728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 02 Maret 2017

    Duet BTP-PKB Akankah Terulang Kembali?

    Berita di media hari ini didominasi oleh berita mengenai Raja Salman dan segala kegiatannya di Jakarta, namun ada berita yang tidak kalah penting untuk dibahas agar tidak luput dari perhatian warga DKI Jakarta yang nanti masih akan melaksanakan Pilgub putaran ke-2. Berita apakah itu kura-kura?

    Berita itu adalah potensi kembalinya kerjasama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan partai yang mengusungnya saat di Pilgub Bangka Belitung beberapa tahun silam. Hal yang sangat menarik apabila pada akhirnya PKB akan mengusung Ahok kembali seperti dulu, saat Ahok-PKB yang diterpa isu SARA demi menjegal agar Ahok menang di Pilgub. Pada akhirnya membuat alm. Gusdur merasa harus turun tangan mengatasi isu SARA di Pilgub Babel waktu itu walaupun berakhir antiklimaks bagi Ahok waktu itu.

    Seakan bernostalgia masa lalu, kini Ahok berpotensi kembali mendapat dukungan dari PKB setelah hari ini Ahok kedatangan Wasekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Daniel Johan hari ini. Memang kedatangan Wasekjen PKB tersebut masih sebatas penjajakan mengenai mencari kesamaan visi-misi antara paslon dengan partai pengusung, PKB belum memastikan akan mendukung Ahok-Djarot ataupun Anies-Sandi secara partai, mereka masih akan menemui Anies-Sandi untuk mencari kesamaan visi-misi.

    Namun hal ini harus diberikan apresiasi tinggi. Karena setelah kalahnya AHY-Sylvi yang diusung oleh PKB ada anggapan bahwa seluruh suara pendukung AHY akan dialihkan ke Anies-Sandi yang ternyata secara tidak langsung sudah terbantahkan dengan munculnya sikap partai hari ini, berita bahwa Anies-Sandi hampir pasti mendapatkan suara para pendukung AHY-Sylvi musnah sudah.

    Layaknya pemilu dengan dua putaran seperti yang pernah terjadi, timses maupun partai pengusung sejatinya harus mampu meyakinkan dulu partai lain bahwa calon yang mereka usung memang baik secara program kerja demi memajukan Jakarta, tidak dengan cara klaim sepihak bahwa suara pendukung pasangan yang kalah duluan akan pindah begitu saja kepada mereka.

    Pemikiran semacam ini sejatinya sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, karena pemikiran semacam ini akan memberi kesan bahwa Indonesia adalah tempat yang ekslusif, karena hanya agama tertentulah yang bisa menjadi pemimpin rakyat di negara ini. Bukankah di mata negara semua warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Seperti yang ada di UUD 1945 khususnya pasal 28D (3) yang berbunyi

        “Setiap orang berhak untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan”

    Setiap orang di Indonesia memiliki kesamaan hak untuk duduk di dalam pemerintahan dan juga menjadi bagian dari pemerintah, hal tersebut sudah termaktub dalam UUD bukan? Mengapa kita berusaha menghalangi warga negara mendapatkan hak nya?

    Kembali lagi kepada pemberitaan PKB tadi, berita ini selain menjadi angin sejuk bagi Ahok-Djarot namun juga menjadi alarm bagi mereka, walaupun disadari bahwa kasus yang menimpa Ahok lebih ke arah politis namun tidak seluruh simpatisan PKB menyadari hal tersebut. Apabila PKB pada akhirnya mengalihkan dukungannya kepada Ahok-Djarot, paslon tersebut perlu meyakinkan seluruh simpatisan maupun kader PKB bahwa apa yang menjerat mereka hanyalah sebuah kasus yang dipolitisasi, tidak pernah murni karena penistaan agama.

    Apabila melihat program yang ditawarkan dua paslon yang tersisa di DKI ini, seharusnya PKB akan mengalihkan suara partainya kepada pasangan petahana, melihat kinerja yang ditunjukkan mereka selama periode pertama, tingkat pembangunan di Jakarta dan juga program yang ditawarkan untuk periode kedua maka pasangan petahana memiliki potensi lebih untuk diusung PKB di putaran kedua nanti.

    Saat ini PKB sendiri secara dukungan kader masih terbelah, para petinggi partai masih harus menampung segala aspirasi seluruh kader PKB, ulama Nadhlatul Ulama maupun Tokoh Masyarakat demi mendapatkan keputusan akhir mengenai bagaimana posisi partai dalam Pilgub putaran kedua nanti. Singkatnya, Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi sejatinya masih harus bertarung mencari dukungan dari partai pengusung AHY-Sylvi yang sudah tumbang di putaran pertama sebelumnya, kemenangan Anies yang begitu digaungkan setelah AHY tumbang sejatinya hanyalah sebuah ilusi.

    Bagaimana mungkin perubahan suara dalam politik hanya sebatas hitungan matematika yang sekedar tambah,kurang maupun kali dan bagi? Memangnya dengan kalahnya AHY maka semudah itu Anies akan mendapatkan seluruh suara AHY di putaran pertama kemarin? Entah itu pemikiran yang sempit atau memang orang-orang yang meyakini hal tersebut sudah menutup otaknya sendiri demi membenarkan apa yang mereka yakini tanpa memikirkan apa yang mereka yakini sudah benar atau salah.

    Namun politik adalah hal yang dinamis, apa yang kita lihat hari ini, mampu berubah dengan cepat hanya dalam hitungan hari bahkan jam. Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi masih sama peluangnya untuk mendapatkan PKB untuk mengusung mereka di putaran kedua nanti, akan tetapi menarik apabila nantinya PKB akan memilih Ahok untuk mereka usung.

    Apabila PKB akhirnya mengusung Ahok-Djarot, sejatinya ini akan menjadi sebuah nostalgia lama yang terulang kembali, yaitu ketika PKB dan Ahok berjalan beriringan layaknya Pilgub di Babel beberapa tahun lalu, dan juga usungan PKB kepada Ahok nantinya akan membuat mereka akan mampu menyelesaikan keinginan mereka yang dahulu pernah terhenti karena tumbangnya Ahok di Pilgub Babel kala itu.

    Dukungan PKB kepada Ahok nantinya akan menjadi angin yang sangat sejuk bagi Ahok, dan mungkin akan jadi pembeda bagi suara Ahok di putaran kedua nanti. Dukungan ini sangat berpotensi meruntuhkan asumsi orang-orang bahwa kasus Ahok murni bersifat agama, tidak ada urusan politis di dalamnya. Dan mungkin dukungan PKB kepada Ahok akan menjadi penanda awal bahwa di putaran kedua Pilgub DKI ini, isu SARA ini akan menjadi isu yang tidak akan laku lagi dijual.

    Apakah yang kita inginkan dari setiap Pemilu yang diadakan di negara ini? Bukankah mengenai keinginan untuk memunculkan gagasan-gagasan baru yang ditawarkan dalam bentuk program-program kerja demi memajukan bangsa dan negara ini. Bukan berdebat mengenai kepantasan setiap orang untuk duduk menjadi bagian dari Pemerintah.

    Dan untuk anda yang masih sulit menerima kenyataan bahwa negara melindungi setiap hak warga negaranya untuk memperoleh kesempatan yang sama di Pemerintahan, mungkin anda perlu berpikir kembali, bagaimana jika hal tersebut menimpa anda? Padahal anda dilindungi UU.

        “I try to be as honest about what I see and to speak rather than be silent, especially if it means I can save lives, or serve humanity”
        Sandra Cisneros

    Kura-kura begitu…


    Penulis : Chairul Rizky    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Duet BTP-PKB Akankah Terulang Kembali? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top