728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 12 Februari 2017

    Selamat Tinggal “Koh Ahok”, Selamat Datang “Pak “Basuki”

    Debat Kandidat #3

    Pada debat kandidat calon Gubernur DKI Jakarta ini terdapat beberapa kejadian yang cukup menarik untuk disimak, bahwa Koh Ahok sudah mulai sabar dan tenang, hal ini disampaikan sendiri oleh Djarot. Beliau dalam debat ini terlihat sangat geregetan ketika melihat konteks pernyataan  dari kedua pasang calon lainnya, baik Agus – Silvi atau Anies – Sandi.

    Kira-kira kutipannya seperti dimuat oleh Kompas.com :

    “Saking paniknya, tak tepuk-tepuk, cubit-cubit pahanya (Ahok). ‘Mas, gemes aku’,” kata Djarot

    “Saya kaget semalam. Pak Djarot bilang, ‘gemes aku’, saya dicubit, dipencet terus,” kata Ahok

    “Saking mau ngamuknya, saya bilang, ‘Mas, tenang Mas’,” kata Ahok

    “Alhamdulillah Pak Ahok sudah berubah jadi Basuki. Karena memang yang ikut Pilkada itu bukan Ahok, Ahok nya enggak ada. Tinggal Basuki-Djarot,” kata Djarot

     Strategi Pesaing

    Sudah menjadi perangai Koh Ahok biasa ceplas-ceplos, asal benar dan itulah tipikal beliau yang berasal dari Belitung, berbeda dengan Djarot yang berasal dari Jawa yang terbiasa dengan nilai unggah-ungguhnya, “rasa pekewuh” asal tidak kebangetan saja.

    Kedua pesaing sangat terindikasi berkolaberasi untuk menyerang bersama untuk menjatuhkan Ahok – Djarot. dengan membawa data yang kurang valid kebenarannya, terkesan asal tembak saja. Bagi orang waras apabila dihadapkan pada orang yang berpendidikan tapi “ngeyel” dan “pokoke”, tentu bukan perkara mudah untuk mengontrol emosi.

    Targetnya adalah Koh Ahok yang biasanya emosi apabila menghadapi hal salah dan menyerang area pribadi, harapannya blunder Ahok yang salah kata atau ucap – “Jackpot”, begitu pikir mereka. Sayang seribu sayang, bukannya Koh Ahok yang emosi tetapi malah Djarot yang mengaku kesal, terpancing oleh paslon pesaing yang “Koppig“. Selain itu Koh Ahok juga meminta supaya Djarot tidak gugup dan terpancing emosinya, sampai-sampai pahanya menjadi korban cubitan Djarot, meringgis tidak Koh ?

     Megawati dan Habibie

    Setelah drama 411 dan 212 yang mengantarkan Koh Ahok sebagai tersangka kasus penistaan agama (pemaksaan politik), Megawati sudah mewanti-wanti supaya Koh Ahok menjadi lebih sabar, tenang dan tidak perlu mengucapkan banyak pernyataan. Sesaat penulis berpikir Koh Ahok menjadi berbeda yang dulunya ceplas-ceplos sekarang menjadi sedikit diam. Tetapi mungkin hal ini yang terbaik supaya tidak terjadi blunder kembali yang bisa menjadi amunisi pesaing dan kaum titik-titik.

    Habibie yang juga ikut memberikan wejangan yang tidak kalah mantap untuk menghadapi persoalan yang mengarah pada serangan ranah pribadi bukan program kerja, yaitu jurus tersenyum seperti disampaikan Koh Ahok :

    “Itu mah gampang banget. Saya diajari oleh Pak Habibie, di dalam hati menangis pun, sakit pun tetap tersenyum,” ujar Basuki, seperti dimuat di kompas.com pada sesi konferensi pers usai debat #3.

    Koh Ahok mulai memahami arti namanya adalah Basuki yang berarti menjadi lebih santun, dan hal ini dibuktikan dalam kalimat penutup dalam debat final dengan berpamitan dalam bahasa Jawa :

    “Karena Ahok menjadi Basuki, makanya saya tutup dengan mengakhiri, matur nuwun, sugeng ndalu (terima kasih, selamat malam),” ujar Ahok.

    Djarot pun tidak mau ketinggalan dengan mengatakan :

    “Matur nuwun, sugeng ndalu, nggih,” ujar Djarot

    Apakah Pakde Jokowi ikut memberi saran, Penulis beropini, bahwa itu tentu saja saran yang diberikan dalam konteks bagaimana bertindak, berperilaku, sopan santun dan menjadi negarawan supaya negara ini tetap damai.

    Keindonesiaan

    Seringkali kita tidak sadar sedikit rasis karena sudah menjadi pakem atau kebiasaan dengan menyebut panggilah “Koh” yang berarti “Mas” atau “Cik” yang berarti “Mbak” dalam bahasa Jawa. Sebenarnya kedua kata ini normal-normal saja tetapi kadang kala kita lupa bahwa dalam sejarah bangsa ini banyak kasus SARA yang menuduh orang-orang keturunan “Cina” secara tidak bijaksana.

    Bagi daerah yang multietnis dan pada tataran kehidupan sosial sudah sangat dekat, menjadi biasa dan wajar tetapi, bisa jadi menjadi sebuah memori bawah sadar akibat pengalaman masa lalu dan kesenjangan ekonomi, pada saat terjadi perselisihan dengan mudahnya mengatakan kata “Cina” dalam arti rasis.

    Koh Ahok yang sudah memahami dirinya adalah Basuki tentu menjadi baik dan bagi anak bangsa lainnya, janganlah terlalu mudah melihat mereka secara sempit dan kerdil. Mungkin akan indah apabila di KTP tidak perlu mengisi kolom Suku, karena wilayah ini juga sama seperti wilayah Agama, adalah wilayah pribadi yang tidak perlu dipamerkan.

    Selamat tinggal “Koh Ahok”, selamat datang “Basuki”.

    Salam NKRI
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Selamat Tinggal “Koh Ahok”, Selamat Datang “Pak “Basuki” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top