728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 24 Februari 2017

    Mengejutkan, 27 Juta ons Emaslah Yang Membuat Freeport Ngotot di Kontrak Karya, Kalau Perlu di Arbitrase

    Sejak diberlakukannya UU Minerba no.4/2009 tentang kewajiban pemegang Kontrak Karya wajib melakukan pengolahan dan pemurnian (hilirisasi) dalam jangka waktu 5 tahun. Maka Freeport wajib membangun smelter, tapi mereka mampu berkelit dari kewajiban ini.
    Setelah 5 tahun berjalan yaitu tahun 2014, serta bertepatan dengan akan berakhirnya masa pemerintahan Presiden SBY. Pada titik ini Freeport mulai ketar-ketir, siapakah yang akan menjadi Presiden : Prabowo dan Jokowi.

    Bagi Freeport, sosok Prabowo mungkin akan lebih mudah ditaklukkan karena didalam gerbong koalisi ada beberapa nama yang tidak asing dan cukup elegan untuk diajak “damai”. Tentunya Pembaca Seword sudah dapat menebak kira-kira siapakah tokoh tersebut.

    Dan benar saja, saat hasil Presiden terpilih sudah ada, maka Freeport segera melakukan langkah cerdik untuk mengamankan posisinya di Indonesia yaitu dengan mendekati Presiden SBY dan “simsalabim” terjadilah sebuah Nota Kesepahaman antara Freeport dengan Indonesia. Nota Kesepahaman ini nantinya akan digunakan sebagai  Golden key saat akan melakukan negosiasi perpanjangan kontrak pada tahun 2019.

    Cadangan Terbukti

    Data terakhir yang dikeluarkan oleh Freeport McMoRan Inc pada laporan keuangan tahun 2015 untuk Bursa Efek New York. Per tanggal 31 Desember 2015 mereka memiliki cadangan terbukti sebesar 99.5 miliar pon tembaga, 27.1 juta ons emas dan 271.2 juta ons perak.

    Bandingkan dengan cadangan terbukti yang dimiliki oleh tambang Indonesia adalah 28 miliar pon tembaga, 26.9 juta ons emas dan 106.7 juta ons perak. Apabila dibuat persentase menjadi 28% tembaga, 99% emas dan 39% perak. Wow . . . pantas saja FMI “ngiler”.

    Tentu saja dengan data diatas FMI akan menghalalkan segala cara untuk dapat melanjutkan kelangsungan bisnisnya di Indonesia. Entah itu secara politik, sosial ekonomi atau gratifikasi, yang memang di masa lalu cukup banyak peminatnya. Kalau sekarang sudah lebih takut karena Pakde Jokowi dan KPK sudah “galak”.

    Bagi ahli geologi data dari tabel diatas tentu sangat menggiurkan betapa kandungan dari Ore yang dimiliki di tambang Freeport sangat kaya. Untuk tembaga kandungan biji tembaga diantara 0.56% – 2.26% bandingkan dengan tambang lain, hanya 0.18% – 0.55%.

    Untuk Emas kandungannya diantara 0.69 – 1.29 gr per ton tanah, berbanding 0.04 gr per ton tanah. Untuk perak kandungannya diantara 2.34 – 13.82 gr per ton tanah, berbanding 1.43 gr per ton tanah. Artinya jelas Freeport memang sebuah gunung emas.

    Tentunya dengan kandungan tanah yang kaya akan bahan mineral akan membuat biaya produksi akan rendah, dan proses produksi dapat cepat. Maka tidak heran FMI tetap akan ngotot mempertahankan Kontrak Karya dan pemegang kendali tambang, apapun caranya . . . titik.

    Freeport Indonesia memang memiliki Presiden Direktur di Indonesia tetapi tidak memiliki fungsi atau kewenangan yang besar. FMI sejak awal sudah sangat cerdas dan licik dengan membuat KK dengan mereka yang berkantor pusat di US, Bukan dengan PT Freeport Indonesia. PT FI hanyalah sebuah boneka bagi FMI.

    Time Frame Produksi

    Freeport McMoRan Inc. sudah membuat bagan proses produksi bagi cadangan terbukti mereka di seluruh dunia. Dalam bagan tersebut juga sudah ditampilkan rencana kerja bagi proyek di Indonesia dengan dibagi menjadi beberapa plant seperti DMLZ Block Cave, Grasberg Open Pit, DOZ Block Cave, Big Gossan, Grasberg Block Cave dan Kucing Liar Block cave.

    Semuanya disetting dalam time frame Kontrak Karya hingga tahun 2041, karena dengan kecepatan produksi saat ini semua cadangan terbukti akan habis saat itu. Jadi jelas pada tahun 2041 Freeport hanyalah bekas tambang saja. Kira-kira beginilah detail rencana kerja FMI di Freeport Indonesia :

    1. DMLZ Block Cave                sampai 2038
    2. Grasberg Open Pit               sampai 2018
    3. DOZ Block cave                    sampai 2020
    4. Big Gossan                            sampai 2036
    5. Grasberg Block Cave            sampai 2041
    6. Kucing Liar Block Cave          2024 – 2041

    Pantas saja begitu Jonan mengeluarkan PP no1/2017 tentang perubahan Kontrak Karya menjadi IUPK membuat Richard C Adkerson mencak-mencak di Indonesia, ditambah Direktur  Freeport Indonesia tidak bisa melakukan tugas lobi.


    Tekanan bagi Adkerson cukup besar akibat kinerja keuangan mereka pada tahun 2015 baik dari lini migas dan saham. Apabila dilihat dari sisi revenue sebenarnya masih cukup besar sekitar 15.8 miliar US tetapi turunnya nilai saham sampai mengerus valuasi mereka sekitar 12.2 miliar US. Tentu hal ini akan membuat marah para pemegang saham, plus ada IUPK di Indonesia tentu ada tambahan tax ! Paman Adkerson langsung pusing.

    Kesimpulannya adalah satu tambang Freeport di Indonesia adalah satu-satu wayout FMI dari kerugian akibat kesalahan bisnis saat masuk di bisnis migas. Serta hemegomi FMI (US) tetap ada di Indonesia.

    Maka FMI mengancam akan maju ke Arbitrase apabila tidak mendapatkan kata sepakat. Tuntutannya jelas FMI masih tetap memegang Kontrak Karya, sistem pajak tetap nailed down dan jaminan kelangsungan bisnis. Waduh . . . kok enak sekali ya . . .

    Selamat berjuang di Arbitrase Paman FMI, tapi janganlah membuat gaduh NKRI karena bangsa ini dibawah Pakde Jokowi sudah menggalang kekuatan baik di sisi hukum dan keamanan. Dan jangan lupa sejarah, PT Newmont 2014 sempat ingin mengajukan Arbitrase tetapi mereka akhirnya mundur dan menerima IUPK.

    Apabila ingin berinvestasi dengan jujur dan bermartabat, tentu Pakde Jokowi dan bangsa ini akan welcome, tapi jangan injak-injak harga diri dan kedaulatan bangsa ini, sama seperti beberapa pemimpin bangsa kami yang masih berpikiran bahwa bumi itu datar, dan mulailah untuk tidak menggunakan jasa kaum titik-titik untuk membuat kami saling berkelahi.

    Sumber : Laporan Keuangan FMI untuk NYEC baik tabel maupun gambar.

    Salam NKRI

     Penulis :  Antonius Tri K  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Mengejutkan, 27 Juta ons Emaslah Yang Membuat Freeport Ngotot di Kontrak Karya, Kalau Perlu di Arbitrase Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top