728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 21 Februari 2017

    Mengajak Gusti Allah Di Pilkada Lebih Menguntungkan Dibanding Menyewa Selebriti

    “Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara yang benar.” (Abu Hâmid al-Ghazâlî )

    “Allah bermaksud menjadikan Islam sebagai sebuah agama, tetapi orang-orang memahaminya bermakna politik.” (Said al-Asymawi)

    Juru kampanye yang sering diandalkan belakangan ini adalah Gusti Allah. Gusti Allah paling sering diajak ke mana-mana, termasuk dalam soal men-goal-kan syahwat kekuasaan. Begitu juga dalam pilkada yang kekinian, Pilkada DKI. Kehadiran-Nya menyisihkan para selebriti yang dulu diandalkan dalam mendulang suara.

    Gusti Allah menjadi andalan ketika tidak ada program baru dan inovatif yang ditawarkan paslon. Gusti Allah yang Maha Kuasa itu bahkan harus dibela, seakan-akan Dia tak mampu membela diri-Nya sendiri. “Kalau kalian tidak memilih si A, berarti kalian menyalahi Gusti Allah” ujar seorang ustadz. “Kalau kalian mencoblos si B, maka kalian mengundang murka-Nya.” Sang Ustadz merasa paling paham tentang-Nya, merasa paling mengerti kehendak-Nya. Bahkan ada yang lebih ekstrem kedengarannya. “Kalau kalian mencoblos Ahok, maka termasuk golongan munafik, dan jika kalian meninggal maka kami tidak akan men-sholatkan jenazah kalian.”

    Itulah fenomena sekarang. Jika kita memilih Ahok, sebagian orang, – entah itu dulunya sahabatmu, rekan kerjamu, atau bahkan anggota keluargamu- akan membombardir kita dengan segudang pertanyaan yang nyaris serupa bunyinya, “apakah Anda tidak takut Murka Gusti Allah ?” Mengapa Anda tidak menjalankan perintah-Nya ?” Ujung-ujungnya diskak mat oleh pertanyaan pamungkas, “apakah anda muslim?” Sebuah pertanyaan yang menyiratkan keegoan dan keangkuhan. Dirinya merasa menjadi Gusti Allah yang bisa menilai hati seseorang.

    Mereka berkata, bahwa mereka hendak mewujudkan dan menegakkan hukum Gusti Allah di muka bumi. Oleh karenya, mencoblos surat suara bergambar Ahok-Djarot bukanlah sebuah pilihan. Sudah pasti seorang muslim yang baik akan memilih pemimpin dari kalangan muslim sendiri. Begitulah logikanya. Mereka kemudian menerawang ke masa yang telah lalu, tepatnya ribuan tahun lalu. Dari sudut otentitas, masyarakat di zaman nabi maupun al-khulafa al-rasyidun dipandang sebagai satu-satunya representasi negara dan masyarakat Islam yang diridhai Tuhan, baldatun thayyibah wa robbun ghafur, sehingga blue print ini harus diterjemahkan ke dalam kehidupan kaum muslim kapan dan di mana pun.

    Masalahnya, “gentleman agreement” nasion kita adalah Pancasila. Tokoh semua kalangan, suku bangsa dan agama turut serta dalam mewujudkan Pancasila ini.  Terjadi diskusi alot tentang perumusan dasar negara. Tarik-menarik antara kaum Islam di satu sisi, sementara Kaum nasionalis di sisi yang lain berlangsung ke arah yang membahayakan. Ketika perdebatan berlarut-larut, Soekarno datang dengan ide serta gagasannya yang cemerlang, yakni “Pancasila.” Jadilah Pancasila sebagai dasar negara yang disepakati baik oleh kaum muslim, maupun  non muslim.

    Gusti Allah, agama dan kitab suci dibawa-bawa dalam kampanye pilkada DKI oleh pihak-pihak yang sesungguhnya tidak memiliki solusi dan program untuk rakyat DKI, Jakarta. Mereka mendikotomikan antara pemimpin muslim, yang diridhoi Allah dengan pihak lawan yang  nonmuslim. Sentimen keagamaan, sektarianisme, dan primordialisme masih sangat kental terasa.

    Qamaruddin Khan, seorang penulis dari Pakistan, mengajukan pandangannya yang kritis, ia menyatakan: “Klaim bahwa Islam merupakan perpaduan antara agama dan politik yang harmonis adalah sebuah slogan modern yang tak dapat ditemukan dalam masa lalu Islam.” (dalam Effendy, 2016:xxi). Dengan demikian, proyek penyatuan agama dan politik bukanlah tujuan Islam. Apalagi menyempitkan maknanya sedemikian rupa sehingga Islam hanya hadir dalam bentuk negara Islam . Apakah tujuan Islam semata membentuk negara ? Sesungguhnya, ujar Qamaruddin, tujuan Islam bukan membentuk sebuah negara Islam. Tujuan Islam adalah mewujudkan masyarakat yang Islami.

    Jadi, stop bawa-bawa Gusti Allah dalam kampanyemu. Bertarunglah secara sportif. Program diadu dengan program. Kinerja diadu dengan kinerja. Hindari fitnah, jangan sedikit-sedikit berkata, “awas, kalau kau memilih Ahok Gusti Allah akan meng-azabmu !”



    Penulis : Akhmad Reza  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Mengajak Gusti Allah Di Pilkada Lebih Menguntungkan Dibanding Menyewa Selebriti Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top