728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 25 Februari 2017

    Terlalu! Gara-gara Memilih Ahok, Jenazah Muslim DKI Diancam Takkan Disalati?

    Ilustrasi
    Beredar di berbagai grup WhatsApp sebuah “pengumuman” yang mengatasnamakan segenap ulama, habaib, kyai, ustadz dan ustadzah se-DKI. Pengumuman itu menyatakan bahwa mereka menolak hadir di semua majelis/acara/maulid dan lainnya di kampung-kampung DKI yang warganya memenangkan Ahok.

    Kata pengumuman itu, tindakan tersebut berlaku hingga putaran kedua Pilkada DKI, yakni 19 April 2017. Dan jika dalam putaran kedua, kampung-kampung tersebut masih tetap memenangkan Ahok maka mereka akan menolak hadir selama 5 tahun ke depan.

    Lebih dari itu, mereka juga bersepakat untuk tidak akan mengurus kematian, menshalatkan dan mendoakan warga yang nyata-nyata memilih Ahok. Hal ini berlaku di seluruh kampung di Jakarta.
    Pengumuman itu menyebut kampung-kampung berpenduduk Muslim di Jakarta sudah banyak yang munafik dan menjual aqidahnya dengan murah.

    Atas dasar itu, kata pengumuman itu, mereka tidak akan mengurus dan menyalatkan Muslim pendukung Ahok. Namun mereka menyarankan taubat bagi Muslim pendukung Ahok tersebut, sebelum ajal menjemput.

    Sampai sejauh itukah efek Pilkada DKI yang diikuti Ahok ini dalam kehidupan umat Islam? Sampai-sampai berakibat pada penyematan cap munafik kepada Muslim pendukung Ahok, bahkan diancam takkan diurus dan disalati jenazahnya oleh sebagian dari umat Islam sendiri.

    Ada beberapa teman yang meminta pendapat saya tentang konten pengumuman ini. Saya coba menanggapinya sebatas pemahaman saya.

    Pertama, saya tidak yakin bahwa pengumuman itu merupakan kesepakatan para ulama, habaib, kyai dam ustadz-ustadzah DKI. Bisa jadi itu ditulis oleh kalangan tertentu dengan mengatasnamakan para ulama dan lainnya itu, untuk memberi bobot dan bisa dipercaya oleh pembacanya. Bisa jadi ini hanya mencatut nama, untuk kepentingan politis.

    Namun jika pun misalnya ada satu dua kalangan yang berbuat seperti di pengumuman itu, maka saya lanjutkan tanggapannya di bawah ini.

    Kedua, dari segi kontennya, siapa pun yang membuatnya, menurut saya, isi pengumuman itu berlebihan. Terlalu. Seolah-olah seorang Muslim menjadi munafik hanya karena suaranya di Pilkada DKI. Masa barometer munafik ditentukan oleh seorang Ahok.

    Sebegitu luar biasanyakah Ahok sampai jadi barometer kemunafikan dan keimanan seorang Muslim? Di satu sisi, orang-orang itu membenci Ahok, tapi di sisi lain mereka malah mengangkatnya sebegitu rupa, amat tinggi. Seolah-olah tidak memilih Ahok merupakan bagian dari keimanan, dan memilihnya sebagai ciri kemunafikan.

    Ketiga, kalau yang menegaskan siapa yang mukmin dan siapa yang munafik itu Nabi Saw, maka setiap Muslim wajib percaya. Sebab beliau mempunyai hak dan berwenang untuk menentukan siapa yang mukmin dan munafik. Beliau seorang Nabi, yang berbicara dan bertindak selalu berdasarkan wahyu.

    Misalnya beliau pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, “Tidak mencintaimu kecuali seorang Mukmin. Dan tidak membencimu kecuali seorang munafik.” Nah, kalau yang menyatakan ciri mukmin dan munafik itu Nabi, umat Islam wajib percaya. Ketika beliau menyebutkan bahwa Ali menjadi penentu siapa Mukmin dan siapa munafik, kita wajib mempercayainya.

    Berkenaan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul yang merupakan tokoh munafik, itu sudah jelas kemunafikannya. Allah dan Nabi-Nya juga sudah menyatakannya, dan ia telah terbukti menunjukkan kemunafikannya di hadapan Nabi dalam banyak kasus, seperti saat Perang Uhud misalnya.

    Nah, kalau Nabi yang menegaskannya, maka sudah jelas dan selesai. Karena beliau memiliki otoritas dan wewenang. Beliau seorang Nabi yang berbicara dan bertindak hanya berdadarkan wahyu. Adapun sekelompok orang itu, apakah mereka mempunyai hak dan wewenang untuk menentukan keimanan dan kemunafikan seseorang? Apa hak mereka menentukan bahwa Muslim pendukung Ahok sebagai munafik dan pendukung selainnya sebagai Mukmin?

    Tapi kalau yang menentukan adalah mereka, apakah mereka punya kewenangan berdasarkan wahyu? Atau, apakah ada hadits Nabi yang menyebutkan seperti ini, “Tidak membenci Ahok kecuali seorang Mukmin. Dan tidak memilih Ahok kecuali seorang munafik.” Setahu saya, dalam Kutubut Tis’ah pun tidak ada, bahkan dalam derajat dhaif sekalipun.

    Keempat, ada sebagian orang yang coba membela pengumumuna di atas. Katanya, mengapa pendukung Ahok disebut munafik adalah karena dianggap khianat, dan khianat adalah ciri orang munafik.

    Seperti kita tahu, dalam hadits Nabi Saw, ada tiga ciri orang munafik. Salah satunya adalah apabila diberi amanat ia khianat.

    Nah, dalam konteks pilkada DKI, di mana objek amanatnya? Oke, mungkin bagi mereka, maksud amanat dalam hal ini adalah memilih cagub yang dalam KTP-nya tertulis beragama Islam. Sehingga ketika tidak memilihnya dianggap khianat.

    Kiranya perlu juga dipahami bahwa pendukung Ahok itu beragam. Khusus yang Muslim, di antara mereka ada yang memahami Islam secara substantif, tidak formalistik dan simbolik. Ketika yang diperjuangkan Ahok adalah juga nilai-nilai kebajikan universal yang mereka yakini ada dalam Islam, maka bagi mereka itu juga Islami. Sehingga ketika mereka memilih Ahok yang secara formal dan simbolik seorang Nasrani, mereka merasa tetap bersetia pada nilai-nilai Islam. Sebab, bagi mereka, substansi lebih penting ketimbang formalitas.

    Terlepas dari suka atau tidak dengan gaya dan karakter Ahok, mungkin Muslim pendukung Ahok itu lebih melihat sisi substansi Islamnya. Apalagi kebijakan Ahok terhadap umat Islam juga terasa dan berwujud, seperti pembangunan masjid Balaikota, renovasi dan perluasan masjid Sunda Kelapa, mengumrahkan 30 marbot masjid 2016, 40 marbot masjid 2017, dan lain-lain.

    Tentang makna kafir, umat Islam bisa berbeda pemahaman juga. Bagi mereka, kekafiran adalah mengingkari nilai-nilai substansi kebenaran Islam, dan sebaliknya, keimanan adalah bersetia pada nilai-nilai substantif Islam. Terlepas bahwa pandangan ini ada yang tidak sepakat, namun itulah yang mereka pahami dalam berislam. Bagi kalangan ini, kekafiran substantif lebih diperhatikan ketimbang kekafiran formalistik.

    Nah, terhadap cara pandang sebagian kalangan Muslim yang lebih melihat kerja substantif ketimbang identitas formalistik, apakah pantas mereka disebut munafik? Ini hanya perbedaan cara pandang terhadap Islam dan konsepnya…

    Kelima, hukum mengurus dan menyalati jenazah Muslim adalah fardu kifayah. Kewajiban ini tidak akan gugur sampai ada Muslim lain melaksanakannya. Dan pahala fardhu kifayah sangat besar, karena membebaskan umat Islam lain dari kewajiban.

    Jika orang-orang yang mengharamkan memilih cagub non-Muslim itu tidak bersedia menyalati sesama Muslim yang berbeda pilihan politik, maka kalangan Muslim yang lainnya bisa mengurus dan mensalatinya. Toh sangat banyak Muslim yang bisa mengurus dan menyalati jenazah Muslim. Bukan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa khutbah dan mengurus serta menyalati jenazah… Karena ini adalah ilmu dan keterampilan standar, bukan terlalu istimewa.

    Kita boleh berhusnuzhzhan, mungkin orang-orang yang tidak mau mensalati itu hanya hendak memberi kesempatan umat Muslim yang lain untuk menggugurkan kawajiban kifayah, sehingga kewajiban itu gugur dari kaum Muslimin, termasuk mereka. Itu berarti mereka memberi kesempatan orang lain berbuat baik kepada sesama.***

    Penulis : Mahya Lengka   Sumber : Seword .com

    (Berlanjut pada judul berikutnya)
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Terlalu! Gara-gara Memilih Ahok, Jenazah Muslim DKI Diancam Takkan Disalati? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top