728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 10 Maret 2017

    Ahok Sudah Pasti Menang Pilkada!

    Menarik!
    Saya merewind semua kejadian di Pilpres 2014. Jokowi head to head dengan Prabowo dan apa yang menyerang Jokowi adalah Kampanye Hitam yang dikesankan seolah-olah pihak ke tiga yang melakukan.


    Selalu fresh dalam ingatan dan hey kawan, jangan pernah kalian lupa bagaimana Obor Rakyat menfitnah Jokowi mulai dari ibundanya yang dibilang seperti adik kakak karena beliau selalu terlihat awet muda. 

    Dan tuduhan konyol ini dipakai untuk mengarahkan fitnah lain pada tuduhan ke dua bahwa ibu Jokowi yang sebenarnya adalah seorang anggota Gerwani. Lalu muncul foto-foto orang-orang Gerwani editan meramaikan dunia maya. Issue PKI dilambung tinggi diburu oleh para pendengki. Segala macam opini hanya berisi kebencian yang tidak beralasan. Segala macam hujatan dilancarkan.



    Ada satu saat mereka juga mencoba menyerang Jokowi dari sisi Agama. Soal Jokowi yang sholat pakai kaos kaki saja bisa jadi viral! Tapi tidak mempan, soalnya Onta masih belum tiba di Indonesia dan Bumi Datar masih belum diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

    Dimana yah Front Pembela Islam dan Rizieq Shihab saat Pilpres kemaren? Ya di sarangnya. Mungkin mereka ga mau keluar ikut meramaikan soalnya dealnya tidak sesuai alias tidak tercapai kesepakatan angka untuk biaya logistik menggerakkan massa. Menggerakkan massa itu kan harus ada alasannya? Wah mencari-cari kesalahan orang itu gampang. Di Indonesia, fitnah yang diteriakkan keras dan berulang ulang, lama-lama rakyat akan percaya kalau hal itu nyata dan mereka akan lupa asal muasalnya fitnah. Apalagi tahun 2014, rakyat Indonesia pasti lebih bodoh dari sekarang.

    Pola serangan Paslon 3 di Pilkada sama persis dengan pola serangan Paslon 1 di Pilpres 2014. Kok bisa yah? Ya bisa, wong orang yang menyusun strateginya sama kok.

    Di putaran pertama, Paslon 3 lebih banyak diam dan menunggu. Paslon 1 yang aktif menyerang Paslon 2 yang notabene milik PDIP sama seperti Presiden kita sekarang yang juga milik PDIP ketika diusung menuju Pilpres. Manuver-manuver politik dan strategi yang dilancarkan Paslon 1 seolah didukung oleh Paslon 3, sampai-sampai mereka berdo’a bersama di Mesjid Istiqlal, saling pegang tangan dan mengesankan ini hajatan Paslon 1 dan Paslon 3 adalah Undangan Kehormatan.


    Hari-H tiba, pemungutan suara dilaksanakan dan Voila Paslon 1 gugur dan secara mengejutkan suara Paslon 3 hampir sama dengan paslon 2! Jujur saya tidak tahu apa yang Paslon 3 lakukan untuk meraup suara sebanyak itu. Disamping serangan-serangan yang asal bunyi pada Paslon 2 yang diaminin oleh FPI, ada kesan seolah Paslon 3 menyuruh warga untuk memilih, “Mana yang lebih baik dari 2 calon Pemimpin Muslim”. Apakah Paslon 1 yang tidak punya pengalaman di pemerintahan, anak dinasti Cikeas yang kalau menang Pilkada pasti Peponya yang mengendalikan atau Paslon 3 yang biarpun dipecat dari jabatan Menteri tapi seorang yang santun nan sopan lulusan S3 pula!

    Anyway, bravo Paslon 3!


    Tapi coba lihat sekarang. Strategi Paslon 3 untuk mematahkan Paslon 2 adalah dengan melancarkan kampanye hitam sama seperti apa yang terjadi pada Jokowi dengan Obor Rakyatnya. Ditambah keuntungan dari kekalahan Paslon 1, dan saat ini FPI sangat memerlukan tempat untuk menyelamatkan muka. Tanpa imbalan bahkan tanpa ajakanpun FPI dengan sukarela memutar haluan dari Paslon 1 ke Paslon 3 karena misi visi mereka adalah mengusung Pemimpin Muslim! FPI bilang, “Perjuangan Bela Agama harus diteruskan!”

    Cara-cara penyerangan Paslon 3 sama persis seperti waktu Pilpres dulu. Slogan Ahok si Penista Agama itu milik Paslon 1. Tapi spanduk-spanduk yang menyebar di Mesjid-Mesjid itu kerjaan Paslon 3. Dan rencana blusukan dakwah ke lorong-lorong yang ada di seluruh Jakarta memastikan semua muslim hanya pilih Paslon 3 adalah 100% ide FPI dan Paslon 3 hanya mengaminkan saja.

    Be real Saja

    Posisi Gubernur DKI Jakarta bukanlah posisi main-main yang bisa diduduki siapa saja, apalagi orang dari kubu lawan. Hubungan kerja antara Gubernur DKI Jakarta dan Presiden akan terus berkesinambungan.
     Keselarasan, kesamaan misi visi, kecepatan bekerja, singkronisasi dan sinergi, semuanya wajib ada diantara mereka untuk mewujudkan perubahan Indonesia.

    Anies yang mengatakan bahwa pemberhentian dirinya oleh Jokowi dari jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan karena Jokowi punya kepentingan. Sentilan sentimen ini ibarat duri dalam daging bagi hubungan Anies-Jokowi. Apalagi dibelakang Anies adalah Prabowo yang sejak kalah Pilpres nyata-nyata mencanangkan diri sebagai Partai Oposisi. Kita kan mulai paham gaya Jokowi berpolitik.

    Seandainya Partai Gerindra Memajukan Sandiaga Uno sesuai rencana awal sebagai Gubernur dan wakilnya bukan Anies Baswedan, kemungkinan menang bisa jadi benar. Karena antara Jokowi dan Uno, mereka tidak punya cerita di masa lalu. Sementara Anies, kita kenal dia pernah membakang perintah Presiden dan suka bekerja dengan cara dia sendiri tanpa melihat apa yang menjadi prioritas Istana.

     Kita lihat saja, selama Jokowi bertahta di Istana, dengan segudang rencana perubahan untuk Indonesia, saya ragu kalau Anies akan duduk di kursi DKI 1. Logikanya kan begitu, bukan? Kalau ini meleset, mungkin Pemerintah akan balik kanan dan membiarkan DKI Jakarta berkembang sendiri a la Anies Baswedan.


     Penulis  : Erika Ebener Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok Sudah Pasti Menang Pilkada! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top