728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 09 Maret 2017

    Dengan Apik, Saksi Fakta Menampik Tuduhan Penistaan Agama terhadap Ahok

    Sejak kasus penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta non-aktif, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok muncul ke ruang publik, banyak orang bertanya-tanya, “Apakah benar Ahok menista agama?”

    Pertanyaan yang sederhana itu tampaknya sulit untuk dijawab. Setidaknya, sampai sejauh ini belum ada orang yang sepakat mengatakan bahwa mantan bupati Belitung Timur itu benar-benar menista agama atau tidak. Selalu saja ada orang yang mengatakan bahwa Ahok menista agama, dan ada pula orang yang bilang bahwa Ahok sama sekali tidak menista agama.

    Pada hari Selasa, 07 Maret 2017 yang lalu, Ahok kembali mengikuti sidang. Inilah sidang ke-13 untuk kasusnya. Seperti biasa, setiap sidang selalu menghadirkan wajah-wajah baru sebagai saksi, entah sebagai saksi pelapor, saksi ahli, maupun sebagai saksi fakta.

    Sudah sekian banyak orang yang dihadirkan sebagai saksi, namun belum ada satu saksi pun yang betul-betul memberikan keterangan yang tegas mengatakan bahwa Ahok menista agama. Justru sebaliknya, sebagian besar dari kesaksian yang mereka berikan bisa meringankan tuduhan terhadap Ahok.

    Bahkan, saksi fakta jelas-jelas mengatakan bahwa Ahok tidak menista agama. Seorang saksi fakta yang dihadirkan kubu Ahok pada hari Selasa, 07 Maret 2017 yang lalu, Bambang Waluyo Djojohadikusumo, politikus Partai Golkar yang ikut dalam acara di Pulau Seribu 27 September 2016 itu mengatakan jika warga Pulau Pramuka merasa ada penistaan agama, pasti gubernur Jakarta itu tak akan bisa pulang.

    Secara logika, apa yang dikatakan oleh saksi fakta itu betul. Bagaimana mungkin orang Pulau Pramuka tidak marah apabila Ahok benar-benar menista agama mereka? Jika saat itu Ahok menista agama, pasti merekalah yang menjadi orang pertama yang marah terhadap Ahok. Herannya, yang terjadi justru sebaliknya. Selesai acara, warga menyuguhi Ahok dengan goreng sukun.

    Kesaksian Bambang tersebut dipertegas lagi dengan pernyataan saksi lain, yaitu saksi Eko Cahyono, yang bersama Ahok pernah mencalonkan diri di Pilbup (Pemilihan Bupati) Bangka Belitung.

        Eko Cahyono mengatakan, terdakwa Basuki Tjahja Purnama alias Ahok pernah menjadi bupati Belitung Timur yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Jadi, bagaimana mungkin Ahok berniat menodakan agama Islam. Makanya, Eko berkata: “Basuki nggak suka atau bermaksud menistakan agama Islam. Itu hal yang tidak mungkin, di luar logika. Jadi tuduhan Basuki menistakan Islam itu di luar logika saya, nggak mungkin itu.”

    Kalau demikian, apakah benar Ahok menista agama? Wallahu a’lam. Sekarang, saya hanya berpikir bahwa seandainya saja Ahok tidak mencalonkan diri sebagai gubernur DKI, boleh jadi masalah ini tidak dibesar-besarkan seperti ini. Tampaknya ini perkara ‘asal bukan Ahok’ di pilkada DKI.

    Tapi ya, kok teganya orang menggunakan isu agama dalam politik? Ya, mimbar agama sudah sering dipinjam dan dipakai sebagai tempat untuk bermain politik. Kita tidak bisa mengelak bahwa belakangan ini agama sering ditunggangi oleh aktor politik. Ini bukan gosip, apalagi hoaks. Ini fakta.

    Kita harus jujur mengatakan bahwa jalan bersamanya antara politik dan agama sebagaimana yang kita lihat selama ini terjadi karena yang satu ingin memanfaatkan yang lain. Politik, dalam hal ini aktor politik, ingin memanfaatkan agama. Maka jangan heran jika agama dimanfaatkan demi kepentingan politik.

        Kita tidak bisa menyangkal bahwa permainan politik itu seringkali panas; sebab kata orang jika tidak panas bukan politik namanya. Dalam berpolitik, saling menyerang dan saling menghujat sudah menjadi hal yang lumrah. Maka jangan heran jika demi politik itu juga, isu SARA dibawa-bawa.

    Memang cukup ironis, seharusnya orang beragama tahu menghargai dan menerima perbedaan sebab setiap agama mengajarkan kebaikan. Hanya saja, karena adanya kepentingan lain (politik) yang bermain, maka pikiran orang beragama pun dicemari oleh urusan politik. Kebiasaan di panggung politik yang sarat dengan saling hujat dan saling serang pun mau tidak mau dibawa ke mimbar agama. Apalagi, di negara yang dikenal sebagai negara religius seperti di Indonesia, isu agamalah yang paling mudah menarik banyak perhatian. Ketika isu agama mencuat, semua orang mulai angkat bicara.

    Kita hanya bisa berdoa supaya ke depannya orang-orang yang sering menggunakan agama untuk kepentingan politik segera bertobat. Kita juga berharap semoga pada saatnya nanti orang dapat melihat kebenaran di balik kasus yang menimpa Ahok secara terang-benderang. Kita yakin bahwa Allah tidak pernah tidur.



    Penulis : Jufri Kano   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Dengan Apik, Saksi Fakta Menampik Tuduhan Penistaan Agama terhadap Ahok Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top