728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 24 Februari 2017

    Program Rumah Murah Direvisi Lagi: Anies Tidak akan Bangun Rumah

    Meminjam kata-katanya Denny Siregar “Orang bijak berkata.. Kebohongan pertama akan diikuti dengan kebohongan-kebohongan berikutnya..”

    Sepertinya itu yang cocok dilekatkan pada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta Anies-Sandi. Dengan sebuah gairah yang tinggi untuk memenangkan kontestasi Pilkada, dibuatlah program-program menarik terutama bagi warga miskin di Jakarta yang belum punya rumah. Disayembarakan lah program fantastik ini keseluruh pelosok Jakarta. Hingga warga yakin, memilih Anies-Sandi bisa mendapat rumah murah, tanpa DP, dengan cicilan yang terjangkau. Pokoknya murah.

    Bagi Anies-Sandi, realistis nomor sekian, apalagi faktor hukum. Yang penting tabrak dulu nalar warga DKI. Berikan fantasi-fantasi indah tentang surganya hidup di ibukota. Bukankah memiliki rumah di ibukota adalah mimpi indah setiap mereka yang tak punya rumah? Ini kan seperti sebuah SMS dari nomor tak dikenal, mengatakan kepada anda bahwa nomor anda adalah pemenang undian anu. Anda yang kegirangan tentu akan kaget setengah mati. Padahal, itu kan hanya tipu-menipu saja.

    Kalau program rumah murahnya Anies-Sandi itu realistis dan tidak menabrak aturan yang berlaku. Tentu, mereka akan konsisten menawarkan program tersebut. Yang terjadi, malah terlihat inkonsistensi Anies-Sandi dalam merumuskan konsep rumah murahnya.

    Dimulai dari rumah tanpa DP. Lalu bermetamorfosis menjadi rumah dengan DP 0 persen. Bermetamorfosis lagi menjadi rumah dengan DP 0 rupiah. Bermetamorfosis lagi menjadi rumah susun dengan DP yang diganti dengan menabung selama 6 bulan sebesar 2,3 juta. Lalu, bermetamorfosis lagi ke dalam wujud yang paling anyar bahwa Anies-Sandi tidak akan membangun rumah.

    Pemimpin yang plintat-plintut dalam program, merasa tidak yakin dengan apa yang telah dikemukakannya ke publik, tentu sejak awal tidak punya program yang jelas. Semuanya terlihat asal jeplak. Yang penting “bombastis” seperti judul-judul tulisan media-media kaum bumi datar. Saat isinya diuji, ternyata hanya tong kosong nyaring bunyinya.

    Saya sangat kaget dengan revisi terbaru program rumah murahnya Anies-Sandi. Katanya, mereka tidak mengurus pembangunan rumah. Mereka hanya mengelola pembiayaannya saja. Pertanyaannya, mengapa tidak dari awal diberi tahu bahwa program rumah murah itu bukan berarti akan dibangun rumah? Kenapa baru sekarang diberi tahu, setelah dihantam kiri-kanan, depan-belakang?

    Anies menjelaskan, program ini bukan berarti dirinya akan membuat perumahan. Menurut dia, program ini adalah bantuan dari pemerintah agar warga Jakarta mudah memiliki aset rumah. Ini hanya program pembiayaan, enggak ada rumah yang dibuat, katanya.

    Kalau enggak ada rumah yang dibuat, yang akan dijual apa? Rusun akan dijual? Mekanisme jualnya seperti apa? Bukankah rusun dibangun bukan untuk dikomersilkan? Bukankah uang untuk membangun rusun adalah hasil dari dana kompensasi kenaikan KLB sebuah perusahaan, yang artinya memang non-profit. Lalu, rumah yang dijanjikan itu yang seperti apa? Kalau katanya mereka tidak akan membangun rumah?

    Okelah. Misalnya mereka tidak bangun rumah, berarti rusun-rusun yang telah Ahok bangun yang akan dijual. Entah bagaimana ceritanya nanti rusun bisa dijual-beli. Pokoknya warga bisa beli deh ceritanya. Berarti kita masuk ke masalah pembiayaan. Kan Anies-Sandi katanya cuma ngurusin pembiayaan. Lalu bagaimana dengan DPnya dan cicilannya?

    Kata Anies, program DP 0 rupiah ini bukan berarti sama sekali tidak ada DP untuk pembelian hunian tempat tinggal di Jakarta. melainkan, ada mekanisme pengganti syarat DP yang dianggap memberatkan, yaitu dengan konsistensi perilaku menabung selama beberapa bulan.

    Ternyata, DPnya bermetamorfosis menjadi “nabung di awal”. Selama 6 bulan, warga yang ingin punya rumah (entah rumah apa?) harus menabung sebesar 2,3 juta. Saya yakin, warga yang cuma sebagai petugas PPSU enggak akan pernah bisa beli “rumah entahlah”-nya Anies-Sandi. Mengapa? Mereka gaji cuma UMP. Belum anak sekolah, dapur, kredit motor, kredit prabotan, juga kredit nikah. Bagaimana bisa menyisihkan 2,3 juta tiap bulan?

    Mana rumah murah untuk warga kelas bawahnya? Rumah ini hanya bisa dinikmati oleh kelas menengah dengan perkiraan ganji 7-8 juta perbulan. Itupun jika biaya perawatan bininya ala kadarnya. Kalau bini dan anaknya hedonis juga, ya 2,3 juta pun tetap enggak terjangkau.

    Anies juga menyebut, dengan DP 0 rupiah, Pemprov DKI akan menalangi pembayaran DP tersebut ke Bank. Sementara, warga yang mengajukan kredit rumah mencicil ke Pemprov DKI.

    Ini lebih aneh lagi. Sekarang giliran Pemprov DKI yang bertanggung jawab atas ilusi rumah murah mereka. Ini makin ngawur. Bangun RPTRA saja Ahok sampai “berdarah-darah” ribut dengan anggota dewan. Ini malah biayayin warga untuk punya rumah. Tapi, kalau bisa “kedip-kedipan” sama anggota dewan, terus bilang, cincai lah…, bisa jadi anggota dewan pun merestui. UPS yang jelas-jelas ngawur aja bisa cair kok.

    Saya cuma mau menutup tulisan ini dengan sebuah kalimat “Jangan mau dibohongi pakai rumah murah tanpa DP yang ternyata rumah susun yang tidak dibangun oleh Anies-Sandi”

    Ra(i)sa-ra(i)sanya begitulah


    Penulis : muhammad nurdin   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Program Rumah Murah Direvisi Lagi: Anies Tidak akan Bangun Rumah Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top