728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 27 Maret 2017

    Debat Final Pilkada DKI, Anies Tidak Berubah “Retorikanya”

    Debat final Cagub DKI Jakarta dalam acara Mata Najwa. Masing-masing Cagub bukan saja hanya adu program tapi juga berebut program tentang siapa yang memulai. Anies Baswedan harus diakui kalau dirinya memang pintar, pintar berkata-kata lebih tepatnya. Petahana tetap konsisten berbicara dengan data, fakta dan tentang yang sudah dikerjakan.

     Ketika Najwa menanyakan kepada Basuki, bahwa program lansia adalah meniru program Anies. Basuki mengklaim bahwa lebih dulu menggagas program untuk lansia sejak 2013. Tapi Anies membantah dengan mengatakan, itu membuktikan bahwa program Ahok dalam masalah lansia belum berjalan.

     Anies Baswedan seharusnya menjawab dengan konkrit jika itu memang program Oke Oce, kalau dijawab bahwa program Ahok soal lansia belum berjalan, sama saja mempermalukan diri sendiri. Karena soal lansia sudah perhatikan sejak 2014 oleh Petahana.

     Dimana 4 tahun yang lalu Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mendorong Jakarta menjadi kota yang ramah lansia. Dia merasa prihatin melihat masih banyaknya ketidakpedulian pada lansia.
    Ahok pun meminta seluruh pejabat di Pemprov DKI mulai dari tingkat RT/RW sampai lurah, camat dan wali kota memperhatikan lansia di wilayahnya masing-masing.

    “Kami enggak mau ada lansia yang kelaparan. Ini mesti diurusi. Makanya kami mau paksa camat, lurah kami menjadi seperti orang tua dan manajer di perumahan, artinya mereka harus tahu masalah ada lansia di mana dan mengurusnya. Kalau sampai RT RW-nya nggak mau bantu, kita pecat saja. Mereka harus tahu persis orang tua mana yang sakit yang butuh kursi roda dan tongkat,” kata Ahok.

    Hal ini disampaikan Ahok itu saat memberikan sambutan dalan acara perayaan HLUN ke 18 Tingkat Provinsi DKI Jakarta di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (18/6/2014).

    Anies Baswedan jelas sudah salah kaprah menjustice Basuki yang baru bicara lansia menjelang kampanye.
    Untuk menyelesaikan masalah jaminan sosial hari tua itu, Ahok mengaku sudah menggagas Kartu Jakarta Lansia (KJL) sejak 2013 lalu. Ahok mengupayakan akan merealisasikan program tersebut pada 2018 dengan besaran santunan kepada masing-masing lansia sejumlah Rp600 per bulan. Sementara Anies Rp300 per bulan.Menurut Anies, seorang calon petahana tidak selayaknya mengajukan program, melainkan menunjukkan bukti keberhasilan program. Sudah seharusnya program yang digagas sejak 2013 lalu itu dilaksanakan oleh petahana.

     Karena itu, jika kelak terpilih sebagai Pilgub DKI Jakarta, ia akan membalik program yang selama ini diterapkan petahana. Jika selama ini program kerja mengutamakan pembangunan fisik, maka bila terpilih ia akan mengutamakan pembangunan manusia.

    Ia mencontohkan dalam mengatasi soal lansia, Anies menawarkan program “Santunan untuk Lansia”. Dalam program  itu, masing-masing lansia akan menerima Rp8,6 juta per tahun jika kelak terpilih dalam Pilkada Jakarta mendatang.

    Anies Baswedan kembali menerawang dan berapologi, masa Petahana tidak boleh mengajukan program tapi menunjukan keberhasilan program. Sementara apa yang dikatakan Ahok justru kebanyakan soal program yang sudah dikerjakan dan lengkap juga dengan datanya serta fakta di lapangan. Contoh kecil KJP, Transportasi, dan mengatasi banjir.

     Justru Anies lah yang banyak mencontek dan meniru, sebut saja soal KJP,  yang kemudian menjadi KJP Plus. Kemudian program dana RT/RW dari Agus-Sylvi juga diambil dan dimasukkan dalam Oke Oce. Artinya yang banyak mencontek siapa? Gajah dipelupuk mata sepertinya tak tampak.

     Seperti apa yang dikatakan produser Mata Najwa, Dahlia Citra bahwa Mata Najwa dan Metro TV berkesempatan memberikan ‘pencerahan’ bagi pemirsa, terutama warga Jakarta untuk menentukan pilihannya.

    “Mari kita buktikan di Mata Najwa, bukan hanya ajang mengumbar omong kosong, tapi benar benar beradu pemikiran beradu ide, gagasan,”

     Namun yang terjadi malam ini salah satu calon yaitu Paslon No-3 malah lebih banyak mengumbar omong kosongnya ketimbang gagasan yang menarik dan konkrit jika dibenturkan pada realita.

    Misalnya soal DP Rp0 , ketika Najwa menanyakan kepada Anies, konkritnya apa mengenai program Rp 0 tersebut? Anies justru menjawab : “konkritnya warga memiliki kesempatan untuk punya rumah”. Lha soal kesempatan punya rumah justru itu sudah dilakukan Petahana, bahkan sudah banyak juga warga yang menemui Basuki untuk tinggal di Rusun, yang mana rusun itu bakal disempurnakan ditingkatkan menjadi seperti apartemen. Kalau DP Rp 0 hanya dijawab untuk kesempatan punya rumah saja, saya rasa burung beo pun bisa ngomong, yang kita tunggu itu adalah penjabaran mengenai mekanisme dananya. Dimana-mana dalam hal kredit jika DP murah atau nol maka beban bukan makin berkurang tapi tambah besar. Bulannya memanjang jika pun pendek maka nominalnya yang membesar. Mana yang lebih masuk akal? Kalau rumah tapak, tanahnya bagaimana? Seperti harha tahu bulatkah?

    Debat malam ini Ahok lebih bisa menguasai “emosi” dan tidak terlalu reaktif. Ini dapat menjelaskan bahwa apa yang dituduhkan pada Ahok soal orang yang emosian adalah salah besar. Kalau sama pasukan yang ngeyel dalam bekerja itu wajar, karena kerja tersebut persoalan pelayanan terhadap masyarakat.

    Masyarakat DKI hendaknya betul-betul jeli dalam menentukan pilihan. Yang realistis lebih baik ketimbang mengkhayal. Retorika itu sia-sia tanpa pembuktian yang nyata.



    Penulis :  Losa Terjal   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Debat Final Pilkada DKI, Anies Tidak Berubah “Retorikanya” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top