728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 27 Maret 2017

    Anies Dipermalukan Staf Ahok, Kasihan Deh Professor!

    Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta, Dian Ekowati
    Bukan Anies namanya jika tidak pernah mengakui keunggulan lawan politiknya. Ada saja kata-katanya. Tutur katanya kerap menjadi blunder dan  ia menjadi bulan-bulanan netizen. Masih ingatkah Anda, pernyataan Anies Baswedan pada Debat Pilkada DKI 2017 yang lalu?

    Pada waktu itu pernyataannya yang cukup menghebohkan ruang debat. Secara tegas ia menegaskan Pemerintah DKI Jakarta Baru di bawah kepemimpinan Ahok-Djarot baru sebatas good governance atau tata kelola yang baik. Menurutnya, good governance merupakan pola pendekatan lama ada era 90-an.

    Pernyatan Anies lahir setelah ada pertanyaan dari moderator debat, Tina Talisa, menanyakan kepada mereka, terkait profesionalisme, kompetensi, dan potensi PNS di DKI Jakarta.

        “Bagaimana pendapat paslon soal birokrasi di Jakarta. Apa yang akan dilakukan terhadap PNS yang memiliki potensi dan kompetensi yang rendah?” ujar Tina.

    Anies yang berinisiatif memberikan jawaban waktu itu, menyatakan  untuk mewujudkan pemerintahan yang kompeten memerlukan lebih dari sekedar good governance. Sistem good governance adalah pendekatan lama, sistem yang baru, menurutnya, adalah  open governance – dimana sistem ini melibatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

    “Good governance itu pendekatan ’90-an sekarang open governance di mana pemerintah dan masyarakat bekerja sama membangun wilayah dan negara,” ujar Anies. (Baca: “Good Governance Itu Pendekatan ’90-an, Sekarang adalah Open Governance”)

    Serangan Anies kepada Ahok pada waktu itu cukup membuat Ahok tidak berkutik. Bukannya karena Ahok tidak memiliki alasan atau argumentasi. Ahok melihat kelebihan lawannya (baca: Anies) hanya retorika belaka. Sehingga ia memiliki alasan untuk tidak menjawab.

    Pernyataan Anies yang hampir ditelan waktu itu tiba-tiba muncul di permukaan pada saat suhu politik DKI memasuki Pilkada DKI Putaran II memanas. Ternyata, pernyataan Anies menjadi blunder dan bom waktu yang kapan saja meledakkan dirinya.

    Bom waktu itu akhirnya meledak. Yang meledakan bom tersebut adalah seorang staf Ahok, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta, Dian Ekowati.  Pernyataan Dian sekaligus menyumbat mulut Anies yang mengatakan bahwa Pemerintah DKI baru sebatas melaksanakan good governance. Dengan demikian, penulis dapat mengatakan bahwa untuk melawan Anies tidak perlu dilakukan oleh Ahok, cukup dilakukan oleh stafnya dan tentu saja oleh Anies sendiri,  yakni kata-katanya yang sering bercabang dan menjadi blunder.

        “Sebetulnya kami sudah sosialisasi banyak, apalagi kami punya media internal Berita Jakarta. Di situ bisa ditelusuri mengenai open governance, sudah keluar semuanya,” kata Dian kepada wartawan di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (27/3/2017). (Baca: Pemprov DKI Bantah Pernyataan Anies soal “Open Governance”)

    Dian  tiba-tiba memantik kesadaran publik yang selama ini terkesima dengan pernyataan Anies yang santun. Seolah-olah apa yang dikatakannya selalu benar. Tak tercela.

    Dian pun  terjebak dalam polarisasi politik. Polemik netralitas PNS dalam Pilkada DKI mengemuka. Bukan tak mungkin ia akan dituduh memainkan isu untuk menjatuhkan kredibilitas sang professor yang jago retorika itu  sekaligus menyatakan keberpihakan kepada sang petahana.

    Apapun niat Dian, secara tidak langsung menjadi passive campaign bagi Ahok. Penulis menilai statemen Dian cukup beralasan karena berbasis fakta. Lagi pula ia tidak sedang membela Ahok melainkan membela dirinya dan jajarannya yang sudah bekerja tidak sekedar good governance dan melampuai dari itu, yakni open governance.

    Di satu sisi, pernyataan Dian dapat dipandang secara politis, di sisi lain dapat dipandang sebagai pembelajaran bagi Anies untuk  untuk bisa menakar setiap kata-katanya. Tidak asal ngelunjak!

    Anies mungkin sudah buta hati dan akal sehingga tidak sportif dan obyektif melihat perubahan DKI Jakarta di bawah sang nahkoda, Ahok-Djarot. Padahal, open governance telah dilaksanakan oleh Pemerintah DKI Jakarta  pada setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) atau Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Implementasinya berupa kebijakan open data  yang dituangkan dalam aplikasi dan dapat dibuka melalui halaman web data.jakarta.go.id yang merupakan satu bagian atau kanal dalam Jakarta Smart City dalam domain jakarta.go.id.

    Bahkan setiap tahun Pemerintah DKI Jakarta  menyelenggarakan Hackjack. Kontes ini  diikuti oleh para pengembang aplikasi. Dari aplikasi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan  untuk  portal open data DKI Jakarta.

    Bantahan Dian kepada Anies, meskipun telat tapi pada moment yang tepat, semakin mempertegas mana pemimpin yang hanya bicara alias NATO (Not Action Talk Only), mana pemimpin yang berbicara dan bekerja seirama. Anies adalah pribadi yang hanya pandai berbicara tetapi tidak banyak bekerja dan hasil pun tidak ada. Penuh retorika. Parahnya, ia bicara tidak berbasis data. Asal bicara sekedar nyinyir lawan – meskipun ia salah menggunakan data dan informasi seperti kasus good governance vs open governance di atas.



    Penulis : Giorgio Babo Moggi  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Anies Dipermalukan Staf Ahok, Kasihan Deh Professor! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top