728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 29 Maret 2017

    Ahok dan Henk Ngantung, Akankah Berakhir Sama?

    Gonjang ganjing Pilkada DKI Jakarta putaran kedua semakin lama semakin panas dirasakan. Sayangnya isu SARA masih mendominasi musim kampanye ini. Sebenarnya jika kita mau menengok sekejap ke belakang, sejarah mencatat jika Ahok bukan satu-satunya Gubernur non muslim yang pernah memimpin Jakarta. Selain Ahok, juga ada Hendrik Hermanus Joel Ngantung, atau biasa dipanggil Henk Ngantung.

    Mungkin takdir Tuhan, jika ternyata Ahok dan Henk Ngantung memiliki beberapa kesamaan yang ajaibnya masih relevan dengan situasi dan kondisi bangsa saat ini. Berikut beberapa persamaan diantara mereka :
    1. Henk Ngantung dan Ahok sama-sama keturunan Tionghoa dan beragama non muslim. Ahok Kristen, Henk Katolik Roma.
    2. Sebelum menjadi Gubernur, Henk Ngantung menjabat Deputi Gubernur. Jabatan tersebut sama saja dengan Wakil Gubernur saat ini.
    3. Henk Ngantung diangkat menjadi Gubernur Jakarta oleh Presiden Sukarno. Sedangkan Ahok diangkat menjadi Gubernur Jakarta oleh Presiden Jokowi di Istana Negara. Pelantikan Ahok ini termasuk langka, karena biasanya Gubernur dilantik di gedung DPRD bersama dengan wakil dari Kementrian Dalam Negeri. Lebih unik lagi karena Jokowi merupakan kader PDI-P yang Ketua Umum nya ibu Megawati Soekarnoputri, anak kandung dari Presiden RI ke satu, Sukarno.
    4. Henk Ngantung menjabat sebagai Gubernur Jakarta dalam kurun waktu yang sangat singkat,  kurang lebih hanya 1 tahun (1964-1965). Sedangkan Ahok jika dihitung dari bulan November 2014 sampai Oktober 2017 nanti, masih kurang dari tiga tahun lamanya, itu pun belum dipotong masa cuti kampanye Pilkada Jakarta putaran satu dan dua selama hampir 6 bulan. Jadi efektif Ahok sampai akhir masa jabatannya nanti Oktober 2017 total hanya dua tahunan saja aktif menjadi Gubernur Jakarta. Sama-sama singkat waktunya.
    5. Henk Ngantung diberhentikan dari kursi Gubernur karena situasi politik pada tahun 1965 adalah masa-masa sulit santernya isu PKI (Partai Komunis Indonesia).  Henk yang dekat dengan Sukarno tak ayal terkena imbasnya. Kita bandingkan dengan kondisi politik saat ini dimana isu kebangkitan PKI mulai dihembuskan kemana-mana. Contohnya klaim Rizieq Shihab tentang adanya lambang PKI berupa palu arit di semua uang kertas NKRI yang baru. Selain itu PDI-P, sebagai partai politik yang paling menjiwai nilai-nilai perjuangan Presiden Sukarno, kini paling santer diberitakan sebagai PKI. Sehingga Presiden Jokowi pun ikut terkena dampaknya, banyak yang memfitnah Jokowi adalah anggota PKI. Jadi Henk Ngantung dan Ahok sama-sama dekat dengan Presiden RI yang terkena panah-panah fitnah PKI.
    Sayangnya saya tidak mendapatkan pemberitaan yang valid tentang kepemimpinan Henk Ngantung selama masa singkatnya menjabat Gubernur Jakarta, sehingga tidak bisa membandingkan dengan Ahok yang tingkat kepuasan masyarakat Jakarta cukup tinggi, sekitar 70%. Tapi tidak tertutup kemungkinan jika Henk Ngantung yang walaupun hanya setahun memimpin Jakarta juga sudah banyak membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Karena isu PKI dan tidak adanya kebebasan media pemberitaan, sehingga ditenggarai banyak fakta sejarah yang ditutup-tutupi.

    Lalu bagaimanakah kehidupan Henk Ngantung setelah tidak menjabat sebagai Gubernur Jakarta? Sangat memprihatinkan. Henk Ngantung dicap sebagai pengikut PKI tanpa pernah diadili atau disidang di Pengadilan. Henk Ngantung juga hidup dalam kemiskinan, sehingga harus menjual rumahnya di pusat kota untuk pindah ke perkampungan.

    Kesukaan Henk melukis terus berlanjut meski digerogoti penyakit jantung dan glaukoma yang membuat mata kanan buta dan mata kiri hanya berfungsi 30 persen. Pada akhir tahun 1980-an, dia melukis dengan wajah nyaris melekat di kanvas dan harus dibantu kaca pembesar. Sebulan sebelum wafat, dalam keadaan sakit, pengusaha Ciputra memberanikan diri mensponsori pameran pertama dan terakhir Henk Ngantung. Henk Ngantung meninggal dunia pada usia 71 tahun, tanggal 12 Desember 1991.

    Janda Henk Ngantung, ibu Hetty ternyata pernah mendatangi Balai Kota Jakarta dan bertemu dengan Ahok yang saat itu masih menjabat sebagai Wakil Gubernur. Setelah itu berdasarkan pengakuan anak ketiga Henk, Kamang Solana Ngantung, bahwa Ahok rutin memberikan dana sebesar Rp 3 juta setiap bulannya dari kantong pribadi untuk ibu Hetty sampai akhirnya ibu Hetty meninggal dunia pada bulan September 2014.

    Setelah berbagai kesamaan antara Henk Ngantung dengan Ahok di atas. Apakah Ahok akan terus mengikuti jejak Henk yang hidup miskin, sengsara dan dicap PKI sampai akhir hayatnya? Maunya kaum sumbu pendek penghuni bumi datar ya seperti itu, hehehe…

    Menurut saya, tergantung apakah Jokowi dengan jurus tendangan tanpa bayangan-nya mampu tidak, menangkis seluruh serangan bertubi-tubi dari berbagai pihak yang tidak menyukai pemerintahan beliau? Jika tidak, maka ada kemungkinan jika nasib Ahok pun akan mirip-mirip Henk Ngantung. Tapi bagaimanapun Ahok dan Henk Ngantung adalah dua orang berbeda yang hidup di jaman yang berbeda. Dengan majunya teknologi dan kebebasan pemberitaan, tidak semudah itu menutup-nutupi fakta kebenaran di lapangan.

    Dan diluar semua itu, unsur kuasa Tuhan pun sangatlah penting, malah mungkin memegang kartu Truf pada ‘permainan’ ini. Kita doakan saja yang terbaik bagi para pemimpin bangsa.

    Those who do not learn from history, are doomed to repeat it…


    Penulis : Yaya   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok dan Henk Ngantung, Akankah Berakhir Sama? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top