728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 13 Maret 2017

    336 Spanduk Provokatif Dicopot, Memang Ahok Semenakutkan Apa Sih?

    Spanduk bernada provokatif sudah marak dan banyak di pasang beberapa waktu lalu. Dan menurut Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono, sampai detik saya menuliskan ini, sudah ada 336 spanduk provokatif yang sudah diturunkan. Rinciannya adalah Jakarta Pusat 56 buah, Jakarta Utara 80 buah, Jakarta Barat 87 buah, Jakarta Selatan 71 buah dan Jakarta Timur 42 buah. Spanduk tersebut berisi larangan untuk mensalatkan jenazah bagi pendukung dan pemilih Ahok, yang menjadi terdakwa dalam kasus dugaan penistaan agama. Lihat gambar di bawah dan saksikan sendiri.

    Tulisannya yaitu mengimbau untuk memboikot muslim yang mendukung penista agama dan tidak mensholati mayatnya dan tahlilan untuk dimakamkan. Saya berpikir begini, rasanya kok orang yang sudah meninggal pun harus dihukum karena beda keyakinan dan pilihan politik, dan yang lucunya alasannya dikaitkan dengan agama. Rasanya tidak pas mencampurkan apa yang ada di politik dengan apa yang ada di agama. Spanduk-spanduk dan berita mengenai jenazah yang tidak dishalatkan seperti yang terjadi baru-baru ini adalah salah satu bentuk pemaksaan dengan menggunakan agama padahal itu berada dalam ranah politik.

    Spanduk yang berjumlah 336 dan bersifat provokatif bukan jumlah yang sedikit. Ini yang sangat mengkhawatirkan. Beginikah wajah demokrasi kita sekarang ini? Agama pun dimanfaatkan dan diperas habis-habisan demi kepentingan politik, demi ambisi meraih kursi DKI-1. Saya tidak urus siapa yang memasang ini. Yang jelas pasti ada orang yang memasang, tidak mungkin yang memasang adalah hantu. Dan satu yang pasti dan tak terbantahkan, hanya ada satu calon yang diuntungkan dan satu calon dirugikan. Saya tidak perlu sebutkan namanya karena anak kecil pun pasti sudah tahu akan hal ini.

    Saya sebenarnya malas mengatakan ini, tapi biarlah kali ini saya ulang lagi. Pemasangan spanduk provokatif ini bukan sifat gentleman dalam Pilkada. Banyak yang sudah mengatakan ini, tapi akan saya ulangi lagi. Agama dijadikan alat untuk mengalahkan Ahok karena mungkin cara konvensional dengan adu gagasan tidak mempan lagi. Jalur depan tidak mampu mengalahkan Ahok, maka terpaksa menggunakan jalur belakang. Jika cara yang jujur tidak mempan, maka terpaksa digunakan cara tidak sportif. Banyak yang bilang hanya ada satu cara kalahkan Ahok yaitu dengan menggunakan sentimen agama. Saya awalnya kurang setuju, tapi kali ini saya terpaksa setuju. Setelah melihat banyaknya jurus model beginian, saya makin yakin ada yang kalang kabut dan kepanasan jika Ahok menang di putaran kedua.

    Menurut Sumarsono, spanduk-spanduk tersebut bukan hanya dicopot oleh Satpol PP saja tapi juga oleh kesadaran warga dan tokoh masyarakat setempat. “Spanduk itu termasuk yang penolakan menyalatkan jenazah di masjid-masjid. Saya kira itu termasuk beberapa spanduk yang sifatnya provokatif dan nggak layak. Saya ucapkan terima kasih kepada warga dan tokoh masyarakat yang ikut berpartisipasi menurunkan spanduk sendiri,” kata Sumarsono.

    Dan uniknya di Kepulauan Seribu, tidak ada satu pun spanduk yang ditertibkan. Dengan kata lain, tidak ada spanduk provokatif di sana. Bukankah itu aneh, Ahok yang katanya menista agama di sana karena ucapannya, malah tidak ada spanduk provokatif sama sekali? Dari sini saja sudah jelas, ini hanya politisasi yang menggunakan agama. Agama dijadikan senjata pamungkas karena jurus politik sudah berhasil dimentahkan Ahok.

    Tidak perlu spekulasi siapa yang pasang, karena nanti ada yang kejang-kejang. Yang jelas Ahok paling dirugikan dengan insiden ini. Meski hanya spanduk, tapi efeknya tidak bisa dianggap sepele, apalagi jumlahnya 336 buah, dibantu dengan kekuatan dari media sosial yang membuatnya jadi viral. Cara kerjanya mirip seperti iklan. Sekali dua kali mungkin tidak efektif. Tapi pesan yang dibaca dan diingatkan berulang kali akan tertanam kuat di dalam pikiran sehingga efeknya jadi permanen. Ujung-ujungnya yang rugi adalah orang yang menjadi objek dalam spanduk tersebut.

    Putaran kedua kali ini lebih terasa aroma agama daripada politik. Menurut perkiraan saya, pada putaran pertama, sentimen agama tidak separah ini kecuali beberapa gerombolan yang bikin rusuh yang terus melakukan pemaksaan. Tapi karena Ahok lolos ke putaran kedua, ditambah lagi ada beberapa orang yang mulai seperti ular kepanasan, maka digunakanlah sentimen agama dengan dosis beberapa kali lipat atau bahkan sudah overdosis. Dan sejarah akan mencatat ada Pilkada DKI yang menggunakan sentimen agama dan spanduk provokatif demi menjegal seorang calon pemimpin non muslim. Sejarah yang memalukan bagi generasi mendatang.

    Bagaimana menurut Anda?


    Penulis : XHardy   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: 336 Spanduk Provokatif Dicopot, Memang Ahok Semenakutkan Apa Sih? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top