728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 13 Maret 2017

    Anies – Sandi “Merusak” Tempat Ibadah


    Apakah aturan mengenai larangan berkampanye di tempat ibadah yang dibuat oleh KPU masih kurang jelas? Logika sederhana saja, yang namanya tempat ibadah sudah seharusnya tidak digunakan untuk berkampanye. Namun tetap saja tempat ibadah digunakan untuk berkampanye.

    Seperti itulah kelakuan ‘manusia unik’ yang ada di Indonesia. Tidak taat aturan dinegeri sendiri tetapi dapat berubah 180 derajat ketika berada diluar negeri. Sebagai contoh, ‘manusia unik’ tidak akan berani untuk makan permen karet di Singapura. Ternyata denda yang bernilai ribuan dolar lebih menakutkan dari ‘denda dari Tuhan YME’.

    Pilkada DKI Jakarta berlanjut keputaran kedua, alhasil kampanye ditempat ibadah masih terus terjadi. Contoh teranyar seperti yang dilakukan oleh calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut tiga. Di Masjid Fatahillah, bang Sandi yang OK-OCE ini berkampanye yang dibalut dengan pelatihan ekonomi syariah kepada para pedagang Pasar Tanah Abang.

    Di pelatihan tersebut bang Sandi berbagi pengalamannya yang sukses sebagai pengusaha. Mungkin dengan maksud tidak menyombongkan diri, bang Sandi berkata kalau dia menjadi pengusaha karena ‘kecelakaan’. Menjadi pengusaha karena di PHK dari pekerjaan sebelumnya. Dia memulai usahanya hanya dengan 3 orang karyawan hingga mencapai sekitar 50.000-an orang karyawan saat ini.

    Bang Sandi bermaksud baik dengan ‘pelatihan’ ini tapi tidak pada tempatnya. Mungkin karena kena tulah, dia langsung di skak-mat oleh salah satu pedagang pada sesi tanya-jawab. “Jangan bicara teori mulu Pak, saya pening. Bagaimana kalau Bapak menanam modal di Baitul Mal?” kata pedagang tersebut.

    Mendengar permintaan pedagang itu, bang Sandi tersenyum dan kemudian berkata, “mana proposalnya? Sini biar saya pelajarin.” Ya ampun bang, bang Sandi tersinggung ya? Kok gaya bang Sandi masih seperti bos di perusahaan ya. Bang Sandi mau jadi cawagub kan? Ya harus siap melayani warga Jakarta. Jakarta keras bang, sebagian warganya tidak mudah diatur. Jadi jangan berharap bisa bergaya seperti bos di Jakarta ya bang.

    Ingat bang, pedagang yang bicara itu calon bos abang. Jangan gampang tersinggunglah, santun dikitlah bang. Lagipula kalau bang Sandi memang tersinggung, abang bisa minta tolong ke mas Anies. Dia selalu berkoar-koar tuh bahwa dia akan membangun manusia Jakarta. Bilang saja ke mas Anies supaya pedagang yang kurang ‘sopan’ itu diberikan pelatihan. Pelatihan motivasi supaya bisa menjadi manusia yang ‘santun’ dan tentunya OK OCE. Tapi ingat ya bang, pelatihannya jangan di tempat ibadah lagi ya.

    Contoh berikutnya adalah kejadian yang menimpa calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Djarot Saiful Hidayat. Hari Sabtu (11-03-2017), beliau menghadiri acara Haul Soeharto sekaligus shalawat untuk negeri di Masjid At Tin.

    Memang paslon nomor urut tiga tidak melakukan kampanye ditempat tersebut. Tetapi kelakukan aneh bin ajaib ditunjukkan pendukung paslon nomor urut tiga yang patut dipertanyakan. Sejak kedatangan Djarot hingga saat meninggalkan tempat tersebut, beliau mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan.

    Saat tiba di depan pintu masuk, Djarot dihalau dan diiringi teriakan yang ditujukan kepadanya, “tutup, tutup, enggak ada, jangan kasih masuk.” Bahkan sebelum itu terjadi terdengar teriakan yang sangat tidak pantas “usir, anak b*bi.”

    Djarot datang bukan tanpa undangan. Dengan kehadirannya beliau sudah membuktikan bahwa beliau sangat santun dan hormat terhadap pihak yang mengundangnya.

    Ketegangan tidak berhenti disitu. Saat hendak meninggalkan tempat tersebut pun, ada lemparan botol minuman ke arah kerumunan orang yang melindungi Djarot. Sungguh tragis melihat mereka yang tega mencedarai kesucian tempat ibadah. Kebencian mereka kepada paslon nomor dua melebihi ketaatan mereka akan Tuhan YME.

    Berbeda dengan Djarot, perlakuan istimewa didapatkan oleh mas Anies Baswedan. “Takbir, Allahu Akbar, gubernur kita,” teriak kerumunan masa. Tidak terlihat keinginan Anies untuk meredam teriakan tersebut. Bahkan terlihat senyum bangga saat dia dielu-elukan seperti itu. Adapula kejadian yang tidak mungkin terjadi kepada Djarot, yaitu adegan cipika-cipiki yang dilakukan mas Anies dengan Rizieq.

    Djarot menanggapi secara santai atas kejadian yang menimpa dirinya. Dengan gaya khasnya, beliau tidak menyalahkan siapapun. “Kita berhadapan dengan saudara-saudara kita yang belum paham, biar aja gak apa apa,” ujarnya.



    Berbeda dengan Djarot, mas Anies menanggapi penghadangan massa kepada Djarot secara serius. “Ya dalam demokrasi saling menghormati, saling menghargai. Kalau kita menghormati pasti kita dihormati juga. Karena itu jangan pernah melecehkan, jangan pernah merendahkan. Kalau pemimpin menghargai rakyat, Insya Allah rakyat menghargai pemimpin,” kata mas Anies.

    Pernyataan mas Anies jelas ditujukan kepada Ahok bukan Djarot. Hujatan kepada Djarot memang sudah sepantasnya dilakukan, menurutnya. Karena bagi mas Anies, Ahok dan Djarot adalah satu paket.

    Kalau saja mas Anies meminta maaf kepada Djarot mewakili pendukungnya. Hal itu akan menaikkan derajatnya yang sudah terpuruk. Sebenarnya mas Anies tidak paham bahwa pendukung Ahok-Djarot berbeda, mereka jauh lebih terhormat dibandingkan pendukungnya. Dimana pendukung Ahok-Djarot tidak akan melakukan perbuatan yang melecehkan dan merendahkan orang lain, teristimewa ditempat ibadah. Tapi mas Anies adalah mas Anies, mungkin itu arti kata santun sebenarnya baginya.

    Tidak ada larangan dimana agama menjadi salah satu dasar dalam berpolitik, karena memang sudah dipraktekkan. Tapi alangkah baiknya, tidak menggunakan agama sebagai komoditas politik. Tidak sepatutnya, hanya karena ingin menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur, menghalalkan segala cara yang jauh dari norma kehidupan beragama.


    Mas Anies dan bang Sandi, perhatikan gambar dibawah ini!


    Penulis : DavidK  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Anies – Sandi “Merusak” Tempat Ibadah Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top