728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 12 Maret 2017

    Anies Tuding Djarot Lecehkan Warga ketika Pendukung Anies yang Melecehkan Djarot

    Narasi kampanye Anies Baswedan makin ke mari makin mengerikan. Demikian pandangan saya setelah memperhatikan narasi-narasi yang disampaikan sepanjang pilkada DKI Jakarta ini. Paslon dengan nomor urut tiga ini makin cenderung menyuarakan provokasi dan propaganda yang memancing perselisihan. Belum termasuk pernyataan-pernyataan implisit yang seringkali bermuatan fitnah dan tuduhan terselubung kepada paslon pesaingnya di kontestasi demokrasi ini.

    Baru-baru ini keluar lagi satu pernyataan yang memantik rasa tak simpatik kepada mantan menteri pendidikan yang dipecat ini. Celotehan itu menyangkut Djarot yang menghadiri undangan dari peringatan 51 tahun supersemar di TMII. Seperti kita tahu, Djarot dikatai dengan banyak makian ketika menghadiri acara tersebut oleh pendukung Anies.

    Kepada salah satu media online, Anies memberikan opini publik yang menyedihkan perihal sikap tak beradab yang ditunjukkan terhadap kesantunan Djarot dalam menghadiri undangan resmi yang beliau terima. Anies menuturkan secara tidak langsung bahwa Djarot layak menerima hal tersebut karena dianggap oleh Anies sebagai pemimpin yang telah melecehkan warganya. Berikut ini kutipan pernyataan Anies di media tersebut:

        Menanggapi kejadian yang menimpa Djarot, calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 3, Anies Baswedan menanggapi dengan santai. Dia mengingatkan, sebagai pemimpin tidak boleh melecehkan warganya.

        “Karena itu jangan pernah melecehkan, karena masyarakat juga akan merespon balik. Jadi kalau pemimpin menghargai rakyat, insya Allah rakyat menghargai pemimpin,” ungkap Anies di Kebun Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu, (12/03).

        Pemimpin juga mengingatkan agar pemimpin mengayomi semua orang, bukan hanya kelompok tertentu. “Ini yang ingin kita bangun juga, kepemimpinan yang mengayomi semua,” tutupnya.

        Sumber: Merdeka.com

    Padahal, ketika kita mengikuti perjalanan kontestasi politik di Ibukota Negara kita ini, kita dapat membaca bahwa Anies banyak turut andil di dalam menumbuhkan rasa kebencian di benak pendukungnya. Bukan saja karena basis massa pendukung Anies-Sandi selama ini merupakan kelompok penebar ujaran kebencian dan rasis terbesar seperti FPI, tetapi juga di kala Anies mendapatkan memontum untuk mendinginkan suasana, ia malah menyiramkan “bensin” agar suasana memanas.

    Dalam kacamata psikologi massa, hal ini sebenarnya imbas dari upaya Anies merebut kursi DKI Jakarta. Publik sudah tahu bagaimana Anies merangkul kelompok ormas anti kebhinnekaan semacam FPI dan sejenisnya. Orang-orang seperti ini menghalalkan segalanya hanya demi kekuasaan, termasuk intimidasi dan kekerasan atas nama Tuhan dan keagamaan. Padahal kedua hal ini hakikatnya sangat bertentangan.

    Dan orang-orang seperti demikian sekarang malah makin diberikan ruang dengan merapatnya Anies ke sana. Ketika orang-orang ini masih berupa oposisi dari pemerintah saja sudah begitu berani berperilaku anarki dan mengintimidasi, apalagi nanti ketika mendapat legitimasi kekuasaan?

    Setidaknya ada beberapa hal yang saya garis bawahi atas pernyataan Anies yang provokatif dan bermuatan kebencian.

        Karena itu jangan pernah melecehkan, karena masyarakat juga akan merespon balik. Jadi kalau pemimpin menghargai rakyat, insya Allah rakyat menghargai pemimpin – Anies Baswedan.

    Pertama Anies menyatakan bahwa sikap penerimaan pendukungnya yang tidak santun itu merupakan kesalahan Djarot, atau petahana. Bahkan dia mengobarkan kemarahan dan membenarkan perilaku simpatisannya dengan menyatakan kelompok petahana sebagai kelompok yang sering melecehkan warga.

    Pernyataan sepihak ini tentu saja sesat. Karena kalau kita mau membicarakan pelecehan terhadap warga, kelompok-kelompok seperti FPI yang tergabung di dalam kelompok Anies justru yang memiliki sumbangsih terbesar. Mulai dari menghina Pancasila, penistaan agama, hingga tindak kekerasan dan penyebaran fitnah serta hoax ada di sana. Jadi, Anies ini ngomong apa?


    Alih-alih mengakui dan memperbaiki narasi politik yang tidak edukatif (dan cenderung provokatif), Anies malah melayangkan tudingan yang menyalahkan pihak lain. Ini sungguh sikap yang tidak elok dan santun dari seorang tokoh kenegarawanan. Saya khawatir, kelak kalau terpilih, Anies tidak dapat mengendalikan sikap anarkisme dari para pendukungnya. Dedikasi terhadap konstitusi yang selama ini dinyanyikan Anies-Sandi hanya tinggal ujaran manis yang dilupakan, dan semua ini sudah terlihat jauh sebelum hari pemilihan berlangsung.

    Ucapan yang hanya tinggal kenangan? – Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

    Saya khawatir publik Jakarta hanya akan seperti Wanita yang setelah ditiduri lalu ditinggal pergi. Subhanallah! Ini sungguh biadab! Semoga ini jangan sampai terjadi di Ibukota dari Negara Indonesia tercinta ini.

    Pemimpin juga mengingatkan agar pemimpin mengayomi semua orang, bukan hanya kelompok tertentu – Anies Baswedan.

    Kedua adalah perihal pesan politik menyimpang yang terus didengungkan oleh pasangan ini. Cara penyampaian pesan politis ini dikenal dengan istilah dog-whistling. Istilah ini diambil dari fenomena kemampuan seekor anjing yang dapat mendengarkan frekuensi khusus dari sebuah pluit. Suara dari pluit ini tidak dapat didengar oleh manusia, namun anjing akan peka dan dapat mengerti pesan yang dibunyikan.

    Dalam dunia komunikasi politik, gaya komunikasi ini masuk dalam kategori misinformation/disinformation

    Tujuannya adalah untuk menyampaikan pesan terselubung secara halus, tersembunyi namun dapat dimengerti. Sebuah pernyataan dibuat sedemikian rupa agar dapat diselipkan persepsi tersirat yang mendiskreditkan lawan politik. Secara umum pesan tersebut terkesan lumrah atau tidak menghina, namun makna tersiratnya dapat terbaca oleh sekelompok masyarakat yang menjadi target dari penyataan tersebut.

    Pesan politik yang terus didengungkan itu adalah bahwa pasangan petahana merupakan pasangan pro kelompok tertentu, yang mana kelompok tertentu itu selalu diidentikkan sebagai kelompok orang kaya, kelompok pengembang, kelompok investor, dan lain sebagainya.

    Sekalipun fakta lapangan telah menunjukkan keberpihakan petahana kepada kaum papa dan tak berpunya, tetapi misinformasi ini terus disuarakan. Padahal, pada kubu paslon nomor ganjil ini banyak berdiri tokoh-tokoh dengan kekayaan dan kekuasaan yang mentereng. Sebut saja seperti Hary Tanoe, Tommy Soeharto, Prabowo Subianto, dan bahkan Sandiaga Uno sendiri yang memiliki total kekayaan 3 triliun[1].

    Akhir Kata bagi Para Pembaca

    Gaya komunikasi seperti ini sangat jauh dari prinsip-prinsip keagamaan seperti Shiddiq, bahwa bukan saja tindakan seseorang harus benar, melainkan juga apa yang dituturkannya. Anehnya, sekalipun Anies selalu membangun citranya sebagai seorang yang agamis, tetapi tindak-tanduknya menceritakan hal yang berbeda. 

    Orang semacam ini berbahaya bila diberikan kekuasaan. Karena semasa mereka belum menjabat kekuasaan saja, perilakunya sudah mencermikan yang berkebalikan dengan yang ia katakan. Ia tidak santun, juga tidak agamis. Pakaian putih Anies dan Sandi selama ini tidak menandakan mereka seorang yang mencintai agama. Baju-baju putih yang biasa mereka kenakan tidak menandakan bahwa sikap mereka bersih, melainkan hanya menandakan bahwa mereka memiliki deterjen pemutih yang baik, itu saja.

    Akhir kata dari saya bagi para pembaca (Seword), hati-hati dengan tokoh yang rela menjual apa saja demi kekuasaan, karena tidak akan lama, anda sebagai rakyatnya pun akan segera dijual oleh mereka.



    Penulis : Nikki Tirta    SUmber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Anies Tuding Djarot Lecehkan Warga ketika Pendukung Anies yang Melecehkan Djarot Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top