728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 12 Februari 2017

    Pesan Ahok, Makna Filosofi Orang Tua Sebagai Pemerintah

    Ada yang menarik dari closing statement Ahok di debat terakhir calon Gubernur DKI Jakarta Jumat kemarin (10/02/2017).  Begini pernyataan Ahok saat menutup debat dengan menunjukkan satu gambar:

    “Ini gambar orang pikirnya luar negeri, bukan. Ini Kalijdo, tempat perempuan diperdagangan, tempat narkoba diedarkan, tempat anak-anak dipekerjakan. Kami bukan jual program, kami hancurkan, kami ubah jadi taman seperti ini. Ini kelas Internasional”.

    “Jadi pemimpin Jakarta, ini seperti hubungan orangtua  dengan anak-anak.  Kami mempunyai peraturan. Kami ingin anak-anak ini hidup sehat. Kami ingin anak ini didik dengan baik. Kami ingin anak punya karakter yang baik, punya budi pekerti yang baik, Orangtua ingin anaknya berhasil”.

    “Tapi, tolonglah pasangan calon satu dan tiga. Ini ibarat seperti om tante yang datang ke rumah, Dia ingin dapat simpati dari anak-anak kita, lalu semua diboleh-bolehin. Mau dikasih 1 M gak jelas, mau dikasih rumah yang murah. Padahal dicicil saja gak mampu. Itu nyicilnya 800 ribu per bulan, gaji saja pas-pasan. Mana bisa cicil rumah?”

    “Makanya saja katakan, janganlah karena mau jadi Gubernur, Ini ibarat seperti om sama tante merusak aturan yang sudah dibuat dari orang tua. Mendidik anak itu susah, membangun itu gampang. Mendidik anak itu bertahun-tahun. Kami ingin warga DKI yang sudah kami didik dengan baik, jangan dirusak gara-gara karena ingin gubernur saja.” (silahkan dilihat https://www.youtube.com/watch?v=5kOy4iJcN-Q)

    Ahok mengilustrasikannya dengan sangat jelas. Dia piawai untuk mendidik. Tentu ini tidak serta merta didapatkan dari teori, tetapi karena Ahok mengerti benar peran dan tanggung jawab orang tua.

    Orangtua yang benar adalah orangtua yang mendidik anak dengan kasih sayang bukan memanjakan. Meski kadang harus berani menghukum kalau bersalah, tetapi disaat yang bersamaan mengajari anak untuk mandiri. Orangtua akan mencukupkan kebutuhan anak, tetapi tidak memberikan janji palsu. Ending dari didikan orang tua adalah anak jadi berhasil, kuat, mandiri, dan peduli orang lain.

    Namun seringkali ketika om atau tante datang ke rumah, aturan disiplin yang dibuat orang tua dirusak hanya karena ingin mendapatkan simpati dari anak-anak tersebut. Atau bisa saja memang om dan tante sayang terhadap anak tersebut, tetapi tidak tahu bagaiamana caranya. Sehingga saat om tante datang mereka misalnya memberi permen, dan anak suka. Padahal sebelumnya sudah dilarang orang tua karena permen membuat sakit gigi anak tersebut kambuh. Kalau kambuh bakal repot lagi ke dokter. Harus mengeluarkan biaya lagi. Itu kira-kira maksudnya. Jadi aturan yang baik dirusak hanya karena ingin mendapatkan simpati.

    Apa makna jabatan kepala daerah sebagai orang tua?

    Sampai saat ini di negara kita, konsep kepala daerah masih kebanyakan berparadigma sebagai raja, penguasa, dan yang harus dimuliakan. Sehingga kepala daerah akan memberikan sesuatu yang memanjakan saat butuh suara atau pengakuan. Padahal sejak kita menganut demokrasi, raja yang sesungguhnya adalah rakyat. Makanya Abraham Lincon mengatakan ‘dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”.

    Lantas bagaimana memposisikan orang tua di era demokrasi? Rakyat digambarkan sebagai anak dan anak butuh panutan dari orang tua. Orang tua harus lebih mengerti dalam mendidik anak dan orang tua harus mau mengerti apa yang diinginkan anak. Tetapi saat anak salah, orangtua harus bisa mengarahkan. Bila perlu menggunakan wewenangnya untuk mendidik anak tersebut mengerti mana yang benar dan salah (baca https://seword.com/politik/negarawan-dan-politisi-refleksi-pilkada-dki-jakarta-2017/).

    Kepala daerah harus jadi orang tua, sebab orang tua yang memegang uang. Orang tua harus memikirkan kesejahteraan dan masa depan anak tersebut. Untuk itu, kepala daerah harus berprinsip kepada kebenaran. Sekalipun kebenaran itu akan memaksa ketidaknyamanan, tetapi itu harus dilakukan karena itu akan membawa kebaikan.

    Hari ini negara kita butuh pemimpin yang bisa seperti orangtua dan dapat dipercaya. Jangan seperti tante dan om yang ingin simpati tetapi saat anak-anak tersebut sakit, justru tidak bertanggungjawab.

    Ahok mencontohkannya sudah sangat baik. Semoga filosofi ini tidak hanya disampaikan saat di acara debat itu saja, tetapi dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Di saat yang bersamaan, Ahok juga harus konsisiten selama hidup agar role model yang sudah diberikan tidak rusak.



    Salam Indonesia Jangan Diam


    Penulsi : Junaidi Sinaga  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pesan Ahok, Makna Filosofi Orang Tua Sebagai Pemerintah Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top