728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 27 Februari 2017

    Teroris Bom Panci di Cicendo Bandung Tewas Ditembak, Polisi Jahat?

    Yayat Cahdiyat alias Dani alias Abu Salam adalah seorang pedagang bubur sumsum yang juga anggota kelompok teroris Cikampek. Kelompok ini adalah bagian dari jaringan Darul Islam (DI) lama yang ada di Sawangan, Depok. Ber-ideologi Kartosuwiryoisme, secara keagamaan kelompok ini tidak begitu kaku seperti kelompok Salafi jihadis lainnya.

    Menurut pemberitaan di berbagai media, empat tahun lalu, 17 Mei 2013, Yayat dijebloskan ke Lapas Tangerang bersama beberapa terpidana teroris lainnya. Pria kelahiran Purwakarta 24 Juni 1975 ini dikenakan vonis tiga tahun penjara karena keterlibatannya dalam Syariat I’dad Asykari (pelatihan ala militer) di Aceh, serta serangkaian permufakatan jahat, dan perampokan di beberapa lokasi di kawasan Cikampek Jawa Barat termasuk perampokan SPBU Kali Asih.

    Kurang dari setahun setelah bebas, pada 27 Februari 2017, Yayat terkena peluru dalam baku tembak dengan pihak kepolisian ketika melakukan aksi teror bom panci di Taman Pandawa, kota Bandung, Jawa Barat. Sewaktu terkena tembakan, ia masih hidup dan pasti merasa sangat kesakitan. Yayat akhirnya tewas di perjalanan menuju rumah sakit.

    Janji dapat bidadari atau malahan panci?

    Sepertinya peristiwa ini sangat disayangkan karena pemikiran di balik itu sebenarnya bukan lagi berbicara tentang jihad agama, melainkan keinginan unutk merusak NKRI. Bukankah negara ini juga didirikan oleh para ulama dan kiai dan diperjuangkan dengan tetesan keringat dan darah pejuang Islam?

    Jika benar, lantas negara Islam seperti apa yang ingin mereka perjuangkan? Saya sangat khawatir apabila semakin banyak orang yang semakin banyak dibodoh-bodohi oleh orang-orang yang sembarangan mengutip ayat firman. Apapun itu agamanya. Ini yang tentunya menjadi kekhawatiran patriotis-patriotis negara Indonesia, di dalam menghadapi aliran keagamaan yang sangat ekstrim, dan cenderung anarkis.
    Meskipun bom berdaya ledak rendah, ia mencoba untuk membakar kantor kelurahan tempat persembunyiannya. Inipun sudah berbahaya, maka tidak heran jika polisi menindak teroris di tempat.

    Wakil Ketua Komisi 1, mau katakan “jangan langsung di-dor” lagi?

    Pada bulan Juli 2016, Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin mengimbau Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisaris Jenderal (Pol) Suhardi Alius agar tak semena-mena dalam memberantas terorisme. Ia mengatakan, sebaiknya terduga teroris tak langsung ditembak saat akan ditangkap.

    “Kalau menangkap teroris jangan langsung didor,” ujar Hasanuddin, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (20/7/2016).
    Dia mengatakan, pemberantasan terorisme harus berbasis penegakan hukum. Artinya, tidak bisa dilakukan secara sporadis dan semena-mena hingga mengakibatkan kematian seseorang yang masih berstatus terduga atau tersangka. Dengan cara ini, kata dia, setiap tindakan terhadap terduga atau tersangka terorisme bisa dipertanggungjawabkan dan tak melanggar HAM.

    Ini merupakan respon dari seorang yang tidak mengerti kebahayaan laten terorisme! Bagaimana mungkin teroris ini tidak langsung di-dor? Bukankah dengan tidak di-dor, akan lebih banyak HAM dari orang-orang lain yang dilanggar?

    Komnas HAM diam saja…

    Untuk hal ini, sebaiknya komnas HAM jangan banyak bicara, kasus ini sudah ditangani. Selama ini penegakan HAM untuk kasus terorisme sudah dilindungi oleh Polisi dan TNI. Maka, saya sarankan jangan buka suara untuk hal ini. Jangan membela, jangan juga menuding. Khusus untuk kasus terorisme, jikalau mau tenar, tenarlah dengan cara yang terhormat. Sejak kapan HAM itu bicara tentang hanya satu individu? HAM harus bicara tentang keseluruhan hayat hidup manusia secara utuh.

    Apresiasi Jusuf Kalla kepada Polri..


    Wapres JK angkat bicara mengenai hal ini. Ia mengapresiasi kerja Polri di dalam menjaga ketenangan dan kedamaian NKRI. Di Bandung, situasi berjalan dengan lancar dengan di-dor-nya teroris tersebut. Jelas-jelas membahayakan, maka demi hal yang lebih baik, maka teroris harus dilumpuhkan.

    “Kita punya kepolisian Densus dan tentara yang bekerja dengan sangat baik,” ujar JK di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (27/2/2017).
    Merekalah penista agama yang sesungguhnya..

    Seharusnya muncul pertanyaan yang sangat serius, apa yang orang-orang ini pahami tentang Islam dan jihad? Siapakah mereka?

    Mereka adalah segerombolan orang yang tidak memiliki sistem. Orang-orang semacam ini adalah orang-orang yang disebut dengan lone wolf. Mereka belajar sendiri, mereka menggunakan Youtube, dan berbagai media lainnya untuk belajar bagaimana membuat alat-alat peledak. Merekapun mendapatkan pelajaran online untuk mencuci otak mereka.

    Sepertinya mereka hanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengacaukan negeri ini.

    Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan adakah orang-orang dengan latar belakang strata menengah bawah, baik dari sisi ekonomi, intelektual maupun pemahaman agama ini sadar benar dengan apa yang sedang mereka lakukan? Apakah mereka paham tentang apa itu jihad? Apakah mereka benar-benar ingin mendirikan negara Islam? Sayangnya, mereka tidak dimasukkan ke dalam kategori penista agama!
    Betul kan yang saya katakan?

     Penulis : Hysebastian   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Teroris Bom Panci di Cicendo Bandung Tewas Ditembak, Polisi Jahat? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top