728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 29 Maret 2017

    “Anies Tak Takut Tuhan Tapi Takut Ahok”, Sejarah Kelam dari Paramadina sampai Pilkada DKI

    Dari setiap langkah politik yang dikerjakan Anies, nampaknya ia lebih terlihat tidak takut kepada Tuhan, melainkan lebih takut kepada orang yang bersih dan jujur. Ahok menjadi salah satu orang yang ditakutkan oleh Anies. Maka jangan heran ketka Anies berjumpa dengan Ahok, “Gonggongannya” semakin menjadi-jadi.

        The dogs with the loudest bark are the ones that are most afraid. – Norman Reedus

    Alih-alih ingin mengusir Ahok dari gubernur, ia justru sedang mempermalukan dirinya sendiri di hadapan jutaan orang yang melihat siaran Mata Najwa. Kali ini benar-benar jutaan, tidak seperti bualan kaum bumi datar.

    Persiapkan waktu Anda, persiapkan mata anda, redupkan sedikit layar Anda agar dapat membaca semua “kebusukan” dari awal mulanya. Semua dimulai dari sini..

    Anies di Paramadina (2007-2015)

    Tidak ada petinggi-petinggi Paramadina yang memasukkan nama Anies Baswedan di dalam pemilihan pertama dari calon-calon rektor Paramadina. Nama-nama yang ada hanyalah Hendro Martowardoyo (Bendahara yayasan, pengusaha & adik Agus Martowardoyo), Azyumardi Azra (mantan ketua yayasan dan saat itu akan selesai jabatan rektor UIN Jakarta), Komaruddin Hidayat (mantan pengurus yayasan, direktur pasca-sarjana UIN Jakarta dan digadang-gadang akan jadi rektor UIN), Ichlasul Amal (mantan rektor UGM), dan lainnya.

    Setelah Hendro Martowardoyo memperoleh suara tertinggi, tiba-tiba muncul tekanan dari “bawah tanah” yang tidak setuju dengan keterpilihan Hendro Martowardoyo sebagai rektor universitas Paramadina. Entah tekanan macam apa yang didapatkan oleh Hendro Martowardoyo, pada hari pelantikannya, ia menyatakan mundur dari rekor Paramadina pada saat itu. Ia mengatakan sebaiknya ia tidak menjadi rektor agar keamanan universitas Paramadina (dan mungkin keluarganya) juga terselamatkan dari hal tersebut. Siapa yang memulai tekanan ini? Apakah Anies?

    Setelah mundurnya Pak Hendro, kemelut panjang terjadi pada pemilihan rektor universitas Paramadina. Universitas ini masuk ke dalam era kegelapan, dark ages. Tiba-tiba saja Anies muncul di dalam kegelapan, seolah-olah menerangi kegelapan yang dirasakan universitas tersebut. Maka tidaklah heran jika pada saat itu Anies muncul sebagai penyelamat.

    Ia dianggap sebagai “Cak Nur” muda pada saat itu yang mengedepankan intelektual yang agamis pada saat itu. Anies memiliki keturunan Arab meskipun bukan haji. Anies menggunakan topeng yang sangat cantik pada saat itu, yaitu topeng “kesantunan” yang sekarang mulai dibongkar oleh Basuki Tjahaja Purnama.

    Anies di Konvensi Partai Demokrat (Awal karir politik)

    Konvensi Demokrat secara sederhana merupakan sebuah kontes pemilihan calon presiden yang dilakukan oleh Partai Demokrat. Pada saat itu Demokrat menjadi sebuah partai yang besar, karena Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden yang dimenangkan oleh partai tersebut. Aniespun mengalihkan pandangannya ke konvensi tersebut. Ia berpikir bahwa ia dapat menjadi capres yang diusung oleh partai Demokrat. Pada akhirnya ia terjun ke dunia politik setelah bertahun-tahun bergerak di bidang sosial dan pendidikan.

    Debat-debat yang diselenggarakan oleh partai Demokrat tidak kecil. Debat berlangsung di banyak kota besar di Indonesia seperti Medan, Palembang, Bandung, Surabaya, Bali, Balikpapan, Bogor, Makassar, Ambon, dan terakhir Jakarta. Di dalam debat tersebut Anies mengatakan bahwa ia berhutang kepada “kemerdekaan Indonesia” dan memaksanya untuk turun tangan. Inilah yang menjadi awal mula bualan yang dilakukan oleh Anies Baswedan, sang inkonsisten sejati.

    Di sini Anies mengkritisi kinerja Pak Dhe Jokowi yang saat itu menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. Ia mengatakan blusukan itu tidak penting dan hanya sebuah pencitraan.

        “Saya gak mau pencitraan dengan blusukan. Bukan cuma mendengarkan tapi mengajak berubah. Blusukan itu hanya nonton masyarakat. Hanya hadir lalu kesannya sudah melakukan,” – Anies Baswedan

    Anies di Turun Tangan dan Indonesia Mengajar

    Anies sebagai penggagas (dan hanyalah penggagas) sangat beruntung. Ia mendapatkan orang-orang yang mau diajak bekerjasama memenuhi keinginan dan hasrat dirinya. Ia ingin dikenal, namun Anies tahu bahwa ia tidak bisa memperkenalkan dirinya dengan cara one man show. Anies menarik orang-orang muda dan idealis yang masih bisa “dikerjai” dengan iming-iming nasionalis dan idealis.

    Pada akhirnya memang Anies dikenal di hampir pelosok Indonesia oleh orang-orang muda dan beberapa eksekutif yang “kebanyakan uang” dan ingin memberikan diri mereka untuk rakyat miskin. Padahal dengan sengaja atau tidak sengaja, nama Anieslah yang mencuat pada saat itu. Jadi kita tentu perlu sedikit lebih kritis di dalam hal ini.

    Anies sebagai pendukung Jokowi dan pencibir Prabowo

        “Kita tahu siapa Prabowo karena sudah beriklan selama 6 tahun di televisi terus-menerus. Cara berpolitik dengan biaya luar biasa mahal, tidak membuat politik menjadi lebih sehat,” – Anies

    Dari konvensi Partai Demokrat ke pendukung Presiden Joko Widodo, merupakan satu lagi inkonsistensi yang dilakukan oleh Anies. Aroma inkonsistensi yang busuk sudah mulai tercium meskipun belum terlalu menyengat. Anies berhasil sekali lagi menutupi inkonsistensinya dengan berlabuh kepada Pak Jokowi yang saat itu (sampai sekarang) menjadi sosok nasionalis dan demokratis yang dielu-elukan.

    Anies menghantam dan “menampar” Prabowo mulai dari rekam jejak yang kelam, orde baru, dan banyak sekali sindiran-sindiran yang diutarakan. Maka sepertinya Anies berhasil mendapatkan simpati rakyat dan terpilih menjadi menteri pendidikan selama 1 tahun lebih saja pada pemerintahan Pak Dhe Jokowi.

        “Kalau Pak Prabowo misalnya tegas soal perekonomian, yang bener tuh yang mana? Ekonomi yang mau open pada market Internasional atau mau nasionalistik tertutup. Retoriknya nasionalis tertutup, tapi ketika diskusi bicaranya terbuka. Di mana tegasnya?” – Anies

    Anies dipecat, topeng mulai lecet, ia berlindung ke Prabowo, FPI dan Cendana

    Kinerja Anies di kementerian menuai nilai yang tidak baik. Seberapa tidak baiknya Anies, kita tidak tahu, namun Pak Dhe Jokowi memecatnya. Tentu ada sesuatu yang tidak dikerjakan oleh Anies. Visi dan misi Anies tidak sesuai dengan Pak Dhe.

    Pak Jokowi memiliki visi “Kerja, kerja, dan kerja!”, sedangkan Anies Baswedan “Ngomong, ngomong, dan ngomong!”. Rasanya, perbedaan ini yang membuat Anies dipecat dari kementerian.

    Dari pemecatan tersebut, terlihat Anies sangat galau dan mulai mengalihkan pandangannya ke Prabowo, FPI, dan akhirnya Cendana. Seperti bunglon, ia berhasil menjadi orang yang cocok dengan tempat dimana ia ingin berada.

    Saya yakin sekali bahwa bukan Prabowo yang memilih Anies, namun Anieslah yang memilih Prabowo. Dengan dipecatnya ia dari kementerian, banyak fans Anies yang kecewa kepada Pak Dhe Jokowi. Itulah yang digunakan Anies untuk menarik dukungan warga dari Jokowi, berpindah kepada Anies. Anies mendekati Prabowo, dan membuat seolah-olah Prabowo memilihnya menjadi calon gubernur, menendang Sandiaga Uno dari posisi gubernur usungan gerindra.

    Pada akhirnya, kita melihat bahwa Anies kembali “melacurkan” dirinya kepada FPI yang selama ini tidak suka dengan Anies. FPI yang terlihat sangat anti intelektual, tiba-tiba mendukung Anies sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Disini topeng Anies yang lecet sudah dalam kondisi hancur dan kritis. Ia mulai tidak santun dan mulai menghajar sana sini. Lagi-lagi, Anies yang memilih FPI.

    Cendana mulai mengalihkan pandangan kepada Anies. Tomy Soeharto secara tidak langsung mendukung Anies Baswedan dengan cara berafiliasi dengan kelompok FPI, MUI, dan beberapa ormas Islam yang tidak suka kepada Ahok.

    Kesimpulan dari kisah panjang Anies: Ia tidak takut Tuhan, ia takut Ahok.

    Kehidupan Anies seperti tidak takut kepada Tuhan. Ia menjadi orang yang kebingungan dan mulai mencari dukungan sana-sini dengan membabi buta. Padahal babi itu haram bukan? Hehehe. Ketakutan Anies kepada Ahok beralasan, karena Anies takut kepada orang yang dianggap kafir, justru menjadi orang yang lebih menjalankan akidah.

        “Tidak mungkin memecat anak buah? Sekarang saja saya sedang berusaha memberhentikan Pak Basuki dari gubernur. Jadi bagaimana kita enggak berani (pecat), apalagi anak buahnya, gubernurnya aja mau diberhentiin,” – Anies.

    Dari rekam jejak panjang yang dipaparkan di atas, kita dapat melihat bahwa Anies seolah-olah tidak takut kepada Tuhan, dan mulai menunjukkan ketakutannya kepada Ahok. Ciri-ciri orang tidak takut Tuhan adalah mereka takut kepada manusia.

    Betul kan yang saya katakan?


    Penulis : Rhysebastian   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: “Anies Tak Takut Tuhan Tapi Takut Ahok”, Sejarah Kelam dari Paramadina sampai Pilkada DKI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top