728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 29 Maret 2017

    Ahok Djarot Satu Suara, Anies Sandi Pecah Suara, Baru Puber?

    Melihat situasi politik beberapa hari ini, kita melihat siapa pasangan yang sudah dewasa, siapa pasangan yang masih belum berpengalaman dan baru mengalami “pubertas” politik. Orang dewasa merupakan orang yang sudah memiliki pendirian yang kuat dan memiliki prinsip yang tegas. Mereka adalah pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta.

    Ahok Djarot yang sudah dewasa di dalam pemikiran

    Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, dua orang yang memiliki kecerdasan intelektual dan kematangan di dalam pola pikir. Mereka sadar bahwa masing-masing dari mereka saling memengaruhi di dalam memberikan perspektif publik Jakarta di dalam kontestasi Pilkada. Inilah yang menjadi kematangan dari Ahok dan Djarot.

    Pubertas pemikiran dan program kerja Anies Sandi

    Berbeda dengan pasangan Anies Sandi yang saling klarifikasi di dalam menyatakan kesalahan masing-masing. Satu inkonsisten, dan yang satu “itu-itu saja”: Inkonsisten di dalam program DP rumah yang inkonsisten bergabung dengan OK OCE yang digencarkan oleh mereka.

    Terlihat sekali jiwa kanak-kanak yang ingin menjadi dewasa. Ingin menggapai langit, apa daya tangan tak sampai. Begitulah kira-kira yang dialami dan sedang digeluti oleh pasangan Anies Sandi. Semua program yang berlubang, ditambal begitu saja tanpa adanya pemikiran yang lebih jauh.

    Dalam hal ini, Anies Sandi merasa memiliki pendukung yang kuat dan solid, yaitu FPI, Prabowo, Hary Tanoe, dan yang paling berbahaya dalah Cendana. Masih banyak polemik internal yang menyerang diri pribadi mereka. Mereka seperti anak menjelang remaja, mengalami pubertas.

    Dana kampanye Sandiaga Uno harus kembali 100 persen PLUS bunga. Seperti KJP Plus..

    Dana kampanye yang dihabiskan oleh satu orang, Sandiaga Uno, menjadi bom waktu bagi mereka. Mereka harus menang, jika mereka tidak menang, maka akan ada konflik internal yang akan pecah. Sandiaga akan menagih uang yang sudah dikeluarkan.

    Anies Sandi harus menang, jika ingin mengembalikan dana kampanye. Untuk menang, maka harga diri, persistensi, dan integritaspun dikorbankan. Lihat saja Anies yang menjual harga dirinya dan “melacurkan” idealismenya kepada Prabowo. Ia juga tidak segan-segan menghancurkan harga dirinya di dalam mencari dukunga kepada ormas radikal, FPI. Bahkan ia mencari bantuan “aseng” bernama Hary Tanoe. Betul-betul seperti anak remaja yang baru lepas puber, bukan?

    Efek samping yang merusak dan menghancurkan tujuan utama…

    Kekuatan Anies Sandi dari dukungan mereka, menjadi efek samping yang memperburuk situasi mereka sendiri. Seperti kata pepatah Inggris:

        Side effect overshadow the main purpose. – Anonymous

    Lagi-lagi efek samping yang didapatkan dari dukungan Prabowo, FPI, Hary Tanoe, dan Cendana, merupakan sebuah hal yang tidak terelakkan dialami oleh Anies Sandi, bom waktu. Kasihan mereka, Anies Sandi adalah alat yang digunakan oleh “orang besar” yang memiliki ambisi yang besar.

    Jangan sampai kita melihat hari depan Jakarta yang suram dengan terpilihnya Anies Sandi di kancah perpolitikan gubernur DKI Jakarta. Jangan sampai visi misi “revolusi mental” yang dicanangkan Presiden Jokowi dihancurkan dan diganggu oleh kedua “Remaja baru puber” ini.

    Hentikan seluruh motivasi-motivasi buruk dan kebangkitan hasrat penguasa yang sudah lama tertidur. Mereka berbahaya, jauh lebih berbahaya dari apa yang dapat kita pikirkan. Jangan sampai remaja puber ini menjadi remaja yang merusak Indonesia di dalam kebhinnekaan yang sudah ditenun oleh founding fathers Indonesia dengan darah dan keringat.

    Merdeka! Merdeka! Merdeka!

    Betul kan yang saya katakan?


    Penulis :  Hysebastian   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok Djarot Satu Suara, Anies Sandi Pecah Suara, Baru Puber? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top