728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 03 Maret 2017

    Bahayanya Ahok Menjadi Kepala Bulog, Inflasi Bisa 2%, Parpol Bisa Semakin Miskin ?

    Ahok pernah menyampaikan keinginannya menjadi Kepala Bulog, hal ini disampaikan pada saat awal tahun 2015, sesaat setelah Gubernur Jokowi naik menjadi Presiden Indonesia. Ahok yang menjabat posisi Wakil Gubernur secara hukum negara maka harus naik menjadi Gubernur.

    Tentu tantangan Ahok pada saat itu tidaklah mudah karena baru saja bercerai dengan partai Gerindra, partai pengusung pada saat maju dengan bersama Pakde Jokowi.

    Ahok adalah Gubernur yang pada masa pilkada langsung tapi dengan status non partai dan DPRD masih meributkan legalitasnya. Ah . . . itu kan karena engkau takut anggaran silumanmu ketahuan oleh Ahok.

    Tenang saja pak Ahok saat ini bapak memiliki pesaing kok, yaitu Fahri Hamzah, yang masih mentereng sebagai wakil ketua DPR RI entah dari fraksi mana ? Mungkin partai titik-titik sungguhan sekarang ini.

    Kembali ke Bulog pak Ahok, kenapa sih tertarik menjadi Kepala Bulog, apa tidak turun derajat tuh, dari Gubernur ke Kepala Bulog ? Buat sosok Ahok derajat itu nomer sekian yang penting keadilan sosial dapat ditegakkan.

    “Kalau gua dipecat, gua minta jadi Kabulog aja, gua beresin itu harga beras murah,” kata Ahok

    Flashback lagi saat itu Ahok sedang rebut sama DPRD karena masalah budgeting, jadi terlalu banyak anggaran siluman. Kalo sekarang sih aman karena project e-budgeting sudah bergulir jadi anggaran siluman sudah jauh berkuarang. Makanya kaum sesapian dalam pilkada DKI Jakarta punya misi satu “Asal Bukan Ahok”.

    Bulog

    Badan Urusan Logistik (Bulog) saat ini berbadan hukum Perum pada tahun 2016 mendapat tugas dari Pakde Jokowi untuk mengurusi 11 komoditi strategis. Awalnya kita hanya tahu kalau bulog itu tempat meyimpan beras atau gudang beras.

    “Kalau sebelumnya hanya satu komoditi yaitu beras, tetapi tahun ini akan ada 11 kebutuhan masyarakat yang akan ditangani Bulog,” kata Kepala Perum Bulog Sulteng, Maruf, di Palu. Republika.com.

    Nah sekarang komoditi lainnya kedelai, jagung, cabai, bawang, gula pasir, daging ayam, daging sapi, telur, ikan dan garam.

    Kita semua tahu bagaimana harga semua 11 komoditas diatas selalu berfluktuasi tinggi. Contohnya saat ini harga cabai bisa mencapai harga Rp 150.000 per kg. Begitu juga dengan komoditi semuanya.

    Permasalahan komoditi pangan selalu menjadi jarahan atau permainan semua pihak, entah di level bawah mulai para tengkulak, sampai level atas pengurus partai politik hingga hakim. Aneh bin ajaib, Hakim kok ngurusi komoditi ? Yah bigitulah Indonesia saat ini, belum direvolusi mental nih sama Pakde Jokowi.

    Kita ingat bagaimana skandal sapi kuota daging sapi yang menimpa Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Lutfi Hasan. Atau kasus yang masih hangat kasus Patrialis Akbar seorang hakim MK, yang sama sekali tidak ada urusan dengan bisnis logistik, ternyata tergiur dengan komoditi “perdagingan”.

    Artinya apa para pembaca Seword ? Bahwa komoditi adalah sarana untuk menjadikan kartel, apabila selama ini kita hanya melihat partai menjadikan BUMN sebagai sapi perah mungkin sudah masanya akan hilang, karena peraturan dan perundangan semakin mempersempit ruang gerak ini.

    Sebelas komoditi ini adalah sasaran empuk, selain melibatkan rekan swasta tentunya modus dan caranya sudah semakin canggih dan halus. Kita lihat kasus Patralis Akbar, permainannya sudah di tahap lobi di MK bukan lagi saat pembuatan UU atau ijin impor komoditi.

    Kita ambil contoh beras, data tahun 2016 tingkat konsumsi beras nasional adalah 33,35 juta ton setahun, apabila diambil angka rata-rata harga beras mencapai Rp 10.000 per kg maka perputaran uang di beras mencapai Rp 333,5 triliun.

    Ini baru satu komiditi saja, bagaimana dengan yang lainnya ?

    Jangan lupa bahwa suatu negara dapat terjadi revolusi atau krisis politik dan ekonomi karena masalah ketahanan pangan. Kasus ini sudah terjadi di negara Mesir yang awalnya juga menyangkut masalah naiknya harga gandum.

    Inflasi

    Mengapa inflasi menjadi penting bagi perekonomian negara, secara sederhana inflasi akan memberikan tekanan pada Suku Bunga Bank Indonesia (SBI). Kondisi ideal adalah nilai inflasi harus lebih rendah dari SBI, karena struktur bunga perbankan selalu mengacu pada SBI. Artinya inflasi adalah tujuan utama yang harus dijaga semua negara disamping pertumbuhan ekonomi.

    Tahun ini Sri Mulyani sudah dapat memberikan garansi kalo struktur APBN 2017 sudah mencerminkan kondisi riil dan lebih realistis dengan fundamental ekonomi yang ada. Good Job Mam !

    Presiden Jokowi saat ini mencanangkan supaya inflasi berada di angka 3% – 3.5%, dengan target pertumbuhan ekonomi minimal 5%.

    “Sekali lagi ini agar betul-betul, dengan tadi angka inflasi yang kita sampaikan 3,02% itu, betul-betul ini dilihat terus. Saya khawatir tahun ini, kalau kita nggak hati-hati kita tidak akan bisa mempertahankan diangkat 3 sampai 3,5%,” kata Jokowi. okezone.com

    Bandingkan dengan negara maju, mereka memiliki tingkat inflasi yang sangat rendah, hanya berkisar nol koma atau 1%.

    Ahok sebagai kepala Bulog

    Ketersediaan stok Komoditi dan supply chain logistik adalah hal utama dalam menjaga inflasi negara. Penulis berpikir apabila Ahok mejadi kepala Bulog maka Ahok akan memiliki musuh-musuh baru yang tidak cuma para tengkulak, partai politik tapi juga pengusaha.

    Sebuah front perang baru yang tentu tidak mudah, kita lihat bagaimana sampai saat ini mengatur supaya harga daging sapi, bawang merah, cabai, daging sapi selalu melonjak saat momen tertentu. Apakah tidak ada yang mampu meredam gejolaknya.

    Menyelesaikan masalah komoditi artinya sudah mengatasi 50% masalah bangsa ini, karena yang ribut adalah para emak-emak yang selalu teriak harga mahal atau naik Rp 500 perak. Jangan remehkan suara para emak-emak, karena merekalah stabilitas keluarga dipertaruhkan.

    KPK saat ini masih disibukkan dengan masalah korupsi pejabat negara, tetapi belum bisa menyentuh masalah kartel komoditi atau semacamnya.

    Apabila Ahok benar-benar suatu saat menjadi kepala Bulog, maka siap-siaplah akan terjadi babak baru “keributan” yang mengarah pada keadilan sosial. Para petani tidak akan berurusan dengan tengkulak, para pengimpor bahan pangan akan semakin susah mempermainkan harga.

    Akhirnya target inflasi nol koma (0,. . %) adalah sebuah kenyataan bukan sebuah mimpi.

    Para emak-emak akan tidur nyenyak karena besok apabila ke pasar, tidak perlu bingung lagi atau minimal tidak ribut dengan pedangan sayur keliling.

    Oh . . . sungguh indahnya negeri ini, saat harga cabai selalu stabil di Rp 25.000, supaya aku tetap bisa menikmati pedasnya cabai level 15.

    Bagaimana pak Ahok, nanti 2022 apakah masih mau menjadi kepala Bulog ?

    Foto : Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di ruang kerjanya di Balai Kota, Senin (9/2/2015) Kompas.com

    Black Capucino and #Cabai level 15

    Salam NKRI


    Penulis : Antonius Tri K   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Bahayanya Ahok Menjadi Kepala Bulog, Inflasi Bisa 2%, Parpol Bisa Semakin Miskin ? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top