728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 26 Maret 2017

    Ahok: “Kita Selesaikan Sekarang…”

    Di depan televisi, saya melihat wajah Ahok lelah. Ahok nampak pucat. Saya tidak tahu, apakah dalam acara televisi tidak ada tim perias wajah. Tapi malam itu, duduk berhadapan dengan Andy F. Noya, saya melihat wajah Ahok lelah.

    Barangkali kita semua juga lelah. Lelah dengan semua ribut-ribet pilkada Jakarta ini. Pilkada Jakarta 2017, dikatakan menjadi pilkada yang paling brutal. Tak kurang duit, tapi juga pikiran dan tenaga terkuras dan terus kita paksa keluarkan untuk pilkada Jakarta ini.

    Sesekali, Ahok terbatuk dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Andy. Batuk dari dampak kelelahannya barangkali. Ahok menjelaskan apa yang jadi suara hatinya, tentang segala keriuhan yang mengancam kebersatuan Indonesia. Kebersatuan, yang ditenun oleh para negarawan, pejuang bernama dan tak bernama, juga oleh rakyat-rakyat kere amoh, rakyat jelata dan jelita.

    Dalam acara Kick Andy dengan tajuk Suara Hati Ahok, satu hal yang membuat bulu kuduk berdiri adalah, saat Ahok mengatakan, “kita selesaikan sekarang….” Ahok menjelaskan, sejak Bung Karno jadi pemimpin negeri ini, ihwal suku, ras, agama, jadi masalah. Hingga kini, ketika usia Indonesia sudah terhitung sepuh, masalah itu belum selesai.

    Dan Ahok bilang, “kita selesaikan sekarang…”

    Politik identitas yang dicek-cok-kan dalam pilkada Jakarta telah menghajar pondasi kenegaraan kita. Politik identitas yang jorok dan penuh mbelek lencung itu, telah membanting tiang-tiang kebangsaan kita. Ahok sebagai warga keturunan Tionghoa sekaligus Kristen, menjadi bulan-bulanan oknum-oknum yang tak menyukainya. Sebagai etnis-agama minoritas, gelombang hantaman itu tak reda. Terus menghantam Ahok.

    Dan kita, orang-orang yang sedang memburu negarawan, membelanya. Kita yakin bahwa dalam diri Ahok, kita menemukan sosok negarawan itu. Makanya kita mendukungnya. Karena itu, kita tak boleh lelah meski pun lelah. Ahok yang terlihat lelah, dan kita yang juga lelah, tapi harus terus melangkah. Karena ihwal politik identitas yang menggencet sosok negarawan dengan kinerja luar biasa sedang dirong-rong habis-habisan oleh barisan burung pemakan bangkai busuk!

    Sejak Kerapatan Pemoeda kedua pada 1928, dengan menghasilkan naskah yang kita kenal saat ini sebagai Sumpah Pemuda, identitas kesukuan dan keagamaan itu dipertaruhkan demi Indonesia. Karena itu, mereka bertanah air satu, berbangsa satu dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Entah dari Padang, Sunda, Jawa, Madura, Ambon, Manado, semua luruh dihadapan Indonesia.

    Sejak saat itulah, benang demi benang ditenun untuk menciptakan kebersatuan Indonesia dari Aceh hingga Papua! Tapi kini, tenun kebangsaan itu koyak-moyak oleh segerombolan orang yang mengusung isu keagamaan untuk menjegal sang negarawan kita, Basuki Tjahaja Purnama. Mereka mempermasalahkan agama, dan suku, bukan pada kinerja inovatif dan pemerintahan yang bersih hasil kerja kerasnya.

    Penggulingan isu politik identitas untuk menabok dan menjegal Ahok, menjadi konsumsi sampai se-Indonesia. Semangat intoleran, menolak pemimpin non-muslim meski kinerjanya luar biasa bagus, merembet kepada orang-orang yang mendukung kaum fakir pikiran tentang memilih pemimpin harus muslim meskipun secara akhlak dia koruptif dan brengsek. Ini adalah sebuah kekeliruan yang fatal, yang akan menghancurkan Indonesia dibalik slogan-slogan NKRI Bersyariah.

    Menurut direktur Populi Center, penggunaan politik identitas ini jelas menguntungkan paslon Anies-Sandi. Kita sendiri telah melihat rentetan fakta paling nyata senyata gajah di pelupuk mata, saat nenek Hindun meninggal dan jenazahnya tidak dirawat secara wajar, Anies belum memberikan reaksi apapun. Terkesan ada pembiaran.

    Baru ketika kabar nenek Hindun itu benar-benar membadai, surat instruksi merawat jenazah dari Anies baru keluar. Respon terlambat Anies yang justru terlihat sok menjadi pahlawan tapi kesiangan. Sekian spanduk menolak mengurus jenazah yang meninggal dan bertuliskan tuduhan munafik, kini diturunkan oleh pihak berwajib. 700an spanduk!

    Bahkan Buya Syafi’i Ma’arif, sang intelektual dari Muhammadiyah itu marah dengan kebrutalan gerombolan yang mengatas-namakan agama untuk mencabik-cabik persatuan Indonesia, khususnya Jakarta. Betul kata Ahok. Mari kita selesaikan sekarang. Kita melihat kinerja orang-orang yang memiliki jiwa negarawan sejati demi Indonesia, tanpa harus melihat identitas kesukuan dan keagamaannya.

    Seperti yang dikatakan oleh Tompi, kita mendukung orang yang memiliki visi dan kinerja untuk kemajuan peradaban Indonesia, dan kebetulan yang ada dalam posisi itu adalah Ahok. Ini bukan soal membela Ahok belaka, tapi ini soal membela seorang negarawan yang memiliki kesadaran, kejujuran, dan keberanian, untuk membuat keputusan-keputusan yang membela rakyat jelata dan jelita.

    Mari kita selesaikan sekarang! Keperbedaan suku, agama, ras, yang selalu diplintir oleh para politikus yang tidak suka dengan kinerja seorang negarawan sejati, harus kita lawan dengan kedewasaan berpikir dan kewarasan nalar. Demi bangsa Indonesia!


    Penulis :   Slamet Wicaksono   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok: “Kita Selesaikan Sekarang…” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top