728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 14 Maret 2017

    Ahok Altruis Sejati, Anies Pragmatis Oportunis Sejati

    Dalam dunia politik yang dikenal adalah menang dan kalah, berhasil dan gagal . Dalam dunia politik berlaku hukum demikian, siapapun yang mendukung adalah kawan sementara yang tidak mendukung adalah lawan. Jika kawan, maka saat menang dalam pertarungan politik, maka akan mendapat imbalan, entah materi atau jabatan. Sementara yang lawan atau yang tidak mendukung tidak akan pernah diperhatikan, atau malah bahkan akan dihancurkan hidup atau minimal kariernya.

    Dengan logika  berpikir yang demikian ini, maka altruisme  adalah barang “haram” dalam dunia politik. Karena altruisme adalah sebuah tindakan sukarela  yang didasari oleh sebuah paham berpikir tertentu, yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk membantu/menolong orang lain tanpa pernah mengharapkan imbalan apapun untuk dirinya sendiri. Mungkin hanya satu “harapan” yang diharapkan si altruis, yaitu tertolongnya orang lain.

    Gendering perang pilkada tahap dua di Jakarta semakin nyaring terdengar. Semua seolah berpacu dengan waktu untuk menarik simpati masyarakat. Tujuan  dari upaya menarik simpati itu hanya satu, banyak yang memilih dan akhirnya memenangkan pertarungan pilkada. Hanya itu tujuan sebuah pertarungan politik, menang dan kalah.

    Mencermati pertempuran politik di pilkada Jakarta, kita tidak bisa melepaskan fokus pada para pasangan calon. Dan dari personal pasangan calon itu, Ahok nampaknya masih menjadi magnet yang sangat menarik perhatian untuk semua. Dan ternyata yang mengamati palagan “kurusetra” Pilkada DKI Jakarta adalah semua orang dengan tanpa batasan apapun.  Ahok dengan segala keberadaannya, segala kontroversinya (yang menurut saya sih positif) ternyata sungguh sangat mampu menggaet banyak suara yang bisa memenangkannya dalam putaran pertama.

    Dalam tulisan ini saya hendak menganalisa  para pasangan yang sedang beratrung, namun sosok Ahok akan mendapatkan prioritas lebih. Pokok analisa saya adalah keberadaan Ahok sebagai seorang altruis sejati. Ahok berani melawan arus yang sangat deras dalam dunia politik di Indonesia. Dimulai semenjak menjadi bupati di Belitung Timur, kemudian saat menjabat sebagai komisi II DPR pusat yang sekarang beritanya tetamg dugaan korupsinya  sedang hangat. Ahok menolak semua program yang tidak menguntungkan masyarakat. Ahok Menolak E-KTP karena di dalamnya ada sebuah agenda tersembunyi, yaitu saling memperkaya diri.

    Keberadaannya sebagai pejabat di ibukota negara, sebagai wakil gubernur juga menggoreskan jejak sebagai altruis. Ia hanya bekerja demi orang lain, tidak memperkaya diri dan ada selentingan bahwa dia mengikuti bosnya (Jokowi) untuk tidak menerima gaji, hanya menandatanganinya saja.  Terkait cerita ini memang perlu dicek kebenarannya, silakan seworder membantu mengecek kebenaran berita ini. Semua itu adalah bukti bahwa Ahok berjiwa altruis dan memang seorang altruis sejati. Altruis sejati adalah orang yang bekerja hanya untuk kepentingan orang lain, atau setidak-tidaknya lebih mementingkan kepentingan orang lain. Atruis sejati adalah orang yang dengan rela dan berani tunduk pada peraturan yang sah dan disepakti oleh semua masyarakat dalam wujud perartuan dan perundangan.

    Itulah sisi altruis dari Ahok. Dan sekarang sang Altruis sejati itu kembali ikut melibatkan diri dalam pilkada demi meniti jalan eksistensi diri berbakti untuk negeri. Ahok ikut bertarung dalam pilkada DKI demi lebih melebarkan sayap altruismenya, bukan untuk memperkaya diri. Ahok ikut bertarung dalam pilkada DKI Jakarta demi memberi contoh, memberi teladan tentang apa itu demokrasi, apa itu mengabdi, apa itu memimpin sebuah negeri. Ahok bertarung dalam pilkada DKI demi memberi contoh apa itu altruis sejati.

    Lawan politik Ahok tidak memiliki jiwa atau ruh altruis, dan menurut saya, musuh dari altruis adalah pragmatisme. Orang pragmatis cenderung oportunis. Dan orang oportunis selalu gagal memanfaatkan “rasa malu” demi mendapatkan apa yang diimpikannya. Hal demikian memang ada di lawan politik Ahok dalam pilkada DKI Jakarta putaran 2. Anies dan Sandi buka tipe altruis, mereka justru menampakkan sisi pragmatis oportunis yang handal.

    Banyak catatan atau laporan yang bisa disimpulkan bahwa mereka adalah kaum pragmatis oportunis sejati. Menggulirkan program tidak rasional dan hanya bersifat bombastis, ikut model kampanye Ahok dan juga Agus yang sudah kalah dengan tanpa rasa malu (oiya, mereka sudah kehilangan rasa malu ding), contoh ini semisal saat Anies menghadiri warga DKI yang memiliki hajad. Pertanyaan sederhananya adalah, dalam kapasitas apa dia menghadiri hajatan orang yang tidak dikenalnya kalau tidak hanya untuk merampas hak pilih warga itu? Setelah terpilih dan (semoga jangan) menang, maka sebagai pragmatis oportunis sejati, Anies akan melupakan janji-janjinya, mereka karena hanya akan fokus mengembalikan modal kampanye.

    Jadi jelas, Ahok adalah altruis sejati yang ikut pilkada hanya supaya bisa menolong orang sebanyak-banyaknya. Tidak ada tujuan pribadi untuk memperkaya diri. Sedangkan dipihak seberang, mereka ingin memenangkan pilkada DKI Jakarta karena ingin berkesempatan lebih mengeruk kekayaan dari jabatan yang sedang diperjuangkan dengan bertaruh segalanya. Bertaruh relasi, bertaruh sumpah akademi, bertaruh modal dan bahkan bertaruh harga diri.
    Sekarang tinggal warga Jakarta, apakah akan memilih si altruis sejati yang pasti akan menolong rakyat untuk hidup sejahtera atau akan memilih si Pragmatis oportunis yang berjuang hanya demi kemenangan dan demi kesempatan mendapatkan memperkaya diri?
    Silakan tentukan Pilihan Kalian Saudaraku Warga Jakarta

    Salam Altruis

    Penulis :  Dony Setyawan   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok Altruis Sejati, Anies Pragmatis Oportunis Sejati Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top