728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 16 Februari 2017

    Sorak Hinaan, Hingga Minta 5 Kali Meyakinkan Hitung Ulang, Ahok-Djarot Menang di Markas FPI

    Pasangan calon gubernur DKI Jakarta nomer urut 2, Ahok – Djarot. Berdasarkan hasil data perhitungan saat ini menang di tempat pemungutan suara yang dikenal sebagai markas dari FPI. Tempatnya berada di Jalan Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

    Kita ketahui bersama bahwa TPS tersebut adalah lokasi pimpinan Front pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab menyoblos. Dimana secara logika nalar kita bersama  mengatakan bahwa tempat yang seharusnya dikuasai oleh suatu golongan masyarakat yang cenderung memihak salah satu pasangan calon dan tidak menginginkan salah satunya malah memberikan fakta yang berbeda dimana kondisinya saat ini ternyata malah paslon yang tidak mereka inginkanlah yang menjadi juara.

    Berdasarkan data yang ada disebutkan bahwa rekapitulasi suara awal dikatakan bahwa, pasangan nomer urut 2 yaitu Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat mendapatkan 278 suara, lalu disusul pasangan Anies Basewan dan Sandiaga Uno sebanyak 212 suara, dan pasangan Agus Yudhoyono dan Sylviana sebanyak 38 suara.

    Ketika berlangsungnya rekapitulasi suara ini juga dimeriahkan oleh sorak sorai pujian dan hujatan, sorak pujian terjadi disaat perhitungan suara ini dimulai ketika nama pasangan calon nomor urut satu, Agus dan Sylvi serta pasangan calon nomor urut tiga, Anies dan Sandi mendapatkan suara, namun hinaan berupa sebuah umpatan seperti nada “Huuuu…” terdengar saat nama pasangan Ahok dan Djarot disebutkan namanya.

    Kehebohan perhitungan suara di markas FPI ini tentunya tidak hanya itu, ketidakpercayaan warga anggota FPI terhadap hasil yang didapatkan didalam area wilayahnya tersebut mendulang polemik sehingga mereka menginginkan untuk diadakan rekapitulasi suara ulang bahkan hingga 5 kali. Beritanya dapat dilihat pada artikel ini.

    Walau berkali-kali dihitung ulang perubahan suara hanya terjadi sekali, yakni saat perhitungan suara kedua kalinya dilakukan, pasangan Ahok dan Djarot mendapatkan 1 nilai suara tambahan menjadi 279 dan tidak ada perubahan nilai suara pada calon pasangan nomor urut lain.

    Seperti yang dijelaskan oleh bapak Muhammad Hatim pada artikel yang dia buat tersebut dikatakan bahwa kemenangan pasangan calon nomor urut dua kali ini disebabkan adanya kemungkinan bahwa ada Silent Voter dan juga terlalu bersemangatnya FPI di area luar sehingga lupa membina lingkungannya sendiri.

    Hal-hal yang ingin saya kritisi disini hanyalah 1, yaitu mengapa saat calon nomor urut pasangan kedua disebutkan namanya malah mendapatkan umpatan berupa nada sinis? Apakah hal ini bisa dikategorikan sebagai rasisme? Mengapa hal tersebut dilakukan oleh masyarakat yang menyaksikan perhitungan disana? Lihat hasilnya, masyarakat yang tinggal di lingkungan tersebut justru tidak sepaham dengan apa yang kalian harapkan untuk tidak memilih pasangan calon nomor urut dua.

    Saya dan semua warga Indonesia ingin mempertanyakan tentang  sikap toleransi dalam islam terhadap realita yang terjadi disana, mengapa tindakan seperti itu perlu dilakukan saat harapan tidak seperti apa yang terjadi, bukankah hal seperti ini malah memperjelas bahwa tindakan rasisme seperti itu adalah tindakan yang radikal?

    Agama Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan. Kedalian bagi siapa saja, yaitu menempatkan sesuatu sesuai tempatnya dan memberikan hak sesuai dengan haknya. Dalam hal ini, hak suara yang sudah dihitung disana merupakan sebuah hak suara masyarakat dan hal tersebut SAH tidak gagal.
    Tidak ada kecurangan yang terjadi disana, kalian sendiri menyaksikan dan tentunya pasti juga mengawal berlangsungnya acara tersebut. Darimana bisa adanya kecurangan? Apakah kalian akan mengatakan bahwa perhitungan kali ini juga dilakukan dengan menggunakan “Ilmu Sihir” seperti yang dilansir pada artikel ini.

    Sikap lapang dada dan siap menerima kekalahan itu seharusnya melekat pada diri setiap individu agar kita sebagai bangsa yang cerdas dan beradab mampu memperbaiki kesalahan dan maju untuk melangkah, bukan keras kepala dan egois yang ditunjukan saat kenyataan ternyata berbeda dari apa yang diharapkan, malah kegagalan tersebut disangkal, ini seperti sebuah ajang membenarkan hal yang buruk dan sudah jelas salah, tapi dikatakan benar oleh orang yang egois dan keras kepala ini. Apabila bangsa di penuhi dengan orang-orang seperti ini, maka bisa di isi sendiri jawabannya oleh para pembaca..
    Kura-kura janganlah menjadi mereka !

    Penulis :  Bani Rizal   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Sorak Hinaan, Hingga Minta 5 Kali Meyakinkan Hitung Ulang, Ahok-Djarot Menang di Markas FPI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top