728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 02 Maret 2017

    Dan Duniapun Tersenyum Melihat Si Halal Bersalaman Dengan Si Haram

    “Orang non Muslim tak boleh dijadikan sebagai teman setia, penolong, apalagi jadi pemimpin”. Demikian pernyataan Habib Rizieq, Imam Besar Front Pembela Islam saat dihadirkan sebagai saksi ahli dalam persidangan kasus penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Bersalaman dengan Ahok dan tim pengacaranyapun Habib Rizieq enggan.

    Sekarang mari kita renungkan perkataan Habib Rizieq tersebut dengan memakai akal sehat dan hati nurani yang bersih.

    Yang namanya manusia sudah ditakdirkan sejak awal diciptakan Tuhan untuk menjadi makhluk sosial yang saling membutuhkan dan saling melengkapi satu sama lain. Itu artinya suatu hubungan harus dijalankan secara seimbang dari 2 sisi. Baik dilihat dari sisi kita sebagai diri sendiri, maupun dilihat dari diri orang lain sebagai pihak luar. Supaya berimbang, dari 2 sisi harus ada yang namanya konsistensi. Konsistensi dalam segala hal baik dalam perkataan maupun perbuatan. Mari fokus pada kata konsisten. Sebab jika kita tidak konsisten, maka kita akan menjadi manusia yang mau menangnya sendiri alias manusia seenaknya sendiri. Dalam bahasa Jawanya disebut sebagai sak karepe dhewe. Dimana ada manusia yang mau menangnya sendiri dan suka seenaknya sendiri, disitu pasti ada kekacauan.

    Mengacu pada ucapan Habib Rizieq diatas, berarti kalau mau diterapkan secara konsisten,  Habib Rizieq juga tidak boleh marah saat ada orang non Muslim tidak suka dengan keberadaan orang Muslim didekatnya. Jadi temanpun jangan katanya!!! Aiiiihhhh……………..

    Kalau memang demikian yang “kalian” inginkan, lantas kenapa “kalian” harus ribut merasa dizolimi soal kasus Rohingnya??? Padahal sudah jelas-jelas warga Rohingnya ingin mencaplok sebagian wilayah Myanmar yang bukan miliknya!!! Kalau keadaannya sudah jadi runyam di Myanmar seperti sekarang ini, lantas kenapa “kalian” sibuk berteriak-teriak umat non Muslim tidak suka pada umat Muslim. Helooowwwww………. Dijadikan teman saja jangan tadi katanya Habib Rizieq!!! Lantas bagaimana pula “kalian” menanggapi dan menilai kebaikan hati Myanmar yang selama ini sudah mau menampung sekian lama warga Rohingnya sampai bisa jadi banyak dan besar seperti sekarang??? Dianggap teman atau musuh keadaan yang seperti itu??? Tolong dijawab dengan jujur!!! Dan kalau sekarang keadaannya jadi kacau begini, kenapa pula Myanmar yang harus disalahkan tanpa mau melihat bagaimana kelakuan warga Rohingnya sehari-hari disana??? Mari belajar melihat segala sesuatu bukan hanya dari satu sisi saja. Itu baru namanya manusia bijaksana.

    Ibaratnya selama ini kita sudah berbaik hati mau menampung memberi tumpangan tempat tinggal pada seorang teman yang berbeda segalanya dengan kita. Berbeda mulai dari ras, adat istiadat sampai agamanya. Kita perlakukan dia dengan baik seperti anggota keluarga sendiri. Kita beri dia 1 ruangan khusus di dalam rumah kita untuk bisa dia pakai tinggal disana dengan perasaan aman dan nyaman. Dan karena si teman sudah keburu merasa nyaman tinggal disitu, tiba-tiba suatu hari si teman yang sudah kita tolong ini meminta bahwa ruangan yang sudah kita relakan untuk dia pakai selama ini sebagai milik kepunyaannya. Salah satu ruangan milik kita didalam rumah kita sendiri dmintai orang lain sebagai miliknya. Bagaimana jika kejadian ini kita alami sendiri??? Maukah anda menerima perlakukan seperti ini??? Sementara mengacu pada cara berpikirnya Habib Rizieq bertemanpun jangan!!! Itu artinya sejak awal mestinya Myanmar jangan mau menolong Rohingnya. Haram!!! Astagaaaaa………

    Sementara itu disisi lain ada suatu pernyataan yang begitu menyejukkan hati. “Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan”. ( Imam Ali bin Abi Tholib). Bagai langit dan bumi pernyataannya.

    Lantas, kenapa pula “kalian” harus emosi jiwa kepada Donald Trump sehubungan dengan dikeluarkannya kebijakan Amerika menutup pintu masuk untuk para Imigran??? Bertemanpun jangan kata Habib Rizieq!!! Lantas untuk apa para Imigran berbondong-bondong datang ke negara-negara Eropa untuk meminta perlindungan??? Sementara Habib Rizieq sendiri menyatakan bahwa orang non Muslim tak boleh dijadikan sebagai teman setia, penolong, apalagi jadi pemimpin. Benar-benar keadaan yang sangat tidak berimbang, sangat tidak  adil dan sangat tidak konsisten.

    Ibaratnya rumah kita sedang dikelilingi oleh para Imigran yang kita kenalpun tidak. Sama sekali kita tidak mengenal mereka. Sementara Amerika sendiripun sudah sering mengalami kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan mulai dari kejadian kriminal sampai terorisme. Salahkah Amerika jika mereka memiliki trauma tersendiri dengan semua rentetan kejadian tidak mengenakkan yang sudah mereka alami disana??? Dan jika seandainya kejadian itu menimpa kita secara pribadi, masih maukah kita membukakan pintu rumah kita untuk orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal??? Sekali lagi mari kita belajar melihat segala sesuatu minimal dari 2 sisi. Jangan melulu melihat dari sisi aku, aku, aku dan aku saja. Jangan lupa untuk melihatnya dari sisi orang lain yang mengalaminya juga. Itupun sebelumnya negara-negara di Eropa sana juga sudah membukakan pintu negara mereka untuk para Imigran yang jelas-jelas “berbeda” dengan mereka. Kalau bukan dianggap teman lantas dianggap apa??? Justru dianggap saudara malahan. Saudara dalam kemanusiaan. Sementara “kalian” disini sibuk menebar dendam dan kebencian terhadap umat non Muslim. Di Amerika sana rakyat non Muslimnya sibuk memberi dukungan untuk warga Muslim yang menjadi teman dan tetangganya. Malulah sedikit kenapa. Itupun kalau “kalian” masih punya.

    Dan apakah Habib Rizieq juga sudah menyiapkan hati jika suatu saat harus melihat ada umat Muslim diolok-olok dan dihina saat mereka lewat dikerumunan umat non Muslim??? Bertemanpun jangan katanya tadi khan!!! Kalau tidak berteman ya jelas bermusuhan. Itukah yang diinginkan oleh Habib Rizieq??? Hidup dalam dendam, kebencian dan permusuhan tiada akhir satu sama lain??? Seperti itukah keadaan negara yang diinginkan oleh Habib Rizieq??? Sementara Tuhan sendiri yang menciptakan kita untuk hidup berdampingan dan membutuhkan satu sama lain. Sementara Raja Salman yang asli Arabpun sekarang ini sedang sibuk-sibuknya mengadakan perjanjian teman setia dengan negara-negara non Muslim termasuk Jepang dan China. Entah apa maumu Bib??? Itu artinya selama ini kau menganggap cuma dirimu seorang yang memiliki Tuhan. Itu artinya kau juga menganggap setiap jengkal tanah dibumi ini juga cuma milikmu seorang. Ente sehat Bib??? Lantas bagaimana pula dengan para pengikutnya??? Sekali lagi astaga…….

    Dan jika barusan seorang Raja Salman sudi bersalaman dengan Ahok. Si Halal yang sudi bersalaman dengan Si Haram. Siapa pula Habib Rizieq yang kemarin tidak mau bersalaman dengan Ahok dan tim pengacaranya??? Lagi-lagi astaga……

    Akhirnya bisa disimpulkan bahwa tindakan Habib Rizieq ini kategorinya memang amat sangat tidak konsisten dan selalu mau menangnya sendiri.

    Semoga dengan semua kejadian ini bisa menjadi bahan perenungan bagi kita semua apapun agamanya. Mari kita berusaha menjadi generasi yang ber-Tuhan dan beragama dengan baik. Karena pada dasarnya semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Yang tidak baik adalah oknumnya. Dan disemua agama pasti ada oknum-oknum yang seperti ini. Karena itu sangat penting bagi kita untuk menjadi umat beragama yang berakal sehat dan berhati bersih.  Sayangnya, bukan tugasku atau tugas siapapun untuk memberi akal sehat dan hati bersih kepada orang lain, tapi itu semua bergantung pada dirimu sendiri.

    Untuk apa kita beragama tapi jika dalam prakteknya kita harus kehilangan nilai-nilai keagamaan itu sendiri??? Untuk apa pula kita ber-Tuhan tapi dalam kenyataannya perkataan dan perbuatan kita tidak menggambarkan Tuhan itu sendiri??? Sebagaimana Tuhan itu kasih, mari kita perbuat dan bagikan kasih Tuhan itu kepada semua orang tanpa terkecuali termasuk kepada orang-orang yang “tidak sama” dengan kita. Karena pada dasarnya kita semua ini adalah sama. Sama-sama ciptaanNya.

    Bersatulah Indonesia. Mari rapatkan barisan. Jangan mau dipecah belah oleh sikap-sikap rasis dan diskriminatif apapun bentuknya. Mari Indonesia bersatu menolak diadu. Hiduplah Indonesia Raya. Merdekaaaa!!!!!



    Penulis   :  Arif Budi Darmawan Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Dan Duniapun Tersenyum Melihat Si Halal Bersalaman Dengan Si Haram Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top