728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 14 Februari 2017

    Sang Mantan Membuktikan Buni Yani Menghasut … Ahok Bebas ?

    Konferensi pers yang dilakukan oleh mantan Presiden Republik Indonesia ke-6 Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Sang Mantan (Santan) sudah berlalu. ‘Kehebohan’ yang mengiringi konferensi pers tersebut, yaitu keyakinan Santan bahwa dirinya disadap, sudah mereda. Mungkin para ‘hulubalang’ yang begitu bersemangat bersuara di media televisi nasional untuk memperjuangkan pengusutan penyadapan tersebut, akhirnya sadar bahwa menjual isu ‘Santan disadap’ tidak mempan mengganggu kinerja pemerintah, membikin ‘kegaduhan’ politik tanah air. (padahal yang biasa ‘disadap’ adalah getah karet, bukan santan hehehe….). ‘Hulubalang’ di dewan yang terhormatpun, nampaknya tidak berhasil melakukan manuver politik, melalui hak angket.

    Patut diduga Santan sebenarnya anti-sadap, artinya tidak bisa disadap (kalaupun ada yang ingin menyadap beliau), kecuali memang Santan ingin pembicaraannya disadap. Mengapa Santan menjual isu tersebut, hanya Tuhan dan Santan yang tahu alasannya… Tentang Santan yang anti-sadap, akan penulis tuliskan dalam artikel tersendiri.

    Pernyataan Sang Mantan membuka topeng SiBY.

    Ada hal menarik yang penulis temukan, setelah membaca ulang transkrip konferensi pers Sang Mantan tersebut. Santan yang dengan bersemangat mengungkapkan kegalauan hatinya bahwa kemungkinan dirinya disadap, ternyata tanpa disadari dan pastinya tidak disengaja, malah menyatakan si Buni Yani (SiBY) sebagai seorang penghasut!. Bagaimana mungkin itu terjadi? Perhatikan baik-baik pernyataan Santan yang penulis kutip ini : “….Karena saya khawatir kalau saya tidak mendapatkan, sangat mungkin transkrip itu bisa ada tambah kurang, yang tentu bisa berbeda, dari isinya seperti apa. Saya sungguh ingin mendapatkan transkrip itu,…” Kegalauan Santan akan transkrip percakapan hasil sadapan (dengan catatan, percakapan antara Santan dengan KH Ma’ruf Amin memang benar-benar disadap), sudah membantu kita memahami apa yang sebenarnya dilakukan oleh SiBY. ‘Heboh’ tentang ada tidaknya percakapan tersebut, sudah mendapat klarifikasi langsung dari Santan, bahwa percakapan antara dirinya dengan KH Ma’ruf Amin memang ada, walau dalam persidangan, sebagai saksi, KH Ma’ruf Amin mengatakan ‘tidak ada’. Sedangkan ‘heboh’ isu penyadapan, nampaknya dengan cepat menghilang ditelan … titik-titik …

    Dalam berbagai kesempatan SiBY ngotot mengatakan bahwa dia tidak menuliskan transkrip video pidato Ahok dalam caption Facebook-nya. Di lain pihak, menurut Santan, tindakan mengubah, yaitu menambah atau mengurangi kata dalam transkrip suatu percakapan/pidato, bisa mengubah isi percakapan itu sendiri. Bahasa kerennya, menambah atau mengurangi kata dalam transkrip percakapan bisa memberi konteks yang jauh berbeda dari konteks awal percakapan yang asli. Nah, Santan telah membuka topeng SiBY, bukan? Santan pantas dijadikan saksi oleh jaksa penuntut umum kasus penghasutan oleh SiBY!. Bila kesaksian tersebut benar-benar terjadi nanti, kita WAJIB dan HARUS memberi dua jempol untuk Santan. Mengapa? Karena Santan sudah memberi bukti (bukan janji) sebagai seorang negarawan yang sungguh mencintai tanah air, dan mau dan rela merendahkan diri menjadi saksi di pengadilan atas nama kebenaran dan demi Indonesia Raya. Mari kita nantikan bersama saat-saat itu …

    Pembuat Gaduh Negara Yang Sebenarnya Bernama SiBY.

    Mari kita anggap pengakuan SiBY di atas, bahwa dia tidak menuliskan transkrip dari isi pidato Ahok dari video untuk caption-nya adalah benar. Kita asumsikan saja SiBY jujur dalam hal ini, maka bisa kita simpulkan bahwa caption yang dibuat SiBY adalah sebuah ‘karangan bebas’.

    Kalau suatu tindakan mengubah transkrip saja, menurut Santan, yang ahli strategi dan politik ‘terbaik’ di negara kita ini, bisa memberi permaknaan yang berbeda dari isinya; apalagi tindakan membuat ‘karangan bebas’ yang dilakukan SiBY? Mengikuti cara berpikir Santan tersebut, kita bisa menarik kesimpulan sederhana bahwa yang dilakukan oleh SiBY adalah suatu tindakan penghasutan double degree: sudah menghilangkan kata ‘pakai’, eh masih ditambah membuat ‘karangan bebas’!! Ahok hanyalah korban penghasutan double degree SiBY, sangat patut diduga demikian adanya. Itu fakta, bukan reka****.

    Kita bisa memaklumi mengapa begitu besarnya keinginan Santan mendapatkan transkrip percakapannya yang (menurut Santan) disadap tersebut. Kita bisa mengerti bahwa menambah atau mengurangi kata dalam suatu transkrip percakapan, bukan hanya bisa mengubah isi percakapan, tetapi juga bisa bikin gaduh satu negara. Aksi massa 411 dan 212 adalah bukti yang tidak terbantahkan. Caption yang dibuat SiBY, sudah berhasil menyulut emosi 7 juta (konon) umat agama tertentu untuk turun ke jalan. Itu gerakan murni dan tulus iklas bela agama atau digerakkan oleh kepentingan politik tertentu, hanya Tuhan yang tahu …. Yang jelas aktor utama pembuat gaduh negara adalah SiBY, Ahok hanya korban plintiran kalimat-kalimat bersayap SiBY saja.

    Ahok Bebas Segala Dakwaan?

    Seharusnya kasus penghasutan oleh SiBY disidangkan lebih dahulu daripada kasus (fitnahan) penistaan agama oleh Ahok. Bila terbukti bahwa SiBY melakukan tindakan pidana penghasutan, maka sudah layak dan sepantasnya kasus yang mendakwa Ahok sebagai penista agama, otomatis gugur dengan sendirinya. Ahok bebas, dan yang membebaskan Ahok adalah kesaksian Santan, yang notabene merasa difitnah sebagai dalang aksi 411 dan 212. Sebuah ironi, bukan? Semoga kasus penghasutan oleh SiBY segera disidangkan, tidak menunggu sampai Lebaran Kuda …. Semoga kasus penghasutan oleh SiBY segera disidangkan, sehingga dewan terhormat tidak perlu ‘heboh’ dengan hak angket gegara Ahok aktif sebagai Gubernur DKI Jakarta lagi, seperti saat ini. ha ha ha …..
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Sang Mantan Membuktikan Buni Yani Menghasut … Ahok Bebas ? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top