728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 23 Februari 2017

    Ribut-Ribut Tentang Freeport, Selanjutnya Apa?

    Dua hari ini timeline Facebook saya ramai oleh isu Freeport, setelah Pilkada dan banjir di DKI. Tiba-tiba seolah-olah semua orang ahli tentang masalah yang terjadi di Freeport. Tiba-tiba seolah-olah semua orang peduli dengan masyarakat Papua.

    Saya ingin tanya, adakah teman-teman yang sering posting tentang Freeport benar-benar mengetahui tentang perusahaan tersebut? Bukan sekedar cari info di google, karena tidak semua info bisa kita dapatkan di google

    Adakah yang pernah ke Papua terutama ke Site di Tembagapura, terutama ke Divisi Tambang Bawah Tanah di area Wanagon dan sekitarnya? Karena saat ini Freeport fokus pada penambangan bawah tanah alias di dalam gunung.

    Saya tidak ingin membela Freeport. Saya hanya ingin teman-teman lebih obyektif. Belajar menjadi penonton yang bijak. Bukan karena dengar katanya-katanya lalu sesumbar menulis di media sosial demi like dan ratusan komen

    Saya hanya dua tahun pernah bekerja di Site Tembagapura di divisi tambang bawah tanah (Underground Mining Division) dan itu pun tidak membuat saya tahu segala hal tentang Freeport. Saya harus riset dan harus wawancara untuk kebutuhan novel saya.

    Kebetulan saya sedang menulis novel berlatar belakang perusahaan tambang tembaga dan emas tersebut. Proses penulisan saya terhenti. Karena setelah makin tahu, saya sulit untuk memilah-milah mana yang akan saya tulis. Ini bukan cerita sinetron, penjahat dan orang baik jelas-jelas terlihat. masalah Freeport Indonesia sangat kompleks, tidak bisa hanya melihat dari satu sisi

    Melihat Freeport hanya sebagai tokoh antagonis yang jahat jelas sangat naive. Melihatnya sebagai malaikat pun sama naïvenya.

    It takes two person for tango! Begitu pun Freeport. Cobalah teman-teman melongok ke belakang tentang proses perusahaan ini bisa sampai berproduksi di indonesia

    Sekarang media menulis Freeport hanya menyumbang delapan trilyun setahun. Iya, mungkin itu yang terpampang nyata di laporan keuangan secara sah. Angka-angka yang Pak Jonan sebutkan barangkali itu hanya dari tax, royalties dan dividend. Belum menggambarkan angka secara keseluruhan. Belum lagi ada banyak pengeluaran yang tidak jelas, dan pak Jonan dan pak Jokowi harus tahu ! Kalau pun mereka tahu informasi ini tidak akan terpampang di media.

    Pernahkah kalian ketakutan akan teror senjata, dan sampai detik ini tidak tahu siapa pelakunya? Pernah saat naik helikopter tiba-tiba baling-baling helikopter terkena temdari seberang jurang? Pernahkah kalian mengalami untuk bekerja kalian harus dijaga tentara, polisi dan tank? Pernah? Kami sudah pernah. Kami sudah menandatangani petisi ke Presiden ke 6, tapi tidak ada tanggapan.
    Meletakkan kesalahan tentang kemiskinan/ keterbelakangan warga Papua hanya pada Freeport juga sangat naïve. Mereka korporasi, bukan pemerintah dan mereka sudah membayar pajak. Pertanyaannya ke mana Pemerintah selama 48 tahun? Dan di Papua ada banyak perusahaan asing bergerak di bidang tambang dan migas.

    Warga Papua sekitar Site sudah merasakan banyak kemajuan dari Freeport, cobalah ketik “kopi amungme” di google. atau proyek-proyek CSR lainnya. Banyak anak-anak Papua yang mendapat beasiswa pendidikan.
    Terus ada lagi yang lucu, tiba-tiba semua orang latah menulis “ketik pengacara freeport di google” hanya karena Munarman pernah menjadi pengacara untuk kliennya PT Indocopper Investama, salah satu pemegang saham minoritas – PTFI, di salah satu kasus hukum. Secara badan hukum keduanya jelas berbeda dan mempunyai akte pendirian yang berbeda. Munarman dulu pernah menjadi aktivis LBH lalu mendirikan Kantor Pengacara Munarman Doak & Partners.

    Sekedar penjelasan tentang PT Indocopper Investama, saya kutipkan sebagai berikut, “Pada tahun 1993 infrastruktur Freeport dijual kepada Nusakarya Corporation milik A. Latief sebanyak 5% dan 10% ke PT Indocopper Investama milik Bakri Brothers. Selain itu, Freeport juga menyerahkan 10% saham kepada pemerintah Indonesia. Alasan penjualan itu menurut Moffett, karena mereka merasa keberatan dengan berbagai persyaratan yang dikenakan kepada mereka, seperti pajak badan, PBB, dan royalti.

    Freeport merasa selama menambang di Gunung Erstberg pihak mereka sudah menghabiskan investasi jutaan dolar. Sepuluh persen saham Freeport yang dijual ke Bakrie Brothers itu nilainya sekitar 213 juta dolar AS. Tetapi, Bakrie sendiri hanya punya uang 40 juta dolar AS. Selebihnya, dibayar melalui utang sindikasi bank luar negeri dengan jaminan Freeport Indonesia sendiri. Lantas, pada 1 Desember 1992, Freeport membeli 49% saham Indocoper Investama dengan nilai sekitar 212 juta dolar AS. Nilai tersebut hampir sama dengan nilai yang dibayarkan oleh Bakrie sewaktu membeli 10% saham Freeport. Artinya, dengan menunggu lima bulan saja, utang Bakrie bisa dibayar, dan ia tetap memunyai saham 51% di Indocopper. Saham yang masih dipegang ini setara dengan 5% saham Freeport yang bisa dibilang diperoleh secara cuma-cuma. Selanjutnya,sisa saham milik Bakrie itu pun dilepas ke Nusamba Group milik Bob Hasan.”



    Saya tetap menjadi pendukung Jokowi dan saya sepakat dengan ketegasan Pak Jonan bahwa semua unit usaha yang beroperasi di Indonesia (baik PMA dan PMN) tunduk kepada regulasi yang berlaku di Indonesia. Dengan begitulah kedaulatan bisa kita tegakkan. Namun dilain sisi, hendaknya kedaulatan yang kita junjung tinggi itu juga memberi kepastian hukum  dan fiskal bagi semua kalangan usaha terutama investor. 

    Mengutip apa yang pernah Pramoedya A. Toer ungkapkan dalam salah satu buku Tetralogi Buru-nya, “Hendaknya kita selalu bertindak adil, bahkan sejak dalam pikiran. Teman-teman selalu berteriak untuk tabayyun dan berlaku adil. Ayo kita tabayyun dan berlaku adil.

    Anak Suku Amungme di Desa Banti, salah satu desa terdekat

    Ini bukan tontontan tinju atau games di mana kita berteriak teriak jagoan kita menang dan pongah saat lawan kalah.Ini masalah kesejahteraan warga Papua dan masa depan mereka. Saya sangat mendukung apa yang dilakukan Pak Jokowi dan Pak Jonan, asalkan hasilnya membawa kesejahteraan untuk warga Papua dan Indonesia. Bukan seolah-olah lepas dari mulut buaya masuk ke mulut harimau, atau dari asing ke aseng, karena saya dengar ada satu perusahaan yang akan masuk ke Indonesia, China Gold. Kasihan warga Papua yang sudah diabaikan puluhan tahun sejak bergabung dengan NKRI.

    Ini bukan hanya masalah nasionalisme semata atau masalah SDM (sumber daya manusia) yang mampu atau tidak mengoperasikan tambang bawah tanah di dalam gunung, tapi juga masalah kesanggupan biaya operasional/ cash flow, manajemen dan kepemimpinan.

    Ah sudahlah, saya hanya remahan rempeyek. Lebih baik saya kembali menulis novel saya.


    Penulis :  Sari Musdar    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ribut-Ribut Tentang Freeport, Selanjutnya Apa? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top