728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 30 Maret 2017

    Aksi 313: Bela Islam atau Bela yang Lainnya?

    Akhirnya! Setelah ditunggu-tunggu setelah sekian lama, sequel Aksi (yang katanya) Bela Islam sebentar lagi akan ditayangkan. Adalah hari Jumat tanggal 31 Maret 2017 yang menjadi tanggal penayangan perdana dari sebuah tayangan yang diproduksi oleh GNPF MUI Production. Sesuai dengan yang sudah – sudah, bahwa judul akan disesuaikan dengan tanggal penayangannya, sehingga nama untuk Aksi (yang katanya) Bela Islam jilid ke….. ke berapa yah ini? Pokoknya namanya menjadi  Aksi Bela Islam 313.

    Tuntutannya masih sama, ngga jauh – jauh lah dari tuntutan sebelumnya, yaitu ingin Ahok sebagai Penista Agama. Tema ini ternyata masih sangat diminati oleh banyak orang, tentunya orang – orang yang sudah terlanjur meneruskan “perjuangan” menggoreng isu agama untuk mencapai tujuan politik tertentu.

    Kenapa saya selalu konsisten bahwa aksi – aksi selama ini yang didasarkan isu tentang agama ini merupakan aksi “pesanan” oleh pihak – pihak tertentu? Karena memang sudah banyak diperlihatkan bukti – bukti bahwa dari awal ini hanyalah settingan belaka.

    Pernyataan para Ulama

     Dalam setiap kesempatan kaum bumi datar selalu meneriakkan bahwa apabila ada Ulama yang didzalimi, maka mereka akan membela para Ulama tersebut. Hal yang sangat bagus menurut saya, patut dicontoh tidak hanya oleh umat Islam saja, tetapi umat agama lainnya juga harus seperti itu. Itu tandanya pasti akan mendengarkan seluruh himbauan dan seruan dari para Ulama, wong didzalimi aja pasti dibela, pasti kalau Ulama ngomong, ya diindahkan tentunya. Tetapi Ulama manakah sebenarnya yang akan dibela? Karena sejauh mata memandang, saya perhatikan hanya Ulama – ulama yang secara terus – menerus memprovokasi umatnya dan menghina orang lain dalam setiap kesempatan berbicaralah yang dibela. Ulama seperti Gus Mus yang jelas – jelas dihina oleh Pandu Wijaya di Twitter saja, kaum bumi datar diam seribu bahasa.

    Yang sedang hangat dan paling mengejutkan menurut saya adalah pengakuan dari Ahmad Ishomuddin dalam sidang Ahok ke-15 yang diminta oleh tim pengacara Ahok untuk menjadi saksi ahli di persidangan atas nama pribadi. Beliau adalah Ulama yang memiliki jabatan – jabatan penting yaitu sebagai Rais Syuriah PBNU periode 2015-2020 dan juga sebagai Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat periode 2015-2020. Jabatan terakhir itu lah yang menurut saya menjadi kunci dan sangat krusial dalam kasus Ahok ini. Memang beliau hadir sebagai saksi ahli yang mendalami ilmu fiqih dan ushul al-fiqh, dan jujur saya pun kurang mengerti, makanya ada beliau sebagai ahli hehe…

    Menjadi kunci dan krusial, karena pernyataan beliau yang mengatakan: “Dalam hal terkait Pak BTP (Ahok), saya tahu bahwa dalam mengeluarkan sikap keagamaan yang menghebohkan itu MUI Pusat tidak melakukan tabayyun terlebih dahulu, baik terutama kepada Pak BTP (Ahok) maupun langsung kepada sebagian penduduk Kepulauan Seribu, karena MUI Pusat merasa yakin dengan mencukupkan diri dengan hanya menonton video terkait dan memutuskan Ahok bersalah menistakan Alquran dan Ulama. Padahal dalam Alquran diperintahkan agar umat Islam bersikap adil dan sebaliknya dilarang zalim, kepada siapa saja meskipun terhadap orang yang dibenci. Maka janganlah berlebihan dalam hal apa saja, termasuk jangan membenci berlebihan hingga hilang rasa keadilan,”.

    Seperti yang sudah pernah ditulis oleh penulis – penulis seword lainnya tentang Pak Ahmad Ishomuddin, yang akhirnya dipecat oleh MUI, bahwa dalam mengeluarkan Fatwa MUI, MUI sendiri tampaknya tergesa – gesa dan gatal ingin mengeluarkan Fatwa tanpa melakukan tabayyun terlebih dahulu. Yang ngomong ini Wakil Ketua Fatwa MUI Pusat Periode 2015-2020 pada saat Fatwa MUI tersebut dikeluarkan loh guys. Coba deh difikirkan secara dalam menggunakan logika dan hati. Jangan hanya hati aja.


                                                       Sumber: Gusmus.net


    Selain itu pernyataan dari Gus Mus yang berkali – kali menyatakan: “Gusti Allah kenapa selalu diajak kampanye?” Terakhir dalam acara pengajian yang digelar oleh LDNU Jawa Barat di Masjid Raya Bandung, Gus Mus kembali lagi menyatakan: “Masak urusan Pilkada Gusti Allah diajak? Saya tanya, apa arti sampean mengucapkan Allahu Akbar? Apa, kok enggak ada yang jawab? Allah Maha Besar, sebesar apa Allah kok sampean mengatakan terbesar? Wong pengajian akbar, masjid akbar, dan imam besar juga ada, apa Tuhan sebesar itu? Ketika Allahu Akbar, di kepala sampean ada siapa? Kalau mengucapkan Allahu Akbar, tapi di dalam kepada terpikir Haji Sulam Jualan Bubur. Jangan sembarangan Allahu Akbar dulu, bahwa banyak ulama pingsan karena tahu betapa kecil kita ini. Bersamaan dengan 7,5 miliar penghuni di kacang hijau yang sudah saya besar tadi”.

    Sekali lagi, Gus Mus yang ngomong loh, bukan saya. Dan pada saat Gus Mus berkata “pada saat Allahu Akbar, di kepala sampean ada siapa?” itu sebenarnya dan seharusnya bisa menyadarkan kalian wahai kaum bumi datar dan menjelaskan kepada Bapak dan Ibu diseluruh Indonesia, bahwa janganlah agama dijadikan alat. Agama apapun dan untuk kepentingan apapun. Bahwa sesungguhnya yang menodai agama itu ya orang – orang yang menggunakan agama untuk suatu kepentingan.

                                                      
                                                       Sumber: Youtube


    Dan yang terakhir saya ingin mengambil pernyataan dari Almarhum Gus Dur. Almarhum pernah jauh – jauh mengunjungi Bangka Belitung, untuk membantu kampanye dari seorang Ahok yang kala itu sedang mencalonkan diri untuk menjadi Gubernur Bangka Belitung pada tahun 2007.

    Orangnya sama, Ahok, yang diomongin sama, Surat Al – Maidah ayat 51, yang ngomong ini Alm. Gus Dur, kalau diantara kalian semua tidak mengakui Alm. Gus Dur sebagai Ulama sih ya saya udah ngga ngerti lagi harus gimana. Hehe..

    Dalam cuplikan Youtube, tampak jelas bahwa Alm. Gus Dur menyatakan bahwa intinya Surat Al – Maidah ayat 51 tidak dimaksudkan dan tidak bisa dipakai untuk pemilihan Kepala Daerah. Saya kira sudah sangat jelas yah untuk menafsirkan apa yang Almarhum Gus Dur katakan pada saat itu.

    Peristiwa – peristiwa Ulama GNPF MUI


    Dalam berjalannya waktu, banyak peristiwa – peristiwa yang menimpa para Ulama – ulama yang selama ini semangat menghina dan memprovokasi umat tidak hanya kepada Ahok, tetapi juga kepada Presiden Jokowi.

    Mulai dari Firza Hots, lalu ketidak seimbangan salah satu Ulama Jawa Barat terkemuka dalam menyampaikan banjir Jakarta. Padahal di Jawa Barat sendiri banjir, tapi diem aja. Sampai yang terakhir masalah “poligami” yang 7 tahun dan memiliki anak, yang mana istri pertamanya tidak tahu kalau sedang di “poligami”. Eh nanti dulu, jadi itu bisa disebut poligami atau selingkuh? Ah bingung saya.

    Apakah iya, Ulama – ulama yang terhormat ini patut untuk diindahkan himbauan – himbauannya? Apakah kita ingin mengikuti Ulama yang sexting dengan teman istrinya sendiri? Atau Ulama yang peduli terhadap daerah orang lain sementara daerah sendiri tidak peduli? Atau Ulama yang membohongi istrinya sendiri selama 7 tahun dan punya anak dari istri ke-2 nya. Istri sendiri aja dikibulin pak, apalagi orang – orang yang nggak kenal terus diteriakin supaya disuruh bela Islam padahal dirinya sendiri dibiayain umroh mewah sama salah satu Paslon.

    Sampai yang terakhir, memang ini bukan dari Ulama, seorang Ridwan Kamil yang seorang laki – laki muslim, bertutur kata sopan dan berkinerja baik, yang sudah menyatakan ingin maju sebagai Gubernur Jawa Barat yang diusung oleh Partai Nasdem pun tidak luput dari fitnah. Ridwan Kami difitnah sebagai penganut Syiah, padahal kurang apa coba seorang Ridwan Kamil? Ridwan Kamil saja yang menurut kacamata politik Indonesia sebagai sosok yang “sempurna”, masih saja difitnah, apalagi seorang Ahok.

    Jadi sebenarnya apa yang dibela? Ulama yang manakah yang dibela? Membela Islam? membela Ulama? atau membela yang lainnya?

    Apabila tidak dapat melihat dan merasakan dengan LOGIKA, janganlah HATI yang buta digunakan untuk merasakan dan melihat.

    Salam 313!


    Penulis :  Fitroh   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Aksi 313: Bela Islam atau Bela yang Lainnya? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top