728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 27 Maret 2017

    Djarot: “Jangan Dibalas, Doain Mereka Ya…”

    Jika kita yakin bahwa Ahok dan Djarot adalah pasangan serasi, maka wajib bagi kita menyokong mereka. Jika kita percaya bahwa Ahok dan Djarot adalah negarawan sejati, maka wajib bagi kita mendukung mereka. Jika kita tak meragu bahwa Ahok dan Djarot adalah pemimpin terbaik kita untuk Jakarta, maka wajib bagi kita untuk mengikuti perilaku dan perkataan baiknya.

    Telah dipesankan oleh Pak Dhe Jokowi saat meresmikan Tugu Nol Kilometer di Barus, bahwa kita harus merawat keberagaman. Keberagaman dan kemajemukan itulah identitas Indonesia. Keberagaman dan kemajemukan itulah kekuatan terbesar kita.
    Saat ada kelompok-kelompok yang tidak suka dengan keberagaman dan kemajemukan ini, dan berusaha untuk menghancurkannya, maka harus kita lawan. Kita melawan dengan cara merawat dan mendoakan mereka.

        Ingat kata Djarot, “Saya juga sering digituin, dibilang kafir, atau masuk neraka. Waduh, kok mendahului Tuhan? Sombong banget. Jangan dibalas, doain mereka ya, pendukung Badja tidak boleh marah-marah” (megapolitan.kompas.com, 26/3/17).

    Seperti itulah kebaikan Djarot. Sebagai seorang wakil gubernur, moralitas pimpinan dalam diri Djarot itu patut untuk dicontoh. Meski beliau juga diejek, dibilang kafir, dibilang masuk neraka, beliau tidak mau membalas. Bahkan beliau malah menyuruh pendukungnya untuk mendoakan para penuduh.

    Eloknya memiliki seorang pemimpin seperti ini. Seorang pemimpin yang memiliki jiwa luhur dan pekerti yang baik. Keikhlasan untuk menerima segala ejekan, cibiran, tuduhan dan membalasnya dengan doa, adalah sikap yang warbiyazaaaa! Sebagai pendukung Ahok-Djarot, perkataan dan sikap pemimpin seperti itu layak untuk ditiru.

    Ini sebagai ikhtiar untuk merawat keberagaman kita. Meski kita disakiti, maka kita balas mereka dengan kebaikan. Kita doakan mereka agar selamat dan kembali ke jalan penuh rahmat.

    Begitu pula yang terjadi dalam diri Ahok. Ahok sudah pasrah. Kalau Tuhan ingin jadikan ia gubernur, maka ia bakal bekerja semaksimal mungkin. Kalau Tuhan tak jadikan ia gubernur, maka itu sudah keputusan Tuhan. Yang paling penting adalah bagaimana bekerja sampai masa tugas berakhir.

    Sikap Ahok, dalam falsafah Jawa adalah sikap sumarah. Sikap pasrah diri karena sadar bahwa kemanusiaan itu memiliki pelbagai kelemahan di hadapan Tuhan. Tuhan lah segala penentu keputusan. Manusia hanya mampu ikhtiar.

    Ikhtiar, atau usaha manusia itu adalah bagian dari proses perjuangan. Maka, jika Ahok menyitir ungkapan Arab, “man jadda wa jadda” (barang siapa bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkan), itulah hebatnya Ahok. Sikap sumarah dikombinasikan dengan kebijaksanaan Arab, akan menyadarkannya bahwa sebagai seorang manusia, ia memiliki ketundukan dan kepasrahan kepada Sang Pencipta.

    Tugasnya sebagai pemimpin adalah bekerja! Tanpa harus memandang apa agama, suku, ras, golongan masyarakatnya.

        Kata Djarot pada sebuah kesempatan, “apa kalau mau kasih program KJP, ditanya eh agamamu apa? Kemudian kalau sakit, biaya gratis, ditanya dulu eh agamamu apa? Atau kalau mau naik Transjakarta gratis, ditanya agamanya apa? Enggak!” (megapolitan.kompas.com, 26/3/17)

    Inilah kewarasan nalar pemimpin kita. Pemimpin yang tak memandang tentang identitas kemanusiaan karena yang ada hanyalah bagaimana memuliakan dan mensejahterakan rakyatnya. Pemimpin seperti inilah yang wajib diikuti dan didukung.

    Jiwanya diliputi oleh ke-sumarah-an, kepasrahan, dan sikap seorang negarawan sejati, yang memiliki itikad untuk memperbaiki masyarakat tanpa memandang SARA.

    Jadi, meskipun saudara kita di sebelah terus menerus menekankan tuduhan munafik bahkan kafir, kita dengarkan pesan dari Djarot: “Jangan dibalas, doain mereka”.

    Kita berdoa, tidak untuk diri kita sendiri dan keluarga kita. Tapi kita juga berdoa untuk orang banyak, untuk mereka, agar doa kita tidak egois. Justru mendoakan orang lain itulah yang utama, karena dengan begitu, Tuhan akan membalas doa kita.

    Kebanyakan kita kadang luput. Kita sibuk berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan diri dan keluarga tapi lupa mendoakan orang lain. Jika mendebat dan membantah mereka, tidak mampu menyadarkan mereka, maka kita doakan mereka agar mendapatkan hidayah.

    Kita percayakan kepada Tuhan. Sebab, Tuhan pernah berfirman, “ud’uni fastajiblakum” (berdoalah kepadaKu, niscaya Ku kabulkan). Kita berdoa agar mereka diberi hidayah dan cahaya oleh Tuhan, supaya jalan hidup mereka terang dan sadar bahwa tindakannya selama ini salah-kaprah.

    Berdoa, MULAI!
    .
    .
    .
    Sekian. Terimakasih.

    Penulis : Slamet Wicaksono   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Djarot: “Jangan Dibalas, Doain Mereka Ya…” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top