728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 21 Februari 2017

    Penistaan Agama dan Kekafiran

    Menurut KBBI Penistaan itu adalah cercaan, makian, perbuatan (perkataan dan sebagainya) untuk menista. Diambil dari kata dasar ‘nista’. Kalau ternista, itu artinya dalam keadaan direndahkan, dihina, atau dicela.

    Ahok yang dituduh telah menista agama karena perkataannya di Kepulauan Seribu besok (hari ini) akan kembali menjalani sidang dugaan penistaan agama. Sidang kali ini adalah sidang ke 11. Kita tentu sudah hectic dan capek mengikuti sidang-sidang ini. 10 sidang pertama jauh dari bermutu. Ruang sidang seakan dipermalukan dengan kehadiran orang-orang yang…yeah you know lah!

    Bagi saya pribadi, menuduh Ahok telah menista agama hanya dengan mengutip sepotong kalimat dari keseluruhan pidato Ahok di Kepulauan seribu sebetulnya jelas-jelas menunjukkan ke-biongo-an kita. Apalagi bagi mereka yang sampai hari ini terus menerus menuntut tak ada juntrungannya. Bila tak paham arti kata biongo, silakan tanya ke orang Manado apa artinya. Biongo tingkat dewa ini tergambar jelas dari prilaku norak dan mau menang sendiri yang dipertunjukkan orang-orang ini. Sudah tahu proses pengadilan sementara berjalan, masih saja nggak sabaran kepengen Ahok cepat-cepat dijebloskan ke penjara. Atau supaya Ahok segera di-nonaktifkan. Serius, saya mau bilang Anda norak dan lebay deh!

    Indonesia butuh membangun. Jakarta butuh membangun. Pilkada ini juga, sudah berkali-kali saya pernah tuliskan, sejatinya bukanlah segala-galanya. Anda tidak akan mati hanya karena di pilkada ini Anda kalah atau menang toh. Sama sekali nggak. Jadi jangan lah apa-apa itu maunya semua dipolitisasi, bahkan agama dan ayat sucipun dipolitisasi – Itu justru adalah penghinaan dan pelecehan terhadap agama dan kitab suci loh.

    Anies sendiri pernah ngomong ke Pandji (menurut Pandji di acara Mata Najwa), bahwa katanya Anies pernah berpesan begini,  “Masih ada kehidupan setelah Pilkada…” Benar sekali itu mas. Makanya, untuk mereka – mereka di luar sana yang semakin liar, tahan diri dikit lah. Jadi begini. Sederhana saja deh, nggak usah menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan hanya demi sebuah Pilkada DKI. Buat apa juga itu demo, demo, demo terus terusan, emangnya kalian gak ada kerjaan lain apa? Tapi ya sudahlah, itu tentu hak dan kebebasan Anda semua untuk menyuarakan apa yang hendak Anda suarakan.

    By the way, begini loh ya, kalau kita mau sedikit jujur, sebetulnya kita ini manusia berdosa yang penuh kekurangan dan kelemahan, barangkali justru adalah orang-orang yang sudah terlalu sering menistakan apa yang selama ini kita anut dan percayai, sudah menista keimanan dan keagamaan kita. Jadi dengan demikian Anda jangan takabur lalu kesombongan itu muncul. Jangan pula menjadi orang munafik seolah-olah diri Anda yang paling berahlak. Berteriak-teriak sok merasa diri paling suci. Anda dan saya bisa jadi adalah penista agama numero uno. Nomor satu. Lalai dan kerap abai memeriksa diri sendiri karena terlalu jumawa menuduh orang lain sebagai penista, yang harus dihukum seberat-beratnya.

    Ingat, setiap kita yang mengabaikan perbuatan baik bagi sesama manusia sesungguhnya adalah orang-orang yang menista ajaran agamanya sendiri. Hitung sendiri, sudah berapa kali Anda SUDAH MENISTAKAN ayat suci dan agama yang Anda anut itu. Melecehkan dan acuh tak acuh terhadap keimanan serta keagamaan yang Anda amini dan imani? Jangan-jangan sudah tak terhitung banyaknya ya?

    Anda tidak berbuat kebajikan dan tak pernah memberi sedekah, Anda tidak membagi kasih dengan sesamamu yang menderita, berarti Anda juga sudah menista ajaran agamamu, apapun agama yang Anda anut. Anda sudah berbuat baik bagi orang lain, namun lalu kemudian Anda korupsi gila-gilaan, habis itu Anda tanpa rasa bersalah tersenyum manis di layar televisi sambil melambai-lambaikan tangan dan berujar “Potong telinga saya kalau saya korupsi satu rupiah pun”, maka itu tandanya Anda sudah menista ajaran agamamu. Mana ada agama yang mengajarkan orang untuk maling, mencuri uang bukan milik sendiri, atau korupsi? Nggak ada itu!

    Jadi, masikah ke-biongo-an Anda yang selalu melihat secara sempit arti penistaan agama akan terus Anda pelihara? Atau masikah Anda percaya bahwa kasus penistaan agama Ahok ini murni ataukah kasus ini memang sengaja dimunculkan dan dipolitisasi sedemikian rupa untuk kepentingan politik, dan kepentingan Pilkada DKI? Halah….anak bau kencur saja pasti bakalan ngeh kok. Bahkan kura-kura saja pasti ngeh kalau ini adalah politik busuk segelintir, atau bergelintir-gelintir  orang saja demi menumbangkan Ahok yang kian hari kian tegar.

    Betapa dekat sebetulnya diri kita dengan segala bentuk dan manifestasi penistaan. Hanya saja kita menutup mata dan menutup diri meneropong itu semua. Bahasa lugasnya, kita munafik. Buat apa Anda beragama kalau begitu jadinya? Hanya untuk seremonial saja? Silakan Anda cuci muka dan ngaca berjamaah di cermin ukuran besar, lantas tanyailah diri Anda sendiri pertanyaan sederhana ini: Masih pantaskan diriku yang hina ini menyatakan diri manusia suci yang siap menghakimi orang lain di luar sana? Padahal urusan menghakimi orang adalah hak prerogatif Tuhan Semesta Alam. Dan bertanyalah pada nuranimu (kalau sekiranya Anda masih punya itu), apakah Tuhan akan senang melihat tingkah lakumu yang sedemikian rupa itu? Entahlah…

    Makanya jangan heran kalau hari ini ada semakin banyak orang yang memilih menjadi atheis oleh karena melihat ‘kebusukan’ dan kemunafikan kerap dijumpai dalam diri mereka yang mengaku sangat beragama dan hidupnya dipenuhi atribut-atribut dan simbol-simbol keagamaan. Akhirnya apa? Ketimbang repot dan direcoki banyak hal, Tuhan pun “disingkirkan” dari kehidupan ini.

    Banyak orang beragama yang ‘hanya’ kelihatan suci dari luarnya saja. Kesucian yang dialaskan pada ‘altar’ kemunafikan! Menebar kesantunan yang artifisial belaka. Tersenyum manis dan bicara bak orator ulung di layar kaca untuk disaksikan begitu banyak orang, membius mereka dengan rangkaian kata indah mempesona. Mampu menghipnotis orang dengan rangkaian kata-kata indah. Tetapi kelakuan dan tindakan tak ubah penipu-penipu jalanan dan layaknya orang-orang tak terdidik. Mengoyak-ngoyak semangat kejujuran dalam beragama dan dalam menjalankan tuntutan keimanan yang murni dan bebas dari politisasi. Makanya hati-hati dengan keagamaan kita. Bicara dan berkata laiknya orang suci padahal hanya sekedar sok suci.

    Beragama atau Beriman?

    Iman itu sebetulnya adalah sesuatu yang amat berbeda dengan agama. Jikalau agama itu adalah sesuatu yang baku dan tetap, maka iman itu berubah-ubah, bertumbuh dan berkembang. Agama bisa nampak dari simbol-simbol seperti upacara, tempat ibadah, dan sebagainya, maka iman itu tak nampak oleh mata jasmani kita. Agama membungkus kita dengan peraturan, iman menuntun kita dan memerdekakan kita.

    Agama itu bergerak dalam koridor kelembagaan sementara iman tidak melembaga dan bergerak pada koridor hubungan. Hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia. Perbedaannya sangat jelas. Agama adalah barang jadi, sedangkan iman itu masih harus dibuat dan terus menerus diasah dan dipertajam, diperbaharui. Agama bisa saja ditelan mentah-mentah dan bulat-bulat, tetapi iman masih perlu dikunyah. Agama sudah siap saji, sedangkan iman masih harus melalui proses dimasak terlebih dulu. Dan, saya meyakini dengan baik bahwa Tuhan tidak melihat tingkat keagamaan Anda melainkan tingkat keimanan Anda. Bukan seberapa beragama Anda tampil, namun seberapa beriman Anda bertindak dan menjalani hidup ini, seperti apa yang pernah ditulis oleh Dr. Andar.

    Jadi sebelum Anda tertawa bahagia malam ini, karena besok (hari ini) akan ada demo cocoklogi 212, dan bahwa besok masih akan ada sidang Ahok yang memang biasanya digelar tiap hari Selasa, dengan tentu mengharapkan si penista agama itu sesegera mungkin divonis bersalah, ada baiknya Anda juga berdoa sungguh-sungguh minta ampun, oleh karena sesungguhnya Anda juga adalah  penista agama dan penista kitab suci tingkat maha dewa, karena Anda dan saya kemungkinan besar bukan hanya satu dua kali merusak isi firman Tuhan dengan perbuatan kita yang najis dan kotor, tetapi sudah berjuta kali sadar atau pun tanpa sadar. Anda lelah? Bagus!

    Sudah Penista Agama, Kafir Pula

    KAFIR kalau secara semantik dan terminologi bahasa Arab, maka menurut wikipedia Kāfir (dalam bahasa Arab) كافر kāfir; plural كفّار kuffār) itu lebih dikhususkan pada ajaran dalam syariat Islam yang diartikan sebagai “orang yang menutupi kebenaran risalah Islam”. Bukan non muslim loh ya. Istilah ini mengacu kepada orang yang menolak Allah. Sederhananya, kafir itu adalah orang yang bersembunyi, menolak atau menutup diri dari kebenaran akan agama Islam. Itu dia.

    Nah, perbuatan menyatakan seseorang kafir disebut takfir. Menurut catatan yang saya baca, di dalam al-Quran sendiri maka jelas terlihat kata kafir dengan berupa-rupa bentuk kata jadinya, disebutkan tak kurang dari 525 kali. Biasanya kata kafir diucapkan erat kaitannya dengan perbuatan yang berhubungan dengan Tuhan, seperti umpamanya pada hal-hal berikut ini; Mengingkari nikmat Tuhan dan tidak berterima kasih kepada-Nya (QS.16:55, QS. 30:34), lari dari tanggung jawab (QS.14:22), menolak hukum Allah (QS. 5;44), meninggalkan amal soleh yang diperintahkan Allah (QS. 30:44).

    Dalam beberapa literatur, kata atau perbuatan kafir itu sendiri ada berbagai macam variannya. Orang yang tidak pernah shalat pun dapat disebut kafir, meskipun dia beragama Islam. Korupsi juga adalah perbuatan yang dapat disebut kafir. Mengikari nikmat Allah juga menjadikan seseorang itu kafir.

    Sekarang mari kita mundur jauh ke belakang. Bangsa Yahudi pada masanya, akan menyebut semua agama di luar Yahudi sebagai kafir. Jadi, kita ini di mata orang Yahudi adalah bangsa kafir juga. Sebaliknya, dalam studi agama Kristen serta dengan meninjau ilmu bangsa-bangsa (etnologi), maka juga jelas terlihat pendapat yang mengatakan bahwa kafir itu adalah orang selain orang Yahudi. Dalam bahasa Inggris disebut kaum “Gentiles”. Dalam Kekristenan juga, orang kafir dikenal sebagai orang yang tidak ada pertobatannya, contohnya seperti pemungut cukai pada kisah Matius 18:17 (“Heathen”). Menurut paham Yudaisme, dan dapat kita pelajari pada Perjanjian Lama Ibrani (Tanakh), maka yang disebut kafir itu adalah bangsa-bangsa di luar Israel. Jadi apakah Anda masih mau mengkafir-kafirkan orang? Anda Tuhan? Anda sehat?

    Jadi kita di Indonesia ini, menurut kacamata orang Israel dan yahudi ya pasti kafir semua lah. Ujung-ujungnya seluruh dunia akan saling kafir mengkafirkan, ini jelas lucu dan amat menggelikkan kan ya. Dalam Kitab Bilangan 23:9 LAI (Terjemahan Baru) tertulis demikian, “Sebab dari puncak gunung-gunung batu aku melihat mereka, dari bukit-bukit aku memandang mereka. Lihat, suatu bangsa yang diam tersendiri dan tidak mau dihitung di antara bangsa-bangsa kafir.” (For from the top of the rocks I see him, and from the hills I behold him: lo, the people shall dwell alone, and shall not be reckoned among the nations.)

    Akan tetapi, menilik Kitab Matius 5 : 22 mata kita lalu kemudian tertuju pada kalimat ini, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala”. Di sisi yang lain, pernahkan Anda tersua dengan ayat ini Q.S. 2:39? Yang berkata begini,”Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Wa ladziina kafaruu wa kadzdzabuu bi aayaatinaa ulaa-ika ash-haabun naari hum fiihaa khaaliduun.)

    Setelah membaca banyak bahan bacaan,  saya merasa kita ini perlu sekali mengoreksi diri kita masing-masing demi kebaikan bersama. Jikalau Anda boleh mengatakan kafir kepada orang lain. Lalu kemudian saya bisa berkata kafir kepada orang lain. Lalu orang lain itu boleh mencap orang lainnya lagi dengan sebutan kafir, seterusnya dan seterusnya, maka di sinilah bencana itu perlahan mulai terjadi.

    Semua tentu akan merasa dirinyalah yang paling benar. Lalu kemudian perlahan namun pasti, orang-orang akan mulai saling mencap diri paling suci, paling mulia, paling berhak masuk Sorga sebagai pemilik, yang lain paling banter hadir sebagai tamu saja. Sorga pun dikapling-kapling, persis ketika orang mengkapling-kaplingkan tanah kuburan. Memalukan. Sungguh amat sangat menggelikan.

    Seorang petinju besar bernama Clasius Clay yang kemudian menjadi mualaf dan mengganti namanya menjadi Muhammad Ali suatu waktu pernah berkata, “Rivers, ponds, lakes and streams – they all have different names, but they all contain water. Just as religions do – they all contain truths”. Semua agama mengandung kebenarannya masing-masing.

    Marilah kita hindari saling mengkafirkan. Tonjolkanlah rasa saling menghormati satu dengan yang lain niscaya hidupmu akan bahagia. Bukankah hari-hari ini kita banyak mendengar semboyan, bahagia kotanya bahagia manusianya. Atau yang satu ini, bahagia manusianya maju kotanya. Lain lagi yang ini, makmur kotanya bahagia manusianya. Bahagia memang barang langka, untuk itulah maka semua orang memperjuangkan dengan amat gigih. Kerap, perjuangan itu berujung pada tangisan dan derai air mata. Tetapi saya amat yakin, manusia Jakarta akan bahagia kalau dipimpin Gubernur yang benar-benar dapat membuat warganya berbahagia lewat kerja kerasnya, bukan lewat angan-angannya. Meskipun katanya kafir, tetapi ia berjuang untuk membuat warganya merasakan keadilan yang sebenar-benarnya di kota besar ini.

    Akhirnya, ingatlah pesan indah Khalil Gibran ini: I love you when you bow in your mosque, kneel in your temple, pray in your church. For you and I are sons of one religion, and it is the spirit.


    Penulis : Michael Sendow   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Penistaan Agama dan Kekafiran Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top