728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 17 Maret 2017

    Allah Kok Jadi “Kuda Joki” Politisi?

    Menjelang pilkada, agama seringkali menjadi salah satu  topik atau obyek kehebohan  massal dalam diskusi dan perdebatan seputar politik. Mengapa banyak orang tidak suka isu agama dibawa-bawa ke dalam ruang politik? Atau mengapa agama ditentang sebagai idiologi berpolitik?

    Banyak orang yang anti pada agama yang mencampuri urusan politik tidak berarti mereka membenci agama atau tidak beragama. Seringkali logika tolol mendikotomikan bahwa orang beragama diidentikan dengan mereka yang jiwa dan raganya dipertaruhkan untuk membela figur atau parpol berbasis agama, sementara orang lain yang berseberangan dengan mereka dianggap orang yang tak beragama, tidak setia atau kafir.

    Logika tolol seperti ini muncul juga di ruang publik menjelang pilkada Jakarta jilid II. Spanduk-spanduk bertuliskan “tolak menyolat jenasah orang yang memilih pemimpin non muslim” adalah potret logika dangkal dalam memahami agama, dalam hal ini bukan hanya agama islam saja tetapi juga berlaku untuk semua agama.

    Beragama bagi orang yang memiliki logika dangkal seperti ini adalah jalan mencapai kekuasaan politik saja. Agama bukan lagi ruang perjumpaan dengan Allah, ruang rohani dengan kultus sucinya, tetapi agama direduksir menjadi kendaraan politik, kendaraan untuk mencapai ekstasi hasrat dan birahi untuk menguasai. Allah yang diagungkan oleh agama dijadikan “kuda joki” oleh kelompok tersebut untuk mendapatkan kekuasaan. Jelaslah Allah yang seperti itu, bukanlah lagi Allah yang mahakuasa dan tidak memerlukan manusia, tetapi  “alah mak”, atau Allah yang menjadi konsep dan kuda tunggangan politik.

    Politik yang memperalat agama jelas merupakan upaya pembunuhan “Allah” atau substansi agama itu sendiri secara bertahap dan menyakitkan di kemudian hari. Ini namanya juga bentuk sekularisasi terhadap agama dari dalam. Sekularisasi artinya menyisihkan ruang suci yang menjadi inti agama dengan nilai-nilia duniawi. Agama hanya dijadikan bingkai sementara makna dan intinya digeser oleh perjuangan politik. Tindakan politik seperti ini mengerikan dan mencederai perasaan terdalam bagi mereka yang mencintai agama dan memandang agama itu sebagai sesuatu yang luhur dan suci.

    Jika ditelisik dari konsep sosiologi pengetahuan Karl Mennheim, agama seringkali menjanjikan hal yang utopis. Dikatakan utopis karena orientasi politik dan agama berbeda. Politik berorientasi duniawi sedangkan agama orientasinya metafisik. Agama memiliki kriteria-kritiria ideal yang dalam kenyataannya paradoks dengan realitas kehidupan politik, karena agama menjanjikan kehidupan yang indah diseberang sana.

    Sedangkan politik itu sendiri, seringkali dipandang sebagai subjek yang bebas dari nilai. Bagi para akademisi dan intelektual politik adalah positivisme dan empirisme sehingga ia bisa dikaji dengan jelas. Politik juga memiliki ruang jangkauan yang luas, mencakup banyak kalangan dan kehidupan manusia secara langsung karena itu ia bersifat dinamis, sesuai dengan tuntutan jaman. Sedangkan agama, bersifat perineal dan tetap artinya ajaran-ajarannya bersifat kekal dan berlaku sepanjang jaman. Mengubah ajarannya berarti reformasi atau bidaah atau penyesatan. Keyakinan agama juga hanya terbatas pada kelompok tertentu.

    Namun apakah agama tidak berperan dalam politik? Agama tetap membutuhkan politik dan politik membutuhkan agama. Agama membutuhkan politik karena agama juga berkaitan dengan persoalan atau eksistensi manusia. Bagaimana mungkin orang bisa mendengarkan ajaran agama jika perutnya keroncong? Ingat, kemiskinan selalu menjadi ibu dari kejahatan. Perang dan pembunuhan banyak sekali dimotivasi oleh persoalan ekonomi. Persoalan kemiskinan atau persoalan eksistensi manusia inilah yang harus tuntas diurus oleh politik.

    Jika politik menjamin kebebasan beragama, keadilan ekonomi dan kesejahteraan manusia maka disitulah politik menjadi sahabat agama. Namun kenyataannya tidak demikian, politik tidak selalu baik. Kenyataan seperti ini menuntut kehadiran agama. Namun kehadirannya seperti apa? Konsep universal agama mengedepankan moral, kebaikan, keadilan dan pribadi manusia yang baik. Pendidikan nilai adalah tugas agama-agama. Agama menciptakan karakter anak bangsa atau karakter politisi supaya lahirlah banyak politisi yang tidak korupsi dan bertindak terpuji, pejabat yang melayani rakyat dan memprioritaskan kepentingan bangsa.

    Nah, bagaimana realitas hubungan agama dan politik di Indonesia? Politik kita belum menjamin kesejahteraan rakyat. Keadilan distributif belum merata. Namun agama malah tidak menjadi penentu dan menengahi persoalan politik demikian, tetapi justru ikut merunyamkan negeri ini. Konflik agama terus terjadi, agama terus menarsis diri dalam bentuk yang memuakkan. Konflik dan narsis agama seperti ini disebabkan oleh agama dipolitisir dan oleh egosentris yang berlebihan.

    Untuk itu, kita mesti melakukan perubahan. Kita memerlukan tokoh agama yang menjadi panutan moral dan pengajar kedamaian serta tidak mudah tergiur oleh kamuflase politik. Agama harus memposisikan dirinya sebagai pendidik moral dan kebaikan dan menyuarakan suara profetis. Kita perlu menentang politisi yang memperalat agama dan mesekularisasikan agama. Politisi yang cendrung mempermainkan isu agama, justru merupakan tanda politisi itu tidak adil dan rakus kuasa. Ia jelas tidak bisa berlaku adil karena ia hanya membela jasa golongannya saja. Kalau tidak begitu, ia hanya memperalat agama saja. Politisi yang mempermainkan isu agama adalah politisi yang distruktif dan merusak hakekat agama itu sendiri.

    Sekarang mari kita cerdas! Kita mencintai bangsa yang besar ini dan bertanggungjawab secara bersama-sama. Kita harus beragama secara berkualitas karena agama adalah spiritualitas hidup kita. Jika manusianya berkualitas, berkaraktek maka tercipta pula politik yang baik dan berkualitas. Hakekat politik selalu mengutamakan kepentingan bersama, karena itu mari kita bergotong royong membentuk politik yang baik tanpa membedakan suku, agama dan ras.


    Penulis : Yasrat Tamsa    Sumber :Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Allah Kok Jadi “Kuda Joki” Politisi? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top