728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 21 Maret 2017

    Anies, Mana Festival Gagasannya? Ini Sih Festival Copy Paste

    Saya benar-benar tidak habis pikir. Seorang Anies yang bergelar Doktor seharusnya kualitas otaknya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Ditambah lagi, di awal kampenye dia pernah mengatakan bahwa Pilkada DKI ini akan menjadi festival gagasan. Namun semua gagasan yang murni dari dia terasa sangat menggelikan, bahkan lebih menjurus ke arah menyebalkan. Mulai dari DP 0 persen/rupiah yang syarat-syaratnya terus berubah-ubah sampai sekarang, menolak reklamasi yang kemudian direvisi sendiri, jaminan bantuan keuangan ke semua ormas, sampai OK OCE yang diklaim bisa mengatasi semua masalah, termasuk perkelahian remaja.

    Tidak puas dengan programnya sendiri yang aneh bin ajaib, Anies melakukan copy paste program lawannya. Kartu Jakarta Pintar yang merupakan salah satu program unggulan dari tim Ahok-Djarot dicopy paste mentah-mentah oleh Anies, Cuma ditambahin kata “plus” karena boleh ditarik tunai. Padahal Ahok terkenal paling anti untuk masalah transaksi tunai karena rawan penyelewengan dan sulit dipertanggungjawabkan. Masa orang berpendidikan setinggi Anies tidak tahu hal sepele seperti ini?

    Lalu bagaimana dengan Kartu Jakarta Sehat yang juga merupakan program unggulan lainnya dari Ahok-Djarot? Sekali lagi, Anies tidak sungkan-sungkan menjiplak program ini dengan lagi-lagi menyematkan kata “plus” dengan memasukkan guru ngaji, guru sekolah Minggu, penjaga rumah ibadah, kader PKK, dan kader Posyandu. Padahal target Kartu Jakarta Sehat versi Ahok-Djarot adalah orang-orang miskin yang tidak mampu membayar iuran BPJS sehingga ditanggung oleh Pemerintah DKI Jakarta. Sedangkan kelompok yang disebut oleh Anies jelas-jelas mendapatkan upah dan mampu membayar iuran BPJS sehingga sebenarnya tidak layak untuk mendapat subsidi dari Pemerintah DKI Jakarta.

    Apakah Ahok-Djarot satu-satunya korban copy paste Anies? Ternyata jawabannya : TIDAK. Program Agus-Sylvi yang paling kontroversial, yaitu program pemberian uang tunai sebesar Rp 1 miliar per RW juga dicomot oleh Anies. Sekali lagi diembel-embeli “plus” dengan menaikkan jumlah uangnya dari Rp 1 miliar per RW menjadi Rp 3 miliar per RW.

    Tanggal 20 Maret 2017, Djarot mengatakan bahwa Pemerintah DKI Jakarta akan segera meluncurkan Kartu Jakarta Lansia. Kartu tersebut bisa digunakan oleh warga lansia untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Kartu Jakarta Lansia akan diberikan berdasarkan data kependudukan yang dimiliki oleh Pemerintah DKI Jakarta dan memenuhi dua syarat, yaitu berusia di atas 60 tahun dan tidak mampu. Hanya dua syarat yang sangat sederhana, tidak peduli pria atau wanita, hidup sendiri atau bersama keluarga, berhak mendapat Kartu Jakarta Lansia. Bagi lansia yang mendapat Kartu Jakarta Lansia, akan mendapat Rp 600.000 tiap bulan.

    Ketika saya membaca berita mengenai Kartu Jakarta Lansia ini, saya sudah punya firasat bahwa penyakit copy paste Anies bakal kambuh lagi, dan ternyata dugaan saya tidak meleset sama sekali. Cukup satu hari saja waktu yang diperlukan oleh Anies untuk menjiplak program ini. Namun uang yang dijanjikan kepada lansia sebesar Rp 300.000, hanya setengah dari yang dijanjikan oleh Djarot. Mungkin setelah Anies sedikit berhitung dengan dibantu oleh Sandiaga, setelah uang APBD Jakarta dibagi-bagi ke ormas dan RW, mampunya ya hanya sebesar itu, tidak bisa sebesar yang dijanjikan Djarot. Jadi khusus untuk program Kartu Jakarta Lansia, program tandingan versi Anies bukan Kartu Jakarta Lansia Plus, melainkan Kartu Jakarta Lansia Minus.

    Sudah cukup sampai itu saja copy paste Anies? Oh tidak! Bukan Anies namanya kalau cuma copy paste setengah-setengah. Ingat kunjungan Ahok ke warga Jakarta yang sakit? Ini pun Anies berjanji untuk copy paste. Anies mengaku siap rutin mengunjungi rumah-rumah yang ditinggali warga lansia untuk mengecek kondisi kesehatan mereka. Benar-benar pendekar copy paste sejati.

    Dalam dunia pendidikan, dunia asal Anies, sesekali mengambil hasil pemikiran orang lain memang diperbolehkan, kemudian dikembangkan sehingga menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Namun jika semuanya diambil mentah-mentah, hanya ditambah kata “plus” atau “tunai”, itu sudah merupakan plagiat. Dalam dunia pendidikan, plagiat adalah suatu tindakan yang sangat hina dan pelakunya akan dihukum di dunia akademik. Apakah Anies lupa hal ini? Apa karena dia tidak pernah jadi dosen dan langsung jadi rektor, Anies tidak tahu hal sefundamental ini? Karena seorang Anies, kita terpaksa jadi penonton dari Festival Copy Paste. Betapa malangnya warga Jakarta kalau dipimpin oleh seorang Gubernur Copy Paste.


    Penulis : Tatsuya   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Anies, Mana Festival Gagasannya? Ini Sih Festival Copy Paste Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top