728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 13 Maret 2017

    100 Kiai Muda NU Putuskan BOLEH Memilih Pemimpin Non-Muslim, Masih Mau Dibohongi PAKAI Al-Maidah 51?

    “Terpilihnya non-muslim di dalam kontestasi politik, berdasarkan konstitusi adalah sah jika seseorang non-Muslim terpilih sebagai kepala daerah. Dengan demikian, keterpilihannya untuk mengemban amanah kenegaraan adalah juga sah dan mengikat, baik secara konstitusi maupun secara agama,” ungkap KH Najib Bukhori, yang menyampaikan hasil Bahtsul Masail kepada wartawan di PP GP Ansor, Minggu (12/3/2017)

    Sebuah pernyataan singkat yang mendatangkan musibah besar bagi seorang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat ia berkata “Jangan mau dibohongi pakai Al-Maidah 51”. Dari pernyataan tak tak sampai 13 detik ini, Ahok pun didemo hingga beberapa kali. Energinya banyak tersita menghadapi tuntutan massa yang merasa Ahok telah menista Kitab Sucinya.

    Apakah yang Ahok katakan merupakan sebuah penistaan terhadap Kitab Suci umat Islam? Soalnya, penduduk bumi datar berdasarkan “sikap keagamaan” yang dikeluarkan MUI secara “prematur” itu menetapkan bahwa Ahok memang menista Islam, menista Quran dan menista ulama. Tiga jenis penistaan dalam satu paket. Telak, membuatnya didemo berkali-kali.

    Umat pun terpancing. Tersulut emosinya. Terbakar rasa cintanya. Tidak hanya manusia yang berkumpul di Jakarta, tapi juga uang. Ratusan juta bahkan miliaran rupiah terkonsentrasi di Jakarta. Hingga akhirnya, uang-uang tersebut kini menjadi bencana bagi beberapa orang. Karena ada dugaan penyalahgunaan uang umat.

    Ahok katakan bahwa berkaitan dengan Al-Maidah 51 ia sudah meminta pandangan Gus Dur tentang itu. Soalnya, politisasi Al-Maidah 51, bukan hanya terjadi saat ia di Jakarta. Saat ia berniat menjadi kepala daerah di Babel, Al-Maidah 51 juga yang dijadikan senjata untuk menjatuhkannya. Itulah mengapa ia meminta pandangan Gus Dur berkaitan dengan ayat ini.

    Makanya, saat ada sebuah argumen mengatakan “Dibohongi pakai Al-Maidah 51 itu artinya ayat tersebut alat untuk melakukan kebohongan, jadi Quran dianggap sebagai sumber kebohongan”. Argumen inilah yang dipakai oleh saksi ahli bahasa dan agama saat sidang Ahok kemarin. Kan lucu. Masa kata “pakai” tidak dianggap disitu?

    ISIS menyembelih, menembak mati, menggantung, membakar, menjatuhkan dari bangunan yang tinggi mereka yang dianggap oleh ISIS kafir, munafik, dan lain sebagainya, itu semua berdasar pada Quran. Mereka “pakai” Quran untuk melegitimasi perbuatan keji mereka.

    Belum lagi soal budak-budak seks yang harus melayani para jihadis. Mereka juga “pakai” ayat Quran sebagaimana yang disampaikan Khalid Basalamah bahwa budak boleh digauli tanpa nikah.

    Belum lagi mereka yang berpoligami padahal tidak dalam keadaan yang urgen. Mereka “pakai” Quran untuk melegalkan syahwat mereka. Padahal poligami memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi.

    Jadi, adagium yang menyatakan “jangan mau dibohongi pakai ayat Quran” memang merupakan realitas yang tak terbantahkan. Tidak ada unsur penistaan disana. Toh, banyak kok yang menjual ayat-ayat Quran untuk melegalkan sebuah tujuan tertentu.

    Itulah mengapa, kemarin, Pengurus Pusat GP Ansor mengadakan sebuah acara yang bernama “Bahtsul Masail” (Pembahasan berbagai masalah) dengan tema “Kepemimpinan Non-Muslim di Indonesia”.

    Tema ini penting untuk meminimalisir politisasi Al-Maidah 51 yang dipakai untuk menjegal non-muslim turut serta dalam pesta demokrasi negeri ini.

    Hasil Bahtsul Masail yang diikuti sekitar 100 kiai muda dari berbagai pondok pesantren se-Indonesia itu, juga akan disosialisasikan ke daerah-daerah di seluruh Indonesia. Ini merupakan langkah brilian yang dilakukan oleh para kiai muda NU untuk menjaga stabilitas demokrasi negeri ini.

    Hasil yang telah diputuskan oleh 100 kiai muda NU ini merupakan jawaban atas keraguan yang timbul di masyarakat awam bahwa memilih non-muslim haram hukumnya yang akan berimbas pada diharamkannya jenazah mereka untuk dishalatkan.

    Ini juga menepis propaganda yang kini tengah berkembang di Jakarta soal pelarangan mengurus jenazah umat Islam yang memilih Ahok saat pemilihan. Hal ini disampaikan oleh Ketua GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas:

    “Bahkan, kecendurungan intoleransi sesama umat Islam semakin kasat mata dan tergambar dengan adanya spanduk di sejumlah masjid yang tidak menerima pengurusan keagamaan jenazah muslim bagi pemilih dan pendukung pemimpin non-muslim. Mengenai prinsip berbangsa dan bernegara, kami memandang bahwa dengan diterimanya NKRI, UU 1945 dan Pancasila sebagai sebuah kesepakatan para pendiri bangsa, yang salah satunya adalah tokoh NU KH. Wahid Hasyim, maka sebagai warga NU, kami menerima sistem bernegara dan berbangsa dalam bingkai NKRI. Dan karena itu, produk turunan dari konsititusi itu sah dan mengikat bagi warga NU dan tentunya warga Indonesia pada umumnya.”

    Penulis : Muhammad Nurdin   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: 100 Kiai Muda NU Putuskan BOLEH Memilih Pemimpin Non-Muslim, Masih Mau Dibohongi PAKAI Al-Maidah 51? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top