728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 21 Februari 2017

    Mengapa Etnis Tionghoa Kompak Memilih Ahok?

    Sebuah tulisan tampil di Republika.co.id dengan judul ” Belajar dari Etnis Cina dan Non-Muslim dalam Pilkada DKI”. Sebuah tulisan dengan judul yang adem tapi isinya provokatif. Seakan-akan memuji tapi menusuk dari belakang. Inti tulisan tersebut (dan banyak tulisan lain yang serupa yang banyak beradar di dunia maya): Etnis Tionghoa aja bisa kompak memilih Ahok karena dia etnis Tionghoa. Masak Muslim gak bisa kompak memilh yang muslim? Penyesatan logika yang licik. Namun patut diacungin jempol. Logika penulis saya duga sangat sederhana: “Biarin saja etnis Tionghoa memilih Ahok. Toh mereka minoritas. Kalau Muslim kompak memilih Muslim, Ahok pasti kalah.”

    Sebagai warga negara Indonesia keturunan (etnis ) Tionghoa, saya bisa beragumen mengapa tulisan tersebut merupakan penyesatan logika serta dengan licik menggiring opini pembacanya. Meskipun argumen saya ini tidak mewakili seluruh etnis Tionghoa, namun ini setidaknya benar bagi sebagian etnis Tionghoa di lingkungan saya.

    Kami Memilih Ahok Karena Dia Tidak Korupsi

    Mereka yang menganggap etnis Tionghoa memilih Ahok karena Ahok beretnis Tionghoa pasti mempunyai pergaulan terbatas dengan etnis Tionghoa. Jualan suku dan agama tidak laku di kalangan kami. Coba suruh si Lieus Sungkharisma, yang mengaku tokoh Tionghoa itu mencalonkan diri menjadi Gubernur. Apakah etnis Tionghoa akan kompak memilih dia? Jangan harap. Saya belum pernah mendengar pemuka agama yang berani bicara di depan etnis Tionghoa untuk memilih orang tertentu karena agamanya. Mengapa? Karena jualan seperti itu tidak akan laku di depan etnis Tionghoa. Kami tidak memilih seseorang karena etnis atau agamanya, tapi karena kemampuannya. Dan lebih baik lagi, kalau sudah ada bukti kemampuannya.

    Etnis Tionghoa, terutama yang dari kalangan ekonomi menengah ke atas, bukan penerima manfaat dari program-programnya Ahok. Mereka tidak menggunakan Kartu Jakarta Pintar, karena anak-anak mereka bersekolah di sekolah swasta. Mereka juga tidak menggunakan Kartu Jakarta Sehat, karena mereka bayar sendiri di praktek dokter swasta, atau dilindungi oleh asuransi. Mereka juga kemungkinan besar tidak naik bis Transjakarta, karena masing-masing mempunyai mobil pribadi. Anak-anak mereka juga tidak bermain ke Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), karena setiap akhir minggu mereka jalan-jalan ke Mall. Tempat ibadah kebanyakan mereka tidak dibangun oleh Ahok, karena Ahok hanya bangun Masjid saja. Lalu mengapa masih ngotot memilih Ahok, bahkan ketika sudah dipersulit memberikan suaranya di banyak TPS?

    Bagi banyak warga DKI etnis Tionghoa, jawabannya adalah: kami membenci koruptor. Kami tidak rela uang hasil kerja keras kami dimakan oleh koruptor. Kami tidak ikhlas uang yang kami dapatkan dari memeras keringat diambil untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga oleh oknum-oknum mafia anggaran. Kami juga sangat membenci mereka yang memanfaatkan jabatan untuk memeras kami dan kemudian berfoya-foya dengan uang haram tersebut. Hanya satu orang yang bisa menjaga setiap sen uang APBD DKI Jakarta : Ahok!

    Kami Memilih Ahok Karena Kami Bisa ‘Baca Orang’

    Etnis Tionghoa dikenal eksklusif, tidak mudah menerima orang lain di luar keluarga dan kalangannya. Sebabnya karena etnis Tionghoa tidak mudah percaya orang. Watak ini sangat penting bagi seorang pengusaha. Terlalu mudah percaya orang akan jadi sasaran empuk penipuan. Bisa ditipu rekan bisnis, suppier maupun pelanggan. Itulah sebabnya kebanyakan etnis Tionghoa hanya percaya kepada kalangan keluarga dan teman dekat. Itupun masih banyak yang ketipu hehehe…

    Tidak mudah mendapatkan kepercayaan etnis Tionghoa. Kebanyakan mereka kritis dan jago hitung-hitungan. Kalau sudah keluarin kalkulator, kelar hidup elu. Jangan coba-coba jualan rumah DP 0 % kek, rumah DP 0 Rupiah kek… gak laku jualannya. Mana ada yang kayak gitu di dunia. Apalagi ngaku-ngaku sudah membina ratusan pengusaha jadi sukses. Elu kira gampang jadi pengusaha, Boss?

    Kebanyakan etnis Tionghoa akan mencurigai mereka yang bermulut manis. Ayah saya almarhum dulu pernah memperingatkan saya untuk berhati-hati terhadap mereka yang bermulut manis. Menurut ayah saya, orang-orang seperti itu biasanya punya niat tersembunyi. Kami lebih suka mereka yang blak-blakan dan fair. Tidak ada agenda tersembunyi, tidak ada kejutan, semua kartu dibuka di atas meja.

    Kami Memilih Ahok Karena Dia Dizalimi

    Ahok salah omong. Membawa-bawa ayat agama lain. Untuk itu dia sudah berkali-kali minta maaf. Permintaan maaf tersebut dibalas demo berjilid-jilid yang sampai hari ini masih to be continue. Dijadikan terdakwa meskipun sudah menyatakan tidak ada maksud hendak menghina agama siapapun. Ahok mungkin bebas tapi bisa juga berakhir di penjara. Kalau pun bebas, sudah banyak oknum ormas radikal yang siap menggantung dan percaya membunuh Ahok sama dengan berbuat kebaikan.

    Maka jangan heran, etnis Tionghoa kompak membela Ahok. Karena etnis dan agamanyakah? Lebih karena Ahok adalah orang benar yang diperlakukan semena-mena. Ada rasa solidaritas karena kesamaan etnis dan agama? Bisa jadi. Kami mungkin lebih bisa bersimpati, karena mungkin lebih mudah membayangkan andaikan kami di posisi Ahok. Kerja siang malam demi menyejahterahkan warga DKI. Mendahulukan kepentingan publik di atas kepentingan keluarga. Berpegang pada aturan, jujur tidak korupsi. Keselamatan keluarga terancam setiap saat. Balasannya? Didemo oleh jutaan orang.

        Hanya orang “dungu dan bodoh” —maaf saya terpaksa meminjam istilah yang sering dipakai mereka— apalagi kalau dia juga seorang muslim, yang menilai bahwa memilih sesama muslim sebagai pemimpin sebagai tindakan dungu, bodoh dan terbelakang.


    Kalimat di atas adalah kalimat penutup artikel menyesatkan tersebut. Mungkin maksudnya untuk secara halus mengatakan “dungu dan bodoh”  kepada mereka yang tidak memilih calon pemimpin yang seagama. Kalau saya boleh secara jujur menyuarakan pendapat saya dan banyak etnis Tionghoa: mereka yang pantas dicap dungu dan bodoh adalah mereka yang hanya mempertimbangkan etnis dan agama tapi menutup mata terhadap track-record, integritas, kompetensi dari pemimpin yang dia pilih. Jangan mau dibodohi pake agama dan etnis


    Penulis : Petrus Wu   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Mengapa Etnis Tionghoa Kompak Memilih Ahok? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top