728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 30 Maret 2017

    Belajar dari Pilkada DKI: Agama Sebaiknya Dipisahkan dari Urusan Politik

    Dua hari yang lalu, Rabu 28/03/2017, saya sempat berbincang-bincang dengan seorang sopir Grab yang kebetulan mengantar saya dari rumah menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dalam percakapan yang singkat itu, kami menyinggung banyak hal, termasuk soal suhu politik di DKI menjelang Pilkada putaran kedua.

    Tanpa saling memberitahu siapa yang kami dukung, saya dan sopir Grab itu sepakat bahwa kami menginginkan seorang pemimpin yang jujur dan yang mau bekerja keras untuk kepentingan rakyat banyak. Dari dua calon yang ada saat ini, tentu kami dan kita semua tahu siapa yang memenuhi kriteria tersebut.

    Begitulah percakapan kami. Kemudian, saya mencoba membahas soal isu SARA yang belakangan ini merebak di DKI. Rupanya, sopir Grab itu juga tidak suka terhadap cara berkampanye yang memunculkan isu SARA. Ia bahkan ikut mengecam tindakan yang tidak elegan itu. “Itu cara dari orang yang idenya sudah buntu. Mungkin dia ingin mengedepankan program, tetapi program yang ditawarkannya tidak lebih baik dari program yang ditawarkan oleh lawannya,” kata sopir Grab tersebut.

    Saya sepakat dengan sopir Grab itu bahwa urusan politik jangan sampai dicampuradukkan dengan urusan agama. Apa yang terjadi selama ini sungguh sangat memprihatinkan: agama dipakai untuk kepentingan politik.

    Bukan rahasia lagi bahwa menjelang Pilkada di DKI, baik sebelum putaran pertama maupun sebelum putaran kedua, banyak orang membawa isu SARA dalam kampanye. Jelas sekali bahwa selama masa kampanye Pilkada DKI, kita bisa melihat siapa yang gila kuasa dan siapa yang benar-benar tulus mau bekerja untuk warga DKI. Orang yang gila kuasa cenderung menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara yang tidak elegan dengan membawa agama ke panggung politik. Padahal, agama haruslah dipisahkan dari urusan politik.

    Begitu kuatnya hasrat untuk menang, orang yang gila kuasa memainkan isu SARA dalam kampanye. Maka, muncullah berbagai gerakan yang mengatasnamakan agama. Sampai-sampai, Pilkada DKI dikaitkan dengan surga. Layak tidaknya seseorang masuk surga tergantung siapa yang dipilih pada Pilkada DKI. Aneh kan? Ya memang aneh.

        Ya, kita orang Indonesia memang taat beragama, entah apapun agamanya. Tetapi, kita terlampau terpenjara dalam agama kita sendiri sehingga segala hal selalu kita ukur dari tolok ukur agama kita.

    Kalau demikian, apa perlu agama dipisahkan dari urusan politik? Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada saya, maka saya tidak hanya mengatakan ‘perlu’ tetapi ‘wajib’ atau ‘harus’. Menurut saya, agama haruslah dipisahkan dari urusan politik supaya agama tidak dinodai oleh kepentingan politik, dan supaya agama tidak dimainkan oleh aktor politik.

    Sayangnya, di negeri ini tidak banyak orang yang setuju dengan ide pemisahan seperti itu. Apakah mereka menginginkan agar agama dicampuradukkan dengan urusan politik? Entahlah. Tentu saja mereka juga mempunyai alasan sendiri. Yang pasti semua orang mengharapkan agar urusan politik jangan sampai direcoki oleh ajaran agama, atau sebaliknya, mimbar agama jangan sampai dinodai oleh kepentingan politik.

        Gara-gara Pilkada, orang mulai mempersoalkan perbedaan agama di masyarakat. Saya berpikir bahwa merupakan suatu kemunduran jika kita mulai mempersoalkan perbedaan-perbedaan yang ada di dalam masyarakat kita. Bung Karno pernah bekata: “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” sebab sejarah membuktikan bahwa Indonesia ini dibangun oleh banyak orang dari berbagai latarbelakang suku, agama, dan ras.

    Memang, seharusnya orang-orang yang paham agama tidak mencemarkan agama hanya untuk tujuan politik. Tetapi begitulah. Banyak orang yang katanya paham agama justru sering menodai agama. Akibatnya, agama yang seharusnya menjadi pedoman supaya hidup kita itu tidak kacau sebab agama itu sendiri berarti a = tidak, dan gama = kacau justru dijadikan alat untuk membuat kacau.

    Semoga saja orang-orang yang selama ini memainkan isu SARA dalam Pilkada segera sadar bahwa apa yang sudah mereka lakukan tidak benar. Siapapun nantinya yang memenangkan Pilkada harap saja bisa merangkul semua orang dari segala lapisan dan golongan, bukan untuk kepentingan kelompok tertentu saja.

    Salam sehati-sejiwa.


    Penulis : Jufri Kano   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Belajar dari Pilkada DKI: Agama Sebaiknya Dipisahkan dari Urusan Politik Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top