728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 13 Maret 2017

    Anies Berkawan dengan Dinasti “Biangnya” Korupsi, Hebat Anies !

    Acara yang baru saja usai dan sukses digelar oleh keluarga Cendana dalam rangka ”selimut politik” peringatan Supersemar di Masjid At-Tin TMII, 11 Maret 2017. Ditengah kontestasi pilkada DKI yang semakin panas, semakin banyak golongan dan orang-orang yang tampaknya tidak mampu menahan diri. Pilkada DKI 2017 ini sangat vulgar dan jelas sekali aroma Pilpres nya, siapa yang memenangkan kontestasi ini maka golongan tersebutlah yang akan meraih kemenangan di Pilpres 2019, ini menjadi keyakinan para politisi.

    Anies-Sandi dengan latar belakang pengalaman yang tergolong baru dan sangat hijau dikancah perpolitikan menjadi penantang Ahok-Djarot yang telah menumbangkan satu lawannya di putaran pertama, yakni Agus-Silvi.

    Bagaimana merespon setiap arus politik yang menerpanya membuktikan siapa sebenarnya dan bagaimana kualitas pasangan calon ini (Anies-Sandi), berniat menggaungkan perang program dan politik santun namun menjadi sangat kontradiktif dengan bukti perjalanan politik yang ditampilkan oleh pasangan ini, yang justru kerap diduga memainkan isu agama dan membuat blunder politik daripada persaingan program.

    Perihal kafir mengkafirkan, berkawan dengan ormas intoleransi, partai yang diisukan dan diduga hendak mengusung ideologi selain pancasila, hingga gelombang “teror” yang marak belakangan ini mengenai “larangan mensholati” jenasah pada orang atau keluarga yang mendukung Ahok-Djarot. Kemampuan bernarasinya yang secara teknis bisa dibilang “indah” namun secara substansi selalu saja membuahkan kebingunan yang mendengarkannya, ini terlebih kepada bukti kebingungan si narator sendiri sebenarnya.

    Polarisasi politik tersebut semakin menunjukkan kualitas dirinya dan siapa sebenarnya aktor perjalanan politik dibelakangnya.

    Kepemimpinan Ahok yang begitu besar menuai perlawanan kepadanya disebabkan garis yang jelas dan keras untuk menentang musuh rakyat yaitu korupsi. Semakin tingginya tensi politik membuat para pemain-pemain lamapun tidak sabar untuk menunjukkan “batang hidungnya” dengan hitungan momentum pastinya. Jika tidak sekarang kapan lagi, jika tidak kita siapa lagi….mungkin itu selogannya.

    Dinasti keluarga Cendana yang merupakan “sejarah pahit” bangsa ini dimana dinasti tersebut menjadi fenomenal dan terbesar di sepanjang sejarah bangsa ini dengan korupsi tingkat dunia, triliunan rupiah bahkan jumlahnya tidak tebayang oleh kita seberapa besarnya. Sangat jelas dinasti ini tidak mau kehilangan momentum politik yang ada, saat musuh mereka Ahok (simbol anti korupsi) yang mewakili golongan anti korupsi dan tengah marak digilas oleh gelombang gerombolan aktor pendukung budaya lama.

    Dinasti Cikeas tumbang diawal pertempuran, kini Rizieq sebagai panglima besarnya untuk menggerakkan masa Islam yang mengkultuskan kepemimpinan, sehingga berpotensi menggeser akal sehat pengikutnya yang mengagungkan seseorang, dan gerakan fanatisme akidah yang dibenturkan oleh pemain partai berbasis Islam guna menciptakan pendukung setia.

    Momentum yang ada dan menyatukan para kawan lama, FPI dengan jelmaan sebelumnya adalah pamswakarsa, mensakralkan seseorang sehingga harus nurut saja dari setiap kata-kata dan apa yang diperintahkan (dahulu menjadi budaya Indonesia) kini diwakilkan dengan Rizieq sebagai pemimpin umat islam (deklarasi 212) lengkap sudah namun menyisahkan golongan kekuatan yang harus tampil sebagai magnet yang menyatukan, siapakah itu ?

    Siapalah Anies calon pemimpin dengan tanpa modal “sepeserpun” , jika dibandingkan dengan dominannya modal/uang yang dikeluarkan Sandiaga uno, partai tidak ada, pengikut setia tidak ada, pengalaman politik terbilang sangat muda,dan jaringan politik serta komunikasi politik pun masih berproses, belum menunjukkan bukti yang berarti.

    Acara yang diadakan di Mesjid AT-Tin dengan penyelenggara keluarga Cendana, terbesit pesan bahwa indikasi “come back” nya dinasti pelopor korupsi  dan berkumpulnya kawan-kawan lama.

    Saat tumbangnya Dinasti Cikeas pada putaran pertama seakan menunjukkan kemenangan demokrasi atas “kekaisaran” dan dinasti yang diidentik dengan praktek korupsi. Sesungguhnya jika dibandingkan dua dinasti ini, Cendana lah “Bapak pelopor” budaya korupsi.

    Pertarungan antara yang mendukung korupsi dan yang anti korupsi kini memancing “biangnya” turun di kancah peperangan.
    Tragis banyaknya golongan “amnesia” yang marak di masyarakat saat dahulu keruntuhan “dinasti” Soeharto (keluarga cendana) berhasil ditumbangkan pada perjuangan rakyat 98, seakan lupa begitu banyak pengorbanan yang sudah dilakukan dan korban yang berjatuhan, masa depan, bahkan nyawa telah hilang. 

    Waktu tidak dapat diputar kembali, perjuangan yang telah dilakukan oleh pergerakan rakyat saat itu yang terakumulasi di pergerakan massa rakyat 98 seakan tidak berbekas, lupa bahwa musuh besar bangsa ini bukan sekedar dinasti yang diwakilkan oleh Cendana atau Cikeas, musuh besar bangsa dan negara ini adalah Korupsi.

    Gerakan melawan lupa !




    Penulis : Ali Ridho    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Anies Berkawan dengan Dinasti “Biangnya” Korupsi, Hebat Anies ! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top