728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 24 Februari 2017

    Program Rumah Murahnya Anies-Sandi kok Jadi RUSUN?

    Beginilah kalau calon pemimpin “asal jeplak” dengan program yang ia tawarkan kepada publik. Yang penting menarik warga (terutama warga miskin), urusan nanti gimana-gimananya, itu urusan nanti. Yang penting pemimpin punya “goodwill”, meminjam istilah AHY.

    Program “asal jeplak”nya Anies-Sandi adalah program “asal warga senang”. Program tersebut tidak berdiri pada pondasi yang realistis. Semua berdiri di atas fantasi yang berlebihan. Akhirnya, saat program tersebut dihadapkan pada berbagai macam fakta dan aturan, dibuat-buatlah semacam revisi ala kadarnya, agar program “asal jeplak”nya bisa dipertanggung jawabkan.

    Saat debat terakhir, Anies mengatakan bahwa kami akan buat rumah tanpa DP 0 persen. Tentu, program ini seperti sebuah oase di tengah gurun sahara bagi warga miskin yang sulit punya rumah. Tapi, program ini malah jadi bahan tertawan masyarakat. Karena mustahil beli rumah tanpa DP 0 persen.

    Gubernur BI pun angkat bicara soal rumah dengan DP 0 persen ini. Menurut Agus Martowardojo masalah ini sudah ada aturannya dalam PBI 18/16/PBI/2016 tentang rasion Loan to Value untuk kredit properti, uang muka yang harus dibayarkan dari jenis rumah yang diakuisisi, minimal 15 persen.

    Agus mengatakan, “Enggak-enggak, sebetulnya kita ada mengatur tentang LTV jadi tentu harus ada minimum DP untuk penyaluran kredit. Jika ini benar-benar direalisasikan maka kedua calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta tersebut mendapat terguran dari otoritas terkait.”

    Setelah itu, Anies Baswedan mengumumkan ke publik bahwa rumah murah itu bukan 0 persen tapi 0 rupiah. Retorika apalagi hendak Anies mainkan? Apa bedanya 0 persen dengan 0 rupiah? Bukankah keduanya adalah representasi dari ketiadaan uang muka? Mau berkelit apalagi paslon yang satu ini? Mereka selalu punya jurus “ngeles” saat program “asal jeplak”nya menuai kritik dan cercaan dari publik.

    Masih ingat saat Anies-Sandi tampil di Mata Najwa? Saat itu Anies tak mampu menjelaskan resiko yang bakal terjadi jika proyek reklamasi dihentikan. Baik itu untuk pengembang juga pembeli. Anies tidak bisa menjelaskan antisipasi agar pengembang tidak dirugikan juga masyakarat yang sudah membeli. Anies hanya mengatakan yang penting tutup dulu reklamasinya, nanti bagaimana-bagaimananya, itu urusan nanti.

    Untuk mengganti DP yang 0 rupiah, masyarakat harus menabung selama 6 bulan sebesar 2,3 juta. Uang sebesar itu hanya bisa disisihkan oleh orang dengan gaji sekitar 7-8 juta. Mana bisa warga kelas bawah dengan gaji UMP bisa mengjangkau tabungan pengganti DP tersebut. Lagi-lagi, Anies-Sandi terjebak dalam programnya sendiri. Sudah direvisi, ternyata malah menambah bingung masyarakat.

    Hingga akhirnya, datanglah revisi terbaru atas program rumah murahnya. Ternyata, rumah murah tersebut adalah “vertical housing” alias rumah susun. Mimpi indah tentang rumah di sebuah komplek atau perumahan harus berakhir juga di rusun. Rusun dengan harga yang fantastis dan cicilan yang fantastis. Harga 350 juta dicicil selama 20 tahun. Hasilnya, warga harus bisa membayar 2,3 juta tiap bulan.

    Kalau warga dengan gaji UMP, maka menjadi wajib baginya puasa Nabi Daud agar bisa mengejar setoran 2,3 juta. Sehari makan, sehari berikutnya puasa. Begitu terus, hingga akhirnya bisa juga memiliki rumah impian mereka.  Ini kan mustahil dilakukan oleh warga miskin. Mereka juga punya keperluan lain yang harus dipenuhi.

    Rumah murah yang ditawarkan Anies-Sandi hanya bisa dibeli oleh warga kelas menengah. Itupun jika mereka bisa mengatur keuangan. Pada akhirnya, Anies-Sandi terjebak dalam ilusi keberpihakannya kepada warga miskin. Mereka berjanji akan mensejahterakan warga miskin, tapi dengan menawarkan sebuah ilusi yang hanya bisa dinikmati dalam mimpi.

    Daripada menggantungkan harapan pada rumah murah ala Anies-Sandi yang ternyata rusun dengan cicilan yang menggila. Lebih baik melirik kepada apartemen murah harga kost yang akan Ahok bangun. Ini lebih realistis dengan cicilan yang lebih fleksibel dan manusiawi, cocok untuk keluarga muda yang baru menempuh hidup baru.

    Apartemen ini pun akan dibangun di dekat sarana transportasi umum. Sehingga memudahkan mereka yang bekerja untuk menghemat waktunya. Semua telah dipikirkan Ahok dan akan cepat direalisasikan. Ini bukan lagi tentang mimpi di siang bolong. Ini tentang sebuah perubahan di depan mata.

    Untuk itu. Jakarta butuh pemimpin yang realistis dan mampu bekerja. Bukan bermain kata-kata, lalu dengan cepat merubah kata-katanya sendiri.

    Ra(i)sa-ra(i)sanya begitulah



    Penulis :  Muhammad Nurdin  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Program Rumah Murahnya Anies-Sandi kok Jadi RUSUN? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top