728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 09 Maret 2017

    Cikeas Berhenti Berkicau, Bukti Demokrat Mutung

    Sejak kekalahan Agus – Silvy pada Pilkada Gubernur DKI Jakarta pada putaran pertama 15 Febuari 2017. Ternyata kicauan Cikeas juga ikut berhenti, dendam dan sakit hati menjadi satu, eh ditambah logistic sudah terlampau banyak, diluar budget. Hasil tidak sesuai skenario.

    Rencana SBY di Pilkada ini hanya bisa menyaingi Ahok, di dua putaran, bukan untuk menang. Karena ini sebuah mission impossible, Jangan sampai Ahok menang di satu putaran. Ongkos politik di 2019 terlalu besar, Rakyat akan melihat Ahok dan Jokowi terlalu “popular”.

    Demokrat sebenarnya punya peluang dengan boleh dikata blunder Ahok di kepulauan seribu, Jackpot ada amunisi keren, tapi sayang Gerindra juga melihat peluang ini.

    Adalah Antasari yang tidak masuk dalam skenario mereka, apalagi Polri seakan memberi panggung di konferensi pers-nya. SBY sadar dan paham tentang kalkulasi politik Agus, memang belum layak menantang Ahok, head to head tetapi Pilkada ini adalah ajang untuk menambah daftar di CV politiknya.

    Lho kok kelasnya langsung level Gubernur bukan Bupati, tentu saja ini adalah gengsi maka panggung harus dibuat megah. Pepo masih berpikir akan akar rumput dan pesonanya. Buktinya elektabilitas Agus sempat yang tertinggi hampir diangka 40% di November.

    Kalau Agus bertempur di level Bupati, daya jual demokrat di 2019 tidak ada, maka harus di level Gubernur dan panggung harus Jakarta. Istilahnya branding dan kemasan harus premium. Ataupun apabila di propinsi lain tentu publikasi dan pantauan netizen tidak sedahsyat di Jakarta.

    Skenario gagal total, target tidak terpenuhi ! Satu-satunya cara, ya harus naik gunung lagi bertapa dan mengatur rencana lagi. Sialnya rencana belum disusun rapi, KPK sudah buat gebrakan lagi, jadi mati kutu deh.

    Sampai mereka harus mengadakan Rapat Pleno segala, kalau buat pilkada 2018 masih lama pak.

    Flashback

    Pepo yang biasanya suka curhat di twitter, setelah Konferensi pers-nya Antasari, ternyata tidak nyiut lagi. Lihat ini laman @SBYudhoyono, terakhir melakukan ciutan pada 14 Febuari,

    “SBY Sulit untuk tidak mengatakan, Fitnah yang Dilancarkan Antasai Terkait Pilkada Jakarta.”


    Sepertinya Pepo sudah mencium aroma kekalahan, wong dia emang jago dalam memprediksi kok, walaupun akhir-akhir ini feelingnya dan ekspektasinya sudah salah jaman. Banyak ciutan dan curcolnya dengan memainkan playing victim ternyata sudah tidak laku di saat ini. Beda ya pak dengan tahun 2004 atau 2009 dimana kami-kami ini masih lugu.

    Eh . . . banyak Ibu-ibu yang terpesona dengan kesantunan, ketenangan  dan katanya emakku “Ganteng”, ha ha ha ha

     Buktinya pada hari pencoblosan tidak ada satupun yang nyiut tentang atau paska pencoblosan, minimal selfi di TPS lah, sepertinya sudah sepakat untuk kalah dan jelas banget bagaimana suasana di markas monitor pemenangannya juga sepi sejak siang hari.

    Akun @AgusYudhoyono terlihat nyiut terakhir di 28 Januari, karena terlampau sibuk dengan mentoring supaya tidak grogi saat debat.

    ”Kita semua hrs terus bersatu, saling toleransi, menghormati & menghargai perbedaan yg ada. Itulah keindahan & kekuatan Indonesia kita.-AHY-.”

    Akun @AnnisaPohan hanya retweet saja pada 3 maret ke @Expose_com karena lihat boot dari peluncuran buku AHY,

    ”Jalan-jalan ke took buku dan ketemu #AHY jadi penasaran dengan #BukuAHY.”

    Akun @Edhie_Baskoro ngetweet pada 21 Febuari,

    ”olah rogo-olah roso; noto rogo-noto roso. Ayo jaga persatuan & kesatuan dlm cinta-kasih bagi sesama #AkuCintaIndonesia #BhinnekaTunggalika.”

    Beda lagi dengan akun @aliyarajasa terakhir ngetweet dari video @r_rustombi di 17 Febuari,

    ”Jiwa besarnya teladan bagi kita semua.”

    Acara ngetweet berakhir, saatnya pulang kampung, jadi kangen ma ciutan pak mantan.

    Demokrat bagai ayam kehilangan induk


    Pertarungan antara Ahok dan Anies memasuki babak panas, Demokrat sebenarnya dapat memainkan perannya untuk barter politik. PPP dan PKB akan cenderung bermain di dua kaki, di tingkat pusat mereka akan mendukung Ahok, tetapi demi kepentingan “khusus” membiarkan akar rumput bermain di Jakarta.

    Kalau PPP dan PKB akan di Ahok, isunya jelas karena mereka masih sadar diri dengan isu gorengan agama, dan masih memiliki kepentingan politik atas Pakde Jokowi. Mereka masih harus membawa muka mereka. Beda dengan PKS mereka sehidup semati dengan FPI dan kaum titik-titik.

    Sekali lagi semua gara-gara Antasari !

    Antasari sungguh kejam kau, sudah menusuk tepat di hati dan kepala para pembesar Demokrat. Menghancurkan harapan pepo pada masa injury time, mbok ya bikin konferensi pers nya setelah hari pencoblosan, tentunya kejadian tidak akan seperti ini.

    Demokrat dalam kondisi sekarat atau sudah kehilangan nafsu berpolitik saat ini, teman paling dekat hanya PAN karena memang sejatinya adalah follower Demokrat. Kalau yang ini naïf namanya, masak sebuah partai politik yang notabene ada rasa Muhammadiyah, kok keok gara-gara besanan. Apa gak kasihan sama Amin Rais yang konon sudah mau berdarah-darah jalan kaki dari Jogja ke Jakarta.

    “Demokrat: Sudah Selesai, Pilkada DKI Enggak Begitu Penting buat Kami” itu adalah highlight yang sudah memberi arti jelas dan tegas. Demokrat sudah mutung di pilkada DKI kali ini.

    “Buat kami, berkali-kali saya katakan, DKI enggak begitu penting buat kami karena sudah selesai,” kata Hinca di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Senin (6/3/2017).

    Demokrat juga mengalami pengembosan secara internal dimana beberapa akar rumput di daerah Jawa Tengah sudah berpindah haluan ke Hanura mengikuti Gede Pasek.

    Pada akhirnya pepo akan puasa “nyiut”, sampai “nama besar” diungkap di persidangan kasus korupsi E-KTP.



    Salam NKRI


    Penulis : Trik (Sumber : Seword .com)
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Cikeas Berhenti Berkicau, Bukti Demokrat Mutung Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top