdullah bin Ubay sakit, Rasulullah menyempatkan diri untuk membesuknya. Usamah bin Zaid bercerita: “Saya bersama Rasulullah mengunjungi Abdullah bin Ubay yang sedang sakit untuk membesuknya. Rasulullah mengingatkan Abdullah bin Ubay (si Munafik): “Bukankah saya sudah melarang kamu dari dahulu agar tidak mencintai orang-orang Yahudi?” Abdullah bin Ubay menjawab sekenanya, “Dulu Sa’d bin Zurarah membenci orang-orang Yahudi, kemudian Sa’d bin Zurarah mati.”

    Meskipun sudah dijenguk, ternyata Abdullah bin Ubay tetap saja membenci Rasulullah dan terang-terangan membela orang Yahudi yang saat itu berusaha membunuh Nabi dan memerangi kaum Muslimin di Madinah. Namun, Rasulullah yang agung tidak kehilangan sisi kemanusiaan. Beliau tetap menjenguk Abdullah bin Ubay dengan ikhlas.

    Pada bulan berikutnya, Abdullah bin Ubay wafat. Kesedihan merasuki hati Abdullah bin Abdullah, anak dari Abdullah bin Ubay. Beda dengan ayahnya, anak tersebut sangat mencintai Rasul. Ia bahkan rela jika harus membunuh ayahnya dengan tangannya sendiri karena sikap ayahnya yang sudah sangat keterlaluan membenci Rasul dan Islam. Tapi Rasulullah melarangnya dan berharap suatu hari ayah sang anak mendapat hidayah. 

    (catatan: nama anak Abdullah bin Ubay sama dengan nama ayahnya, Abdullah. Oleh karena itu ditulis Abdullah bin Abdullah bin Ubay)

    Sang anak tahu bahwa orang tuanya itu mungkin hanya pantas berada di neraka. Meski demikian ia ingin menunjukkan bakti terakhirnya. Ia amat sedih tatkala ayahnya meninggal masih dalam kemunafikannya dan belum bertaubat. Ia lalu menangis sambil menghadap Rasulullah.

    Abdullah bin Abdullah datang menemui Rasulullah, meminta salah satu baju gamis Rasul dijadikan sebagai kafan bagi Abdullah bin Ubay, ayahnya. Dan Rasulullah mengabulkan permintaan itu lalu memberikan kainnya kepada Abdullah bin Abdullah untuk menjadi kafan bagi jenazah ayahnya.

    Kemudian Abdullah bin Abdullah berkata lagi : “Ya Rasulullah tidak ada yang bisa menyelamatkan ayahku kecuali doa yang engkau panjatkan. Datang dan sholatkan ya Rasulullah …”

    Berdiri Rasulullah hendak berangkat tapi kemudian dihadang oleh Umar, “Ya Rasulullah, Allah melarang engkau mensholati mereka”.

    Dibacalah surah At Taubah Ayat 80 :

    ….. اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ

    Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). ”
    Berkata Umar “ Ya Rasulullah, Allah melarangmu memohonkan ampun mereka. Ia memfitnah Aisyah berzina, ia mengatakan akan mengeluarkan orang mukmin dari Madinah [ peristiwa perang Al Ahzab ]. Ia membuat fitnah. Ia memisahkan diri dari perang. Ia memecah belah kaum muslimin”.

    “Tidakkah engkau dengar wahai Umar? Tuhanku memberikan pilihan bagiku.. ‘engkau mohonkan ampun atau tidak engkau mohonkan ampun sama saja.’ maka aku akan memilih memohonkan ampun wahai Umar…” Lalu turunlah surah At Taubah Ayat 80 (lanjutan) :

    لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

    Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
    Rasulullah SAW berkata, “Maka hai Umar aku akan mohonkan ampun untuknya 70 kali ditambah 70 kali ditambah 70 kali.”

    Ketika itu Umar mundur sambil gemetar. Kata Umar,“Betapa lancangnya aku pada Rasulullah. Betapa mulianya akhlak Rasulullah. Betapa bening dan jernih sikapnya atas perintah Allah SWT.”
    Kemudian Rasulullah SAW mensholatkan Abdullah bin Ubay bin Salul, barulah kemudian turun keputusan dari Allah dalam Surat At Taubah Ayat 84 :


    وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ
    Demikianlah bentuk kecintaan Rasul pada umat nya dan kehati-hatiannya dalam bersikap. Orang yang sudah jelas-jelas berbuat keji, masih dimaafkan. Beliau tetap menghormati jenazahnya sampai dikuburkan. Padahal banyak sekali tingkah keji Abdullah bin Ubay, berikut beberapa tindakan munafiknya itu.

    Sikap Munafik Abdullah bin Ubay  
    1. Memfitnah Aisyah, istri Rasulullah
    Dalam perjalanan pulang saat kembali dari peperangan, rombongan kaum muslimin berhenti di suatu tempat di dekat Kota Madinah. Saat itulah Siti Aisyah menyadari bahwa kalungnya telah putus dan hilang. Maka, Siti Aisyah yang biasanya ditandu, segera kembali ke tendanya untuk mencari kalung yang hilang tersebut. Sementara, orang-orang yang membawa tandu Siti Aisyah tidak menyadari bahwa beliau tidak berada di dalamnya.

    Setelah sekian lama ia mencari kalung tersebut,namun kalung itu tak ditemukannya. Karena itulah Siti Aisyah kembali menuju tandunya. Namun, ketika sampai ia telah ditinggalkan rombongannya. Maka, Siti Aisyah hanya bisa pasrah. Ia berharap ada rombongan kaum muslimin yang kembali.

    Terlalu lama menungu, akhirnya Siti Aisyah terserang kantuk hingga akhirnya tertidur.Tanpa diduga, di saat itu muncullah salah seorang anggota rombongan yang bernama Shafwan bin Mu’athal as-Sulami adz-Dzakwani ra lewat. Shafwan ini bertugas sebagai anggota pasukan paling belakang. Melihat ada orang yang tertinggal, 

    Shafwan segera menjenguknya. Namun, setelah mengetahui yang tertinggal itu adalah Ummul Mukminin, Siti Aisyah ra. Shafwan pun segera memberikan tunggangan untanya kepada Siti Aisyah ra. Sedangkan Shafwan sendiri berjalan kaki sambil menuntun unta yang ditunggangi oleh Siti Aisyah ra. Mereka berdua akhirnya berhasil menyusul rombongan kaum muslimin yang sedang beristirahat.

    Orang-orang yang menyaksikan kedatangan Ummul Mukminin bersama Shafwan, muncullah desas-desus terhadap hubungan keduanya. Orang munafik seperti Abdullah bin Ubay bin Salul memfitnah bahwa Siti Aisyah telah berselingkuh dengan Shafwan. Fitnah itu dengan cepat beredar hingga di Madinah sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum Muslimin.
    1. Mengumpulkan orang-orang disekelilingnya untuk mejadi pengikutnya
    Berkali-kali Al Quran menunjuk orang ini sebagai sosok kontroversi dalam tutur kata dan perbuatannya yang merugikan Islam dan kaum Muslimin. Hampir setiap ada fitnah yang menimpa kaum Muslimin di Madinah selalu ada peran Abdullah bin Ubay sebagai provokatornya.

    Saat di Madinah, Abdullah bin Ubay mengumpulkan orang-orang disekelilingnya untuk dijadikan pengikut pengikutnya. Segala sesuatu telah disiapkan sehingga sewaktu waktu siap sedia merebut kekuasaan. Rencana itu akan mereka laksanakan bilamana Nabi Muhammad SAW tidak ada lagi.
    1. Membuat fitnah antara kubu Muhajirin dan Ansor
    Ketika Rasulullah SAW mendengar pimpinan Banu Musthaliq, Al Harits bin Abu Dhirar menghimpun pasukan untuk memerangi kaum muslimin, Beliau menyusun pasukan dan segera berangkat ke tempat Banu Musthaliq. Dalam pasukan yang dipimpin sendiri oleh Nabi ini ikut juga sekelompok kaum munafik, termasuk pimpinannya, Abdullah bin Ubay.

    Setelah pertempuran usai dan dalam perjalanan kembali ke Madinah, Abdullah bin Ubay berkata pada kelompoknya, “Jika kita kembali ke Madinah, orang-orang yang terhormat akan mengusir orang-orang yang terhina.” Ucapan “terhina” ini dimaksudkan pada Rasulullah SAW dan sahabat Muhajirin yang terusir dari Makkah.

    Ketika kabar ini sampai kepada Nabi SAW lewat sahabat Zaid bin Arqam, Umar bin Khaththab meminta Nabi menyuruh Abbad bin Bisyr untuk membunuh tokoh munafik tersebut. Tetapi Abdullah bin Ubay mengingkari kalau telah mengatakan itu, sehingga terjadi suasana yang tegang dan penuh prasangka, sampai akhirnya turun Ayat yang membenarkan Zaid bin Arqam.

    Dalam beberapa versi disebutkan Umar bin Khattab mengatakan, “Ya Rasulullah kupenggal saja orang yang mengatakan ‘Akan kukeluarkan orang hina itu (orang mukmin) dari Madinah’ ““Tidak wahai Umar. Nanti apa kata orang bahwa Muhammad membunuh sahabatnya. Demi Allah tidak.”

    Dari paparan di atas saya memberi kesimpulan, bahwa yang dikategorikan munafik adalah mereka yang jelas-jelas merusak Islam, merugikan umat. Apakah Ahok merugikan Islam? tidak! Ia bahkan sangat menghargai marbot masjid untuk diberangkatkan umroh. Suatu hal yang tidak pernah dilakukan Gubernur Jakarta bahkan sejak Indonesia berdiri. Ia bahkan ‘menampar keras’ orang yang mencoba korupsi. Ia membuat gebrakan dengan program yang menguntungkan semua pihak. Bagaimana mungkin orang seperti ini disebut munafik? Dan bagaimana pula yang memilih Ahok ikut-ikutan di cap munafik? Sungguh tak masuk akal!

    Pemilih Ahok bukanlah orang munafik. Orang munafik itu yang jelas-jelas merusak agama dan bangsa. Ini hanya masalah Pilkada, dan tak layak bagi seorang untuk menghukumi orang lain sebagai munafik, seperti halnya Tengku Zulkarnain, Wasekjen MUI yang getol sekali menghimbau untuk tidak menyolatkan jenazah sesama Muslim. Rasulullah saja yang diberi wahyu, yang sudah diperlakukan tidak baik masih sangat hati-hati, bagaimana bisa seseorang (yang hanya manusia biasa) kemudian dapat dengan mudah memfitnah orang lain mengatakan munafik?

    Mari kita pilih Paslon sesuai hati nurani kita. Pilih pemimpin yang bekerja keras dan anti korupsi. Jangan sekali-kali pilih pemimpin yang menggunakan isu agama seperti ini sebagai bentuk kemenangan. Sekali isu agama ini bergulir, maka akan digunakan senjata selanjutnya untuk membenarkan tindakan-tindakan tercela lainnya.

    Penulis :  Anisatul Fadhilah   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ini Jawaban Al Quran Mengenai Hukum Sholat Jenazah bagi Orang Munafik Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top