728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 22 Maret 2017

    Akibat Pilih Ahok

    Gambar : www.assets-a2.kompasiana.com/items/album/2016/10/09/91905-meme2bahok2b13-57f967ff4c7a612c31982119.jpg
    Yusra berjalan menuju sebuah altar besar. Ada mimbar di hadapannya dengan patung Yesus di salib di atasnya. Dia bersimpuh di hadapan altar tersebut. Kedua tanggannya dirapatkan seperti ingin berdo’a. Wajahnya mendongak ke atas melihat ke arah salib tersebut. Entah apa yang dikatakannya. Mulutnya terlihat komat-kamit.

    “Bangunlah anakku!” ujar seorang Pendeta yang datang menghampirinya dari sisi kanan.

    Yusra terlihat kaget. Dipandangnya lelaki tua yang lengkap menggenakan seragam hitam-hitam Pendeta. Dia pun bangkit dari simpuhnya.

    “Ajarkan saya untuk menjadi pemeluk kristen,” pinta Yusra kepada sang Pendeta.

    “Maaf, agamamu apa?” tanya Pendeta sambil mengajaknya duduk di kursi panjang tempat biasa para jema’at duduk ketika beribadah.

    “Saya muslim, Pendeta. Tapi saya sudah tidak kuat lagi,” ujar Yusra dengan suara pelan dan wajah tertunduk ke bawah.

    “Apa yang membuatmu tidak kuat? Bukankah agama Islam agama yang baik? Apa masalahnya, Nak?” tanya Pendeta lebih lanjut.

    “Saya dikucilkan, Pendeta. Saya dikucilkan oleh keluarga saya. Dikucilkan oleh tetangga-tetangga saya. Saya tidak bisa terus bersama mereka jika seperti ini,” jawab Yusra dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

    “Kenapa kamu dikucilkan? Apa salahmu sehingga mereka begitu marah kepadamu, Nak?” tanya Pendeta penasaran dengan penuh kesabaran.

    “Ini soal pilihan, Pak Pendeta. Saya tidak mengikuti ajakan mereka agar pilihan saya sama dengan pilihan mereka. Saya punya pilihan sendiri, yang saya yakini itu pilihan terbaik saya. Tidak seharus mereka mendesak saya agar pilihan saya sama dengan mereka,” papar Yusra, sambil membetulkan rambutnya yang menutupi wajah.

    “Maaf, ini soal pilihan apa? Saya tidak mengerti maksudmu? Tolong jelaskan dengan jujur kepada saya,” minta Pendeta kepada Yusra.

    “Begini Pendeta. Pada Pilkada putara pertama lalu saya pilih Ahok. Sedangkan semua anggota keluarga saya pilih yang lain. Begitu pun dengan tetangga-tetangga saya. Pokoknya mereka pilih selain Ahok,” papar Yusra.

    “Apa masalahnya kalau pilih Ahok? Ini soal politik. Semua orang bebas memilih siapa saja,” tutur sang Pendeta sambil menyerahkan segelas air mineral kepada Yusra.

    “Justru di situlah masalahnya,” Yusra mulai menceritakan apa yang terjadi.

    ***

    “Pokoknya, lu besok jangan pilih Ahok, kalau lu pilih Ahok, lu boleh pergi dari rumah ini,” ancam Yanto, kakak Yusra yang paling tua ketika makan malam.

    “Apa salahnya milih Ahok, Bang?” tanya Yusra protes.

    “Ya salah. Tanpa alasan apapun. Pokoknya kalau lu pilih Ahok keluar dari rumah ini,” tutur Yanto lebih tegas lagi.

    Yusra hanya terdiam. Gairah makannya hilang tiba-tiba. Padahal, nasi dan lauk-pauk di piringnya masih banyak. Mau dibuang sayang. Pelan-pelan disuapnya kendalam mulut makanannya.

    “Kita ini muslim. Sudah kewajiban kita memilih dan membela yang muslim juga,” tutur Atikah, istri Yanto, kakak ipar Yusra.

    “Ahok kerjanya bagus Kak. Yang gampangnya aja deh, rumah kita ini kalau datang hujan sedikit aja langsung banjir. Sekarang, setelah adanya pasukan oranye yang dibentuk Ahok, gak pernah banjir lagi kan. Karena semua kali yang selama ini tersumbat udah pada bersih,” Yusra berusaha membela diri.

    “Itu mah, siapa aja gubernurnya pasti bisa,” ujar Yeyen, adik bungsu Yusra.

    “Percuma deh ngomong keberhasilannya, kalau mulutnya kaya comberan. Lu liat aja sekarang, dia diadili karena diaggap menista agama,” tutur Yanto.

    “Itu kan baru diadili. Belum terbukti. Kalau pun nanti di pengadilan dianggap terbukti, kan masih bisa banding, kasasi dan seterusnya. Urusannya masih panjang. Lagian ini kan menurut gua pengadilannya politis aja. Karena lawan-lawannya gak mau Ahok menang,” tutur Yusra.

    “Udah deh. Lu gak usah banyak omong. Kalau gua tahu lu besok coblos Ahok, lu tanggung akibatnya ya. Jangan salahin gua kalau tegas ke lu. Gua gak peduli biar adik gua, tapi kalau gak bela muslim, ya udah, jangan hidup sama gua,” tutur Yanto dengan nada tinggi sambil meninggalkan meja makan.

    Yusra hanya bisa terdiam. Yang lainnya pun memadang Yusra dengan penuh kebencian. Tak tahan dipandang dengan wajah-wajah tak bersahabat, Yusra meninggalkan meja makan dengan piring masih penuh menuju kamarnya.

    Di dalam kamar Yusra kalut. Dia bimbang soal pilihannya besok. Jika dia memilih Ahok, ancaman dari keluarganya sudah jelas. Dia harus keluar dari rumah. Sedangkan memilih yang lain, tidak sesuai hati nuraninya.

    “Ya sudah. Lihat besok saja,” ujar Yusra dalam hati.

    ***

    Hitungan hasil pemungutan suara di TPS 20, tempat Yusra dan keluarganya memilih baru saja usai. Pasangan Ahok-Djarot kalah jauh dibandingan dua pasangan lainnya. Warga tampak sumringah dengan kekalahan Ahok di TPS tersebut. Sesama warga pun saling mengucapkan selamat.

    “Besok lu boleh pergi dari rumah ini. Bawa semua pakaian lu. Terserah lu mau tinggal di mana. Yang pasti, lu bukan adik gua lagi,” ujar Yanto ketika bertemu Yusra saat hendak masuk dalam kamar.

    “Ternyata, lu mengkhianati keluarga lu sendiri. Lu munafik. Lu milih kafir. Gak layak lu tinggal di sini. Gua gak mau keluarga kita dikucilkan sama tentangga gara-gara lu. Dari pada kita semua kena getahnya, mendingan lu pergi dari sini,” tutur Yeyen, tak kalah sengitnya.

    Yusra hanya terdiam. Dia sudah yakin pasti hal ini akan terjadi. Baginya tak ada pilihan lain selain harus meninggalkan kakak dan adiknya. Karena percuma saja dia bertahan di rumah warisan kedua orang tuanya itu kalau dia dikucilkan.

    “Ya udah, gua keluar malam ini juga. Biar lu semua puas,” kata Yusra.

    “Ya udah. Bagus kalau lu sadar diri,” ujar Yeyen.

    Yusra masuk dalam kamar. Dimasukkannya beberapa pasang pakaian ke dalam tas ranselnya. Setelah menggenakan sepatu, dia beranjak keluar kamar.

    “Gua pergi. Maafin gua kalau dianggap bikin malu keluarga ini,” ujar Yusra kepada yang lainnya sambil berjalan menuju pintu keluar.

    Yanto dan Yeyen hanya memadangi Yusra dengan wajah dingin. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut keduanya. Yusra pun menghilang dari padangan mereka.

    ***

    “Seperti itulah ceritanya,” ujar Yusra sambil meminum air yang diberika Pendeta tadi.

    “Kamu tinggal di mana selama ini, Nak?” tanya Pendeta dengan lembut.

    “Saya tinggal di rumah teman. Tapi gak mungkin saya di sana terus. Gak enak juga sama orang tuanya. Saya mau pindah agama saja, Pendeta. Percuma saya Islam kalau tidak diterima keluarga saya. Apalagi saya sudah dicap kafir oleh mereka. Biarlah saya jadi kafir sekalian. Biarlah saya jadi murtad. Saya tidak sanggup dengan tekanan ini,” papar Yusra dengan suara terisak.

    “Nak. Pindah agama itu perkara mudah. Saya ajarkan kamu tentang kristen mugkin tak lama kamu bisa memeluk agama kristen. Tapi alasan kamu menjadi kristen, itu yang bagi saya tidak tepat,” ujar Pendeta menjelaskan.

    “Tak tepatnya di mana?” tanya Yusra.

    “Karena kamu pilih Ahok itu. Di kalangan kami pun ada yang memilih selain Ahok. Tapi bagi kami itu bukan perbedaan yang harus dipertajam. Kalau kami mau mempertajam, bisa juga kami melakukannya sepeti yang dialami kamu. Tapi, ini soal pilihan politik yang bagi kami tak bisa disangkutkan dengan agama,” ujar sang Pendeta.

    “Perdebatan di kami sekarang semakin tajam. Bahkan ada ancaman tak akan mensholatkan jenazah buat orang seperti saya yang sudah memilih Ahok. Bagi saya, ini tidak benar. Saya Islam sejak saya lahir, tapi saya merasa kehilangan Islam sekarang ini. Saya tidak lagi melihat wajah Islam yang saya kenal dulu. Wajah Islam yang saling mengasihi sesama Islam. Islam yang tak membedakan warna kulit, suku dan ras. Bahkan, Islam yang saya kenal sangat toleran dengan agama lain. Saya tak lihat lagi itu sekarang. Saya Islam, tapi saya tak dianggap Islam oleh Islam,” papar Yusra.

    “Nak, justru dalam keadaan seperti ini kamu harus bisa menunjukkan wajah Islam seperti yang kamu inginkan tadi. Tetaplah dalam Islam. Ini cobaan buat kamu. Kamu jangan kalah dengan tekanan seperti ini.  Kalau kamu pindah agama, itu hanya akan menambah buruk wajah Islam. Tetaplah dalam Islam, Nak. Masih banyak Islam lainnya yang toleran. Masih banyak Islam lainnya yang saling mengasihi,” papar Pendeta dengan nada tegas.

    “Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Tetaplah dengan agamamu, Nak. Yakinlah itu yang terbaik buatmu. Kalau soal pilihan yang berbeda, biarkan itu urusan antar manusia saja. Jangan ikutkan Tuhan dalam masalah ini,” pinta Pendeta.

    “Maafkan saya Pak Pendeta. Terima kasih atas nasehatnya. Apa yang Pendeta katakan, semakin menguatkan iman saya. Ternyata, saya harus tetap Islam. Saya harus berjuang menunjukkan wajah Islam yang sesungguhnya. Islam yang penuh kasih, bukan Islam yang penuh amarah. Islam yang menyirami politik dengan ajarannya yang penuh cinta. Bukan politik yang menyeret-nyeret Islam ke dalam kubangannya yang membuatnya hancur dan umatnya terbelah. Terima kasih Pak Pendeta,” ujar Yusra sambil membukkan badannya memberi salam kepada Pastor untuk pamit.

    “Kalau kamu sedang bimbang, datanglah ke sini. Kita bisa bicara di sini. Kasih Tuhan akan selalu mempertemukan kita, meski iman dan keyakinan kita berbeda,” tegas Pendeta sambil melepas Yusra di pintu masuk gereja.

    Yusra pun semakin ringan melangkah. Tak ada keraguan baginya untuk tetap berjalan membela yang diyakininya. Hampir saja dia murtad dari keyakinannya.

    Penulis :  Mike   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Akibat Pilih Ahok Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top