728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 20 Februari 2017

    Pak Anies, TPS Bukan Tempat Kampanye


    Silahkan lihat video di atas. Suasana meriah tersebut bukan suasana kampanye paslon 3. Tapi suasana berlangsungnya pemungutan suara ulang di TPS 29 Kalibata, Jakarta Selatan. Pemungutan suara ulang ini hanya sekedar seremoni saja. Karena toh tidak akan mengubah hasil dari putaran pertama. Tapi jujur menonton video di atas, saya hanya bisa geleng-geleng tidak percaya. TPS adalah tempat steril di mana setiap warga DKI bisa dengan bebas dan aman menentukan pilihannya. TPS bukan tempat kampanye. 

    Coba lihat video di atas, menurut Anda, jika Anda tidak memilih nomor 3 apakah Anda akan merasa terintimidasi?

    Yang membuat saya tidak habis pikir, Ketua KPUD DKI Sumarno membenarkan apa yang terjadi itu. Anies mampir ke TPS 29 di mana pencoblosan ulang diadakan. Katanya sih kebetulan lagi lewat di daerah tersebut. Mirip alasan yang dipakai remaja yang gengsi ketika mengunjungi rumah gebetannya. Alasannya kebetulan lewat. Hehehe..  Dan kebetulan lagi, Ketua KPUD DKI Sumarno juga ada di TPS tersebut. 

    Apakah benar-benar kebetulan atau sudah janjian? Katanya Anies cuma mampir lima menit, kok ya pas sekali bisa ketemuan? Saya sungguh tidak tahu dan tidak ingin menuduh. Tapi silahkan lihat sendiri juga di video tersebut. KPUD DKI Sumarno menyambut Anies seperti Lurah yang kedatangan Gubernur. Padahal ini baru calon Gubernur lho…  Mungkin Ketua KPUD DKI sudah bisa meramalkan masa depan. Bisa jadi….
    Sementara itu, Ketua KPU DKI Sumarno tak mempermasalahkan kedatangan Anies ke RT 7 RW 5 saat berlangsungnya pencoblosan ulang di TPS 29. Sebab, kata Sumarno, tak ada peraturan yang mengatur hal tersebut. “Ini kan tempat terbuka, siapa pun boleh datang. Baik itu calon, bukan calon, pemilih, bukan pemilih, warga sini, warga tempat lain. Tidak ada masalah,” kata Sumarno saat meninjau pencoblosan ulang di TPS 29.
    Sumber di sini.

    “Tidak melanggar. TPS itu terbuka untuk siapa saja, tempat publik,” ujar Sumarno ketika dihubungi Beritasatu.com, Minggu (19/2). Dikatakannya, apabila Anies melakukan kampanye dan meminta warga untuk memilihnya di TPS 29, itu baru masuk dalam kategori pelanggaran. “Yang melanggar aturan kalau tadi di hadapan pemilih berkampanye, Ayo coblos saya, coblos nomor tiga, itu baru melanggar. Tapi kan dia tidak bilang apa-apa, hanya meninjau,” ungkapnya.
    Sumber di sini.
    Saya mempertanyakan logika Pak Ketua KPUD DKI. Betul itu tempat terbuka. Betul itu tempat umum. Tapi saya kira tidak bisa menggampangkan karena itu tempat terbuka dan tempat umum, siapapun boleh datang. Anies – Sandi, Basuki – Djarot bukan siapapun. Mereka adalah paslon yang sedang bertanding dalam Pilkada.

    Kalau mengikuti logikanya Pak Ketua KPUD DKI, apakah boleh nanti di putaran kedua, di hari pencoblosan, para calon berkeliling ke berbagai TPS. Lalu bisa dipastikan, di banyak TPS akan terjadi suasana layaknya kampanye seperti yang ada di video. Apakah warga DKI bisa menentukan pilihan dengan tenang, merasa aman, bebas dari intimidasi?

    Ketua KPUD DKI Jakarta, Sumarno, juga sudah menghimbau agar masyarakat yang hadir di Tempat Pemunguran Suara, TPS, pada Rabu 15 Februari nanti tidak menggunakan atribut kampanye maupun alat peraga kampanye.

    “Atribut kampanye yang dimaksud itu yang ada foto calon, nama calon, dan nomor urut calon. Termasuk juga gambar partai juga tidak diperbolehkan,” tegas Sumarno kepada wartawan BBC Indonesia, Liston P Siregar.
    Sumber di sini.

    Kalo foto calon saja tidak diperbolehkan di lokasi TPS, tapi kalau orangnya hadir langsung boleh? Saya geleng-geleng dan jedot-jedot tembok. Maksud dari peraturan yang dijelaskan oleh Pak Ketua KPUD DKI sendiri tersebut adalah supaya TPS bersih dan steril sehingga warga DKI bebas menentukan pilhannya. 

    Dengan kedatangannya Anies sudah menjadikan TPS sebagai tempat kampanye meskipun seperti “dia tidak bilang apa-apa.” Coba bayangkan kalau Ahok berkeliling ke berbagai TPS di Jakarta Barat. Ahok tidak perlu mengeluarkan sepatah kata apapun juga. Cukup senyam-senyum dan berfoto dengan Ahoker di sana. Mungkin juga menyalami Lurah, dan Ketua RW yang dia kenal. Menurut Pak Ketua KPUD DKI yang terhormat, itu termasuk pelanggaran atau tidak?

    Video di atas di beri judul : “Pendukung Ahok Disoraki di TPS 29 Kalibata”. Deskripsi video tertulis : “Video pendukung Ahok disoraki saat meninggalkan lokasi pemilihan (TPS 29 Kalibata). Pihak keamanan bersiap siaga mengantisipasi terjadinya keributan.” Tidak ada keterangan lebih detil mengenai apa yang terjadi. Tapi jika benar seperti keterangan video bahwa tempat kejadian adalah lokasi TPS 29, saya heran bagaimana bisa KPUD yang hadir di sana membiarkan hal ini terjadi. Kelihatan jelas ada intimidasi dan menjurus ke bentrok fisik yang sangat mungkin terjadi. Kalau intimidasi dan bentrok fisik terjadi di TPS, apakah TPS masih jadi tempat aman di mana setiap warga DKI bebas memilih sesuai hati nuraninya?

    Untuk putaran kedua nanti, KPUD DKI perlu membenahi kinerja dan berhati-hati dalam bersikap. Para anggota KPUD silahkan mempunyai pilihan pribadi masing-masing seperti yang dijamin konstitusi. Tapi dalam menjalankan tugas dan wewenang, jangan sampai berpihak kepada salah satu calon. Taruhannya terlalu besar. Anda bisa menghancurkan demokrasi yang dengan susah payah dibangun di Indonesia.

    Penulis : Petrus Wu   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pak Anies, TPS Bukan Tempat Kampanye Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top