728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 13 Maret 2017

    Ahok Dijadikan Kontak Sampah, Adilkah Kita?

    Suatu waktu (2012) saya mengikuti kuliah umum di IALF Denpasar Bali. Kuliah ini adalah selingan di tengah padatnya kegiatan Pre Depature Training (PDT) – training persiapan studi ke Australia.

    Kuliah umum diisi oleh dosen senior dari Flinders University Adelaide. Tajuk kuliah umum adalah kepemimpinan (leadership).

    Dari uraian dosen ini, ia menarik batas yang tegas antara kepemimpinan dengan manajemen. Manajemen diperoleh dari hasil studi (learning process), sedangkan kepemimpinan diraih dari pengalaman (experience). Pengalaman dari orang tua, kakek atau tokoh siapa saja.

    Dalam kaitan dengan kepemimpinan, maka Ahok menjadi model pemimpin dan kepemimpinan itu sendiri. Salah satu aspek kepemimpinan Ahok adalah melakukan audiensi dengan masyarakat sebelum memulai rutinitas di ruang kerjanya.

    Sebuah kebiasaan yang terbalik bila dibandingkan dengan pemimpin lain. Umumya, mereka masuk ruang dahulu baru melayani tamu. Itu pun dilakukan di dalam ruang. Sebaliknya Ahok melayani tamu sebelum aktivitasnya dimulai. Semuanya dilakukannya di pendopo balai kota.

    Ada sisi positif dari cara Ahok ini. Pertama, ia mematahkan protokoler yang kakuh. Tamu kerap dihadapkan dengan persyaratan administratif yang usang.

    Kedua, cara ini memungkinkan semua tamu bisa berjumpa dengan pemimpinnya. Tidak ada pilih kasih atau tebang pilih. Karena biasanya yang sering terjadi, petugas kerap memilih dan memilah-milah tamu. Ahok mengakhiri tradisi buruk ini.

    Ketiga, dengan cara ini Ahok memperlihatkan bahwa sesungguhnya balai kota sebagai rumah rakyat. Sehingga siapapun dia, yang namanya rakyat berhak untuk bertamu dan menjumpainya. Di sini, Ahok mempertegas bahwa rumah rakyat bukan hanya gedung DPR atau DPRD, semua gedung instansi pemerintah adalah rumah rakyat juga. Karena gedung-gedung itu dibangun dengan uang rakyat.

    Keempat, selain balai kota adalah rumah rakyat, Ahok mempertegas dirinya adalah abdi atau pelayan rakyat. Bukan tuan atas rakyat. Ia tidak  menunggu hormat atau sembah sujud dari rakyatnya di tempat-tempat terhormat.

    Kelima, tatap muka  langsung dengan warga memungkinkan Ahok mendengar secara langsung keluhan warganya. Lagi, ini sebuah tradisi kepemimpinan yang ditularkan oleh Ahok. Pada praktek, kebanyakan pemimpin lebih suka mendengar bawahannya daripada warganya. Tidak heran jika banyak laporan bawahan yang bersifat Asal Bapa Senang (ABS). Laporan dipoles sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan positif di mata pimpinan.

    Melihat pemandangan unik ini, penulis pun terenyuh. Terenyuh karena jarak antara pemimpin dan rakyatnya sebegitu dekatnya. Tidak disekat oleh dinding ruang dan dipantau CCTV. Juga tidak melalui seleksi staf yang kadang sok arogan. Banyak pula pemimpin yang susah ditemui ketika menduduki jabatan. Mereka datang dan dekat pada musim Pilkada saja.

    Pada titik ini, Ahok benar-benar bertindak sebagai kotak saran. Dengan audiensi langsung, kotak saran (box) menjadi tidak berguna. Masyarakat memilih untuk menyampaikan langsung kepada Ahok daripada menulis pada secarik kertas dan memasukan ke kotak saran. Bukan apa-apa, kebanyakan kritik dan saran menguap begitu saja di kotak suara. Kotak saran dianggap sebagai ornamen wajib yang tersedia di instansi pemerintah.

    Ahok menjadikan dirinya sebagai kotak saran yang hidup. Kotak saran yang mendengar dan mampu menjawab serta memberi solusi bagi masyarakatnya.

    Di sini letak kepemimpinan Ahok yang dapat dijadikan model bagi pemimpin manapun. Nilai kepemimpinan yang mungkin tidak diajarkan di bangku kuliah, tetapi kita dapat memperolehnya di dunia nyata. Ya, dari orang-orang yang kita jadikan panutan dan memiliki kemampuan unik.

    Sayangnya, di tengah Ahok sebagai kotak saran, bersamaan pula Ahok dijadikan sebagai kotak sampah oleh pihak-pihak yang menentangnya. Sebagai contoh, ketika banjir melanda Jakarta, Ahok menjadi sasaran tuduhan kinerja buruk. Segala sumpah serampah pun tertuju padanya.

    Soal banjir adalah salah satu contoh peristiwa alam. Kejadian alam yang mestinya dipandang dari berbagai aspek, tetapi pihak-pihak tertentu mempolitisasi sedemikian rupa untuk mendiskreditkan Ahok. Sementara Ahok telah berkali-kali membeberkan data dan fakta serta upayanya untuk mengurangi titik banjir. Kalaupun ada wilayah atau kawasan yang dilanda banjir adalah daerah yang belum ditangani karena masalah pembebasan lahan dan sebagainya.

    Soal macet Ahok dianggap sebagai biangnya. Padahal Ahok telah berupaya untuk mengurai kemacetan dengan membangun infrastruktur transportasi seperti MRT dan mengeliminasi moda transportasi pada jalur-jalur tertentu. Terbilang kemacetan teratasi, tetapi Ahok tetap menjadi pihak yang salah.

    Singkat kata, Ahok adalah kotak sampah. Tempat menampung segala masalah, sumpah serampah dan kebencian. Apa saja masalah di DKI Jakarta, Ahok adalah sebabnya. Mereka lupa dan pura-pura tidak tahu ada sebab lain yang menyebabkannya.

    Mencermati kepemimpinan Ahok, dipandang dari sisi publik sebagai pemimpin yang berwajah dua, satu sebagai pemimpin yang berwatak kotak saran (bagi rakyat yang mendukungnya), sisi lain sebagai pemimpin berwajah kotak sampah (bagi sekelompok masyarakat yang membencinya). Apapun rupa wajah itu atau atribut yang disematkan pada Ahok, ia tetap menjadi model kepemimpinan yang patut ditiru.

    Sebagai pemimpin yang berwajah kotak sampah sekalipun, ia tetap komit dan konsisten melayani masyarakat. Semakin ia sebagai sosok tertuduh dengan segala sumpah serampah dan kebencian, semakin berkualitas ia menghadapinya.

    Menjadi pemimpin harus menghadapi segala konsekuensi baik positif maupun negatif. Ahok berada pada jalur itu. Menjadi kotak sampah, barangkali menjadi sesuatu yang hina. Baginya, ia menjadi cemerlang secemerlang ide-ide gilanya untuk membangun Jakarta.

    Ahok telah memerankan diri sebagai kotak saran yang hidup dan responsif. Saban pagi warga menjambanginya di balai kota. Ini sebuah model pelayanan yang baik.

    Bagi pembencinya, ia menjadi kotak sampah. Bukankah dari kotak sampah, sampah-sampah itu dapat diubah menjadi sesuatu yang berharga? Tidak ada yang mustahil dari kotak sampah inilah, sampah-sampah ini didaur ulang menjadi emas. Ahok mampu melakukannya. Namun pertanyaan, dengan kita menjadikan Ahok sebagai kotak sampah, apakah kita bersikap adil kepadanya?

    Penulis : Giorgio Babo Moggi    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok Dijadikan Kontak Sampah, Adilkah Kita? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top