728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 19 Februari 2017

    Real Count Pilgub DKI Salah Hitung, Peringatan Serius Kawal Penghitungan Manual


    Pilkada memang sangat rawan kecurangan. Kecurangan yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Kalau mau jujur, subjektivitas sangat sulit dilepaskan dari seseorang, meski dia sudah disumpah untuk netral dan tidak berpihak. Ada saja muncul kesengajaan atau ketidaksengajaan yang cenderung terindikasi karena subjektivitas.

    Bukan maksud saya menuduh bahwa KPU tidak lagi bisa dipercaya, tetapi pengawasan dan kontrol dari semua pihak sangat diharapkan dan harus diseriusi. Karena kalau tidak, maka suara rakyat dan amanah rakyat akan dengan mudah dicurangi dan diubah.

    Kecurigaan ini tidak perlu dipermasalahkan atau tidak perlu kita bantah dengan percaya saja. Atau mengenang apa yang menjadi slogan khas AHY, “Good Will”, tidaklah perlu kita kedepankan. Ini masalah semua elemen memang sulit sekali untuk netral dan tidak memihak.

    Saya saja sudah sejak awal memprediksi KPUD DKI ada indikasi tidak objektif. Hal ini sudah saya tuliskan bulan desember lalu ketika Ketua KPUD DKI Sumarno memasang foto Aksi 212 di profil WhatsApp. Sumarno yang mengelak mengatakan bahwa hal itu tidak ada kaitan dengan Pilkada tidak menghilangkan kecurigaan tersebut.

    Buktinya bisa kita lihat banyaknya kejanggalan yang terjadi dalam Pilkada DKI. Apakah karena Pak Sumarno?? Saya tidak bisa menuduh langsung begitu, tetapi bisa saja ada kelonggaran-kelonggaran yang dilakukan KPUD sehingga hal seperti ini bisa terjadi. Semua tentu saja perlu dibuktikan lebih dalam lagi kebenarannya.

    Terlepas dari tindakan Sumarno tersebut, kemarin, Sabtu (18/2/2017), ada kejadian menarik dari situs pilkada2017.kpu.go.id/hasil/t1/dki_jakarta mengenai hasi penghitungan Pilgub DKI. Ada koreksi dan perubahan yang terjadi dalam hasil penghitungan yang dilakukan oleh KPU Pusat.

    Perolehan suara pada pukul 12.15 WIB, Sabtu (18/2/2017), perolehan suara masing-masing pasangan cagub-cawagub DKI, yakni Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni sebanyak 936.609 (17,05%), Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat sebanyak 2.357.587 (42,91%), dan Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno sebanyak 2.200.636 (40,05%). Data tersebut juga menunjukkan penghitungan sudah 100% pada 13.023 TPS.




    Perubahan perolehan suara terjadi pada pukul 15.00 WIB, perolehan suara dan persentase pasangan calon mengalami perubahan menjadi Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni sebanyak 936.609 (17,07%), Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat sebanyak 2.357.637 (42,96%), dan Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno sebanyak 2.193.636 (39,97%).




    Lalu apa penjelasan KPU?? KPU mengakui memang ada salah hitung sehingga terjadi perubahan perolehan suara. Salah hitung tersebut terjadi pada 2 TPS. Perubahan suara pada 2 TPS ini tentu saja sangat merugikan salah satu paslon. Paslon yang dirugikan adalah paslon nomor urut 2 Basuki-Djarot.
    Berikut adalah penjelasan dari Komisioner KPU Hadar Nafis Gumay kepada detikcom, Sabtu (18/2/2017).

    “Dalam hitungan cepat pada Situng (sistem penghitungan) KPU, operator men-scan dan meng-entry data hasil apa adanya sesuai yang tertera pada salinan C1 setiap TPS. Namun operator bisa saja keliru meng-entry datanya, tidak sesuai yang tercatat pada salinan C1-nya. Hari ini ditemukan adanya kekeliruan entry data hasil pada dua TPS. Karenanya dilakukan koreksi, yang dilakukan pada jam 11.00 WIB tadi siang,” ujar Hadar, Sabtu (18/2/2017).

    2 TPS tersebut adalah Di TPS 10, Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, perolehan suara pasangan calon nomor urut 3 Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebelumnya tercatat 7.266, seharusnya 266 seperti yang tertulis dalam salinan C1. Satu lagi Di TPS 12, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, perolehan suara pasangan calon nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat sebelumnya tercatat 236, padahal seharusnya 286 sesuai yang tertulis dalam salinan C1.



     
    Mengerikan bukan bagaimana kecurangan bisa terjadi hanya karena menambah satu angka di depan hasil perolehan suara di salah satu TPS. Suara Anies-Sandi bisa menggelembung bertambah 7 ribu suara dengan menambahkan angka 7 didepannya. Bayangkan kalau hal ini terjadi dalam penghitungan manual?? Sangat berbahaya.

    Suara hasil pencoblosan harus dikawal dengan serius. Jangan sampai, tingkat kepercayaan warga Jakarta akan Pilkada DKI dengan jumlah pencoblos hampir 80 persen kembali surut. Warga Jakarta sekarang sedang semangatnya mengikuti pesta demokrasi untuk memilih pemimpin mereka, tanggung jawab Partai pengusung dan relawan serta simpatisan adalah mengawal suara tersebut.

    Pilgub DKI ini memang rawan kecurangan. Dan anehnya, yang terkena praktik curang ini malah petahana. Padahal, bukan rahasia lagi kalau petahana sangat dimungkinkan untuk melakukan kecurangan. Memang Ahok ini sangat massif sekali usaha untuk menjegalnya. Apalagi kalau semua gerombolan mafia sudah bersatu.

    Untuk itu, saat ini tetaplah kawal penghitungan manual. Jangan lengah dan jangan terlalu langsung memikirkan strategi di putaran kedua. Jangan sampai kepercayaan warga terhadap pesta demokrasi ini rusak kembali karena adanya praktik curang, baik yang disengaja atau pun tidak sengaja.

    Salam Pesta Rakyat.

     Penulis : Palti Hutabarat  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Real Count Pilgub DKI Salah Hitung, Peringatan Serius Kawal Penghitungan Manual Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top