728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 19 Februari 2017

    Paslon Ahok-Djarot Tidak Butuh PAN Diputaran Kedua

    Partai Amanat Nasional (PAN) mengaku lebih condong mendukung pasangan Anis Baswedan – Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI putaran kedua.  “Dari pantauan kami SMS/WA itu simpatisan pengurus bukan saja dari DKI tapi banyak dari Kalimantan, Jawa, Sulawesi ya kalau bisa jangan ke Ahok lah,” kata politikus PAN Yandri Susanto dalam diskusi bertajuk ‘Sinema Politik DKI’ di Cikini, Jakarta, Sabtu (18/2/2017).

    Paslon Ahok-Djarot sebetulnya  tidak butuh PAN untuk bisa memenangkan Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran kedua. Paslon Ahok-Djarot adalah representasi PDIP, Golkar, Hanura, dan Nasdem. Secara ideologi kepartaian, PAN relatif sulit membangun koalisi politik yang solid dengan keempat partai tersebut.  Secara matematis, militansi akar rumput PAN di Jakarta jauh lebih lemah  ketimbang PPP,  apalagi dibandingkan PKB.  Berdasarkan peta politik, wilayah akar rumput PAN lebih terkonsentrasi di Jakarta Selatan.  Fraksi PAN di DPRD DKI Jakarta hanya memiliki 2 kursi.

    Koalisi partai pendukung Ahok-Djarot lebih membutuhkan dukungan  PKB guna mencapai perolehan suara lebih dari 50%.  Secara kultural keagamaan, massa koalisi partai pendukung Ahok-Djarot yang muslim umumnya sangat dekat dengan tradisi NU. Wilayah akar rumput PKB tersebar di beberapa wilayah Jakarta. Basis massa PKB juga ada di Jakarta Selatan dan Barat, serta di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu.

    Berdasarkan penetapan KPU DKI Jakarta pada 6 Dersember 2017, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilkada DKI Jakarta 2017 sekitar 7. 128.408 juta pemilih yang terdaftar untuk memilih di 13.023 TPS.  Sebaran jumlah pemilih tersebut adalah sebagai berikut:

    Jakarta Pusat sebanyak 747.152 pemilih/ 1.237 TPS

    Jakarta Utara sebanyak 1.091.874/ 2.150 TPS

    Jakarta Barat sebanyak 1.652.051 pemilih /2.934 TPS

    Jakarta Selatan, tercatat ada 1.593.700 pemilih / 2.973 TPS

    Jakarta Timur sebanyak 2.006.397 pemilih / 3.690 TPS

    Kepulauan Seribu 17.415 pemilih / 39 TPS.

    Sekitar 5.490.301 warga yang menggunakan hak suaranya (77.1%) pada Pilkada DKI Jakarta putaran pertama. Berarti ada sekitar 1.638.107 orang terhitung tak menggunakan hak pilihnya atau mungkin terhambat untuk menggunakan hak pilihnya karena masalah teknis di Pilkada DKI Jakarta 2017.  Berdasarkan data quick count hasil Pilkada putaran pertama, Ahok-Djarot berhasil meraih perolehan 2.330.037 suara atau 42,96 persen dari total suara masuk.

    Peta demografi pemilih Paslon Ahok-Djarot, dalam data yang dihimpun JPPR, paslon nomor urut dua ini berhasil meraup  49 persen suara di Jakarta Barat, 43 persen di Jakarta Pusat, 49 persen di Jakarta Utara, serta 34 persen di Kepulauan Seribu. Sementara Anies-Sandi meraup 47 persen suara di Jakarta Selatan dan 42 persen di Jakarta Timur.

    Skenario terburuk bagai Tim Sukses pasangan Ahok-Djarot adalah tidak ada dukungan dari PAN, PPP, dan PKB. Apakah pasangan Anies-Sandi akan menang dengan mudah?  Belum tentu, karena Jakarta Timur yang merupakan basis suara mereka bisa saja lepas dalam sekejap.  Bila KPUD DKI Jakarta bekerja secara professional, dan Panwas juga bekerja secara maksimal maka hasilnya akan tergantung dari hasil kerja keras partai-partai pendukung tiap paslon.

    Dengan mengkonsolidasikan sepenuhnya kekuatan mesin partai PDIP, Hanura, Nasdem dan Golkar di Jakarta Timur dan Selatan, tidak mustahil situasinya akan berubah.  Paslon Ahok-Djarot masih bisa meningkatkan perolehan suaranya di Jakarta Timur. Kemungkinan Gerindra akan kewalahan menghadapi agresifitas pergerakan PDIP di Jakarta Timur,  bila mesin partai PDIP efektif digerakkan.  Kuncinya adalah siapa tokoh kunci koalisi partai pendukung Ahok-Djarot  yang diserahi tugas untuk menggarap Jakarta Timur.  Siapa yang berhasil memenangkan pertarungan di Jakarta Timur hingga 60% maka merekalah yang punya peluang besar akan memenangkan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua.

    Pemilih di DKI Jakarta adalah pemilih yang rasional. Namun rasional saja tidak cukup. Harus ada stimulasi kuat untuk mengarahkan pilihan pada paslon tertentu.  Pergerakan akar rumput di kantong-kantong suara tingkat RT/RW hingga kelurahan berpengaruh dalam mendorong kecenderungan pilihan para pemilih. Rasionalitas pemilih dapat digoda dengan politik uang (serangan fajar).  Pada kalangan menengah ke atas mungkin politik uang tidak berlaku. Namun untuk daerah-daerah yang padat penduduk dengan perekonomian yang pas-pasan maka politik uang dapat menghancurkan banyak prediksi.  Karena itu mesin partai Tim Sukses Ahok-Djarot harus bekerja untuk menjaga kantong-kantong suara masing-masing partai.

    Menggerakan mesin  partai di lapangan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Jangan sampai mereka yang ditugaskan menjaga kantong-kantong suara malah berbalik haluan karena tergoda oleh politik uang.  Mesin partai dan relawan pastilah sama-sama membutuhkan uang untuk bergerak.  Tinggal lagi bagaimana kekuatan dana tiap-tiap paslon untuk mendukung segala aktivitas arus bawah guna  memenangkan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua.  Politik adalah uang, butuh dana guna mencapai tujuan poltik yang telah digariskan.

    *****


    Pernulis : Beni Guntarman  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Paslon Ahok-Djarot Tidak Butuh PAN Diputaran Kedua Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top