728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 03 Februari 2017

    SBY Menyelamatkan Agus dari Najwa

    Pilkada DKI 2017 sudah semakin dekat, kurang dari 13 hari lagi masa pencoblosan akan dilaksanakan, 15 Februari 2017. Kepanikan langkah politik dari para paslon penantang Ahok terlihat dengan jelas, dari isu agama (penistaan), etnis, perpecahan dan ancaman ideologi dimainkan oleh para penantang paslon. Sementara petahana, Ahok dengan berbagai “bekal pengalaman dan bukti” tampil jauh lebih tenang, dengan ritme yang stabil dan begitu terorganisirnya barisan para pendukung partai dan para relawannya berjalan sangat kompak, tidak terpancing dari para ulah paslon penantang (nomor urut satu dan tiga).

    Para elit dari kubu penantang yang menampilkan kedua pasang sosok yang mereka usung, kini sudah mulai “turun gunung” untuk mengeluarkan jurus-jurus andalan mereka masing-masing. Paslon nomor urut tiga yang mengandalkan harapan masih adanya pendukung prabowo pasca pilpres 2014, kini ikut juga turun gunung untuk membantu paslon yang diusungnya (Anies-Sandi),  dengan selalu menyampaikan pesan-pesan menuju pilpres 2019 dengan maksud agar menjaga suhu dan dia tetap eksis dan tidak hilang dalam ingatan dimasyarakat, dengan selalu tampil ditengah paslon dan mengangkat kedua tangan para paslon, bergaya seperti main tinju dengan mengangkat tangan para petarungnya jika perolehan angka adalah draw dia lakukan  dalam setiap sesi foto bersama paslonnya.

    Begitupun SBY dengan ikut andil dalam kontestasi Pilkada DKI dengan memajukan anak nya untuk melanggengkan dinasti Cikeas agar dapat menempati posisi sebagai penguasa  DKI kelak. Terasa sangat gencar sekali manuver SBY untuk memenangkan sang putra mahkota, kini tampil dengan jurus andalan yang dia miliki yakni, mencoba menggiringg simpati masyarakat dengan menempatkan posisinya sebagai korban dan meminta belas kasihan dengan cara memutarbalikkan fakta dan menggeser kebenaran dan melakukan tuduhan-tuduhan kejinya.

    Adanya proses persidangan yang segala aktifitasnya dalam perlindungan payung hukum saja dia coba “mainkan”, dengan memfitnah bahwa dia disadap, dan melalui mulut MUI meniupkan isu adanya etika yang dilangar dan melecehkan ulama, dengan kemampuan pecah belah dan konflik yang selama ini dia miliki coba dia mainkan dengan segala kemampuan dan sisa-sisa efek kekuasaan selama 10 tahun ini. Hingga tidak cukup disitu saja, dilanjutkan dengan coba mengusik jokowi dan jajarannya (BIN) untuk turut bertanggung jawab terhadap “hayalan” penyadapan yang dialaminya.

    Dengan penampilan yang  tenang namun dengan lontaran kata-kata yang cenderung berpolemik dan menimbulkan perpecahan dan tingginya potensi konflik dari setiap ucapannya adalah jurus andalannya.  Reaksi pak Jokowi yang turut dibawa-bawa oleh SBY agar bertanggung jawab dan memberi penjelasan atas kasus “hayalan” penyadapan atas pernyataan SBY  soal transkrip rekaman telepon SBY dengan Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin, dengan santainya pak Jokowi menanggapi..“lah kok”barangnya” dikirim ke saya, ya ngga ada hubungannya”, kata Jokowi kepada wartawan saat usai pembukaan Konferensi Forum Rektor Indonesia 2017 di Jakarta Convention Centre, Jakarta (2/2/2017). Begitu juga reaksi dari BIN (Badan Intelejen Negara) yang menyatakan tidak ada penyadapan.

    Melengkapi jurus SBY dengan daya hayal tingkat tinggi sepertinya dipaksakan kepada masyarakat  saat yang bersamaan juga paslon nomor urut satu (Agus-Silvi) yang dengan jelas-jelas menolak untuk hadir di Mata Najwa, adalah bentuk permainan si pepo untuk mengalihkan isu dengan konten polemik dan fitnah, dimana ketakutan dan ketidakmampuan si Agus untuk bermain di area debat dan mengadu konsep, ide dan program sebagai kelemahannya, dimana sebelumnya yang diagendakan untuk hadir di Mata Najwa pada tanggal 1/2/2017  dan ditolak oleh mereka. Dan cukup berhasil bahwa masyarakat terbawa kedalam pusaran politik yang dalam oleh isu penyadapan yang diusung olehnya dan permainan yang kompak dengan MUI yaitu  membawa kembali isu penistaan agama dalam hal ini pelecehan ulama, yang jelas-jelas tidak ada maksud dan perilaku tersebut disebabkan kejadian pada saat itu adalah diruang sidang, dan dimata hukum adalah semua orang sama saat dipersidangan dan mempunyai kewajiban perangkat peradilan untuk menggali kebenaran. Pemaksaan dan pemutarbalikkan fakta serta memainkan konflik-konflik “keji” menjadi jurus andalannya.

    Namun segala kelicikan dan “kekejaman” langkah politik yang tidak bermoral dapat dan selalu dikalahkan oleh kebaikan, segala gelombang ciptaan SBY ini dapat dengan mudah dipatahkan oleh Ahok dengan niat baik dan ketulusan, meminta maaf dan menjelaskan bahwa menuntut saksi tidak bermaksud ditujukan kepada  kyai Ma’ruf Amin yang sangat dihormati sebagai orang tua dan ulama, namun kepada saksi pelapor lainnya, respon dari Ma’ruf Amin sebagai Ulama sangatlah menyejukkan dengan menanggapi maksud baik ini dengan menerima permohonan maaf Ahok.

    Jurus andalan para elit dalam hal ini SBY,  tidak cukup disini saja pastinya untuk dapat memenangkan si Agus putra mahkota, dengan diterimanya permohonan maaf oleh kyai Ma’ruf Amin…kita tunggu saja jurus-jurus susulan dari si pepo, sang mantan yang  mempunyai daya hayal tingkat “dewa”…


    Penulis : Dudi Akbar Sumber : Seowrd .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: SBY Menyelamatkan Agus dari Najwa Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top