728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 23 Februari 2017

    Terjadi Dehumanisasi Dalam Demokrasi di Indonesia

    Demokrasi mengamsusikan kedewasaan masyarakat, oleh karenanya dalam pesta demokrasi yang boleh terlibat hanya warga yang sudah masuk ke dalam kategori dewasa.  Dalam demokrasi masyarakat diberi ruang yang utuh untuk masing-masing pribadi sebagai subyek mandiri yang punya otoritas penuh demi menentukan hidup beserta masa depannya.

    Dalam sejarahnya demokrasi dilahirkan demi melawan kekuasaan atau kekuatan yang sangat kuat menguasahi manusia berlatar perbedaan jati diri kemanusiaan. Monarkhi sebagai salah satu sistem pemerintahan yang pernah ada, menempatkan pemilahan atau pembagian manusia ke dalam strata-strata tertentu. Beda strata akan mengakibatkan beda kuasa, ada strata yang berkuasa atau menguasahi dan ada strata yang dikuasai.
    Konteks yang demikian itu yang kemudian mejadi bidan lahirnya demokrasi. Kekuasaan di tangan rakyat atau masyarakat, bukan pada kelompok orang tetentu. Lahirnya demokrasi pastilah memiliki banyak latar belakang, baik geokultural maupun sosiokultural, namun pada intinya, demokrasi terlahir sebagai sebuah jawaban atas persoalan yang sedang terjadi saat itu. Demokrasi lahir sebagai upaya memulihkan hakekat manusia sebagai manusia yang memiliki otoritas mandiri terhadap diri dan hidupnya dalam kebersamaannya dengan yang lain.

    Pada akhirnya demokrasi berkembang dengan berbagai variannya, bergantung dari jaman dan juga konteks masyarakatnya. Dengan demikian, sebenarnya tidak ada itu yang namanya demokrasi murni, sesuai dengan asal mula lahirnya demokrasi (sebenarnya agamapun demikian,tidak ada yang murni,maka upaya puritanisme/pemurnian adalah upaya yang konyol). Namun demikian, meskipun wajah dan bentuk demokrasi menyesuaikan diri seperti tempat hidupnya, namun  harus tetap ada “ruh” yang sama dalam setiap varian demokrasi, yaitu upaya menempatkan manusia sebagai subyek kehidupan.

    Indonesia, sebagai sebuah entitas bangsa dan negara, pada akhirnya juga memilih demokrasi sebagai  pilihan sistem kehidupan berbangsa serta bernegaranya. Namun sekali lagi, demokrasi di Indonesia pasti (malah harus) bebeda secara model dan bentuk dengan demokrasi di tempat asal muasalnya. Namun sekali lagi, ruh demokrasi harus tetap ada, yaitu upaya menempatkan manusia sebagai subyek. Nah, inilah yang terjadi sebuah pengingkaran demokrasi dalam pesta demokrasi di Indonesia. Bagaimana logikanya?

    Demokrasi sebagai sebuah sistem pastilah memiliki kelengkapan. Beberapa kelengkapan demokrasi di Indonesia Antara lain, partai politik,  pemilihan umum, wakil rakyat,  kampanye dan batasan waktu kepemimpinan. Nah di dalam menjalankan kelengkapan demokrasi itu, yang seharusnya adalah upaya mengembalikan manusia sebagai subyek utuh untuk menentukan hidupnya, justru telah digadaikan dalam proses demokrasi. Sebagai contah sederhana berikut saya sampaikan hal-hal yang menyalahi hakekat demokrasi.

    Yang pertama, sebelum pesta demokrasi pastilah ada kampanye. Kampanye sebagai alat kelengkapan demokrasi dipahami sebagai upaya mempromosikan diri memalui program-programnya. Namun yang terjadi justru di dalam kampanye dijadikan medan perang saling menjelekkan lawan politiknya. Masyarakat tidak diajak untuk dewasa berpikir dan bersikap namun malah dijejali isu-isu yang bertujuan untuk sekedar kemenangan dirinya. Justru masyarakat ditarik ke dalam dua kutup yang bermusuhan,artinya dipaksa untuk menolak satu dan memilih yang lain,tanpa pernah memberikan kesempatan memilihnya sendiri.

    Yang kedua, penggunaan uang sebagai cara memaksa masyarakat ikut kelompoknya. Sudah bukan rahasia lagi kalau di dalam dunia demokrasi di Indonesia bahwa sehari sebelum pemilihan, ada yang namanya “Serangan Fajar”. Serangan fajar ini adalah upaya menyogok masyarakat untuk memilih tanpa mengenal dan mengerti siapa yang dipilihnya berserta program kerja yang ditawarkannya. Dalam hal ini, masyarakat (kumpulan manusia) dipaksa menggadaikan hidupnya selama waktu tertentu (biasanya 5 tahun) dengan sejumlah uang yang harganya tidak lebih dari upah harian dua hari kerja.

    Yang ketiga, kinerja wakil rakyat. Dalam demokrasi di Indonesia wakil rakyat sebagai  sebuah lembaga seharusnya  benar-benar bekerja untuk mewakili masyarakat terwadahi aspirasinya yang bertujuan untuk pemulihan harkat dan martabat serta hakekatnya. Namun sering kali (atau malah selalu ya??), wakil rakyat justru tidak memikirkan aspirasi rakyat, malah dalam bekerjapun malah tertidur.






    Tiga hal diatas yang hampir selalu terjadi dalam proses demokrasi di Indonesia. Dengan demikian, sejatinya dalam demokrasi di Indonesia, bukanlah upaya mengembalikan atau setidaknya menjaga harkat dan hakekat manusia sebagai ciptaan yang madiri,namun justru telah memberangus kemandiriaannya hanya dengan seberapa lembar uang dan provokasi berlatar etnis serta agama. Ketika harkat serta martabat manusia tidak dijaga serta dipertahankan maka itu bukanlah demokrasi. Dan andaipun itu masih dikatakan demokrasi,maka di dalam demokrasi itu sudah terjadi apa yang dinamakan dehumanisasi, yaitu sebuah proses yang menghilangkan martabat dan hakekat manusia.

    Dengan demikian, menjadi penting untuk kita semua,bahwa apapun sistem berbangsa dan bernegara,seharusnya tujuan utamanya adalah memulihkan dan menjaga martabat serta hakekat manusia seperti “kitah”nya sebagai ciptaan yang utuh dan sempurna serta mandiri. Oleh karena itu, untuk calon pemimpin daerah yang sudah terpilih, yang melanjutkan ke putaran dua, atau yang masih menjabat, ingatlah bahwa demokrasi kita tujuannya adalah memanusiakan manusia,bukan menjadikan manusia sekedar obyek pemuas ambisi kekuasaan. Bukan saja untuk para calon pemimipin dan para pemimpin, untuk masyarakat juga perlu sadar, jangan sampai jati diri kemunisiaan kita tergadaikan hanya dengan hal-hal yang sangat remeh.

    Semoga Bisa Memberi Pencerahan

    Salam Demokrasi



    Penulis :  Dony Setyawan    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Terjadi Dehumanisasi Dalam Demokrasi di Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top