728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 15 Februari 2017

    Menangnya Paslon Haram di Tanah Suci FPI, Petamburan

    Pilkada DKI Jakarta memang menarik. Banyak trik, intrik dan dramaturgi yang menghiasi dan menjadi bumbu penyedap dari pilkada di ibukota negeri ini. Masyarakat sering dibuat gemes dan greget banget soal alur cerita yang ada, termasuk saya. Hahaha.

    Quick and real count memang belum selesai, tapi ada yang menarik yang ingin saya sorot, yaitu menangnya paslon Basuki-Djarot di TPS 17, Petamburan[1]. Lucu sekali, markas besar sekaligus pusat FPI malah dimenangkan oleh paslon yang mereka serang habis-habisan. Pertanyaan iseng dari saya, jikalau FPI terus meneriakan haram memilih pemimpin kafir, sedangkan Petamburan memenangkan paslon “kafir”, apakah berarti markas FPI itu haram karena berdiri di atas tanah yang memenangkan paslon haram? Hahahaha.

    Dari sini sesungguhnya kita harus menyadari satu hal, FPI itu hanya koar-koarnya yang keras, ngurusin suara di markas pusat sendiri ga bisa. Berarti, pengaruh FPI di pusat jantung kegiatannya sendiri nyaris tidak ada.

    Ini menandakan bahwa masyarakat sudah mulai dapat menilai, mana yang sungguh-sungguh beragama, dan mana yang agamanya hanya berupa daster saja. Publik bukan orang yang bodoh, yang tidak dapat menimbang-nimbang antara aktivis keagamaan yang gadungan dan yang autentik.

    Gagalnya FPI, dan Kegagalannya Total

    Kalau kita membaca perjalanan FPI pada masa pilkada DKI ini, sebenarnya merekalah yang akan paling merugi. Pertama, nama mereka sudah rusak. Pemimpin mereka sedang dan akan terus terjerat dengan kasus hukum yang menumpuk. Belum lagi isu moralitas yang sedang membelit Rizieq Shihab (RS) berkenaan dengan Firza Husein (Firza). Hal ini memperburuk citra mereka di mata masyarakat, yang mana sebelumnya pun sudah lama tergerus. Sanksi hukum dan sosial sudah menanti di muka pintu FPI.

    Kedua adalah mereka sudah tidak terlalu berguna bagi pemesan kepentingan. Indikasi ini sudah jelas terlihat ketika RS dibelit dengan kasus Firza. Perhatikan saja, jikalau pada kasus penodaan ideologi Negara RS masih berani koar-koar, setelah kasus Firza keluar, RS langsung diam seribu bahasa. Semenjak itulah para pemesan kepentingan sudah mulai menarik jemarinya dan membuang muka mereka dari FPI.

    FPI sudah tidak punya masa depan kalau kasus Firza dibawa ke muka umum. Isu kriminalisasi ulama sudah tidak laku lagi. Apalagi kalau semua berkas penyidikan dan metode pembuktian dibuka selebar-lebarnya melalui proses pengadilan yang ditanyangkan secara live. Ditambah dengan pengalaman kepolisian yang sudah pernah menangani kasus yang serupa, bukan hal yang sulit untuk mengakhiri kasus ini dengan indah.

    Saya setuju dengan banyak penafsiran dari pegiat-pegiat media sosial yang tajam dalam menafsirkan situasi. Bahwa FPI tidak perlu dibubarkan, cukup dijinakkan saja. Ini pandangan yang sangat strategis. Dengan dijinakkannya anjing liar ini, mereka tidak perlu pecah dan mejadi liar. Cukup dibuat mandul supaya mereka berada di bawah kendali dari tali kekang pemerintah. Jikalau sebelumnya mereka begitu berani menggigit pemerintah, sekarang mereka malah akan terkaing-kaing dan menjilati kakinya.

    Jadi, Bagaimana Masa Depan FPI dan Pilkada DKI?

    Untuk sementara waktu sepertinya FPI akan berpindah tuan, namun hanya sejauh pilkada DKI ini berjalan. Jika sebelumnya FPI lebih dekat dengan kelompok Cikeas melalui perpanjangan tangan dinasti ini. Sekarang, mereka akan lebih banyak mendekat kepada kelompok paslon nomor 3. Betul bahwa sebelumya banyak terjadi irisan pengaruh untuk memperebutkan manfaat yang ditawarkan FPI. Apalagi FPI selalu yang paling konsisten menggonggongi paslon nomor 2. Namun sekarang, apa yang paslon 1 bisa dapatkan dari FPI? Mungkin potongan video Rizieq hots. Hahahaha.

    Kegagalan Paslon nomor 1 untuk menggaet kaum agamis adalah karena terlalu mengandalkan uang peponya. Sedangkan kharisma paslon 1 di mata pemirsa tidak pernah cukup untuk dapat menarik simpati kelompok agamis garis keras di Jakarta. Hal ini terbukti dari ditikungnya si ganteng nomor 1 oleh si manis nomor 3. Ini menjadi bukti bahwa keunggulan paslon nomor 1 memang hanyalah uang bapaknya.

    Bagi saya, yang harus kita waspadai adalah akan ke manakah teralihnya sekitar 17% suara dukungan bagi paslon nomor 1 di putaran kedua? Yang saya takutkan, seluruhnya akan beralih ke paslon nomor 3, walaupun saya tidak mau itu terjadi. Kenapa saya bisa tafsirkan demikian? Karena tidak ada alasan yang logis untuk memilih Agus setelah melihat semua hal yang terjadi di masa pilkada DKI ini. Berarti, komposisi terbesar dari 17% suara pendukung Agus ini adalah suara dari massa yang fanatik. Saya duga, salah satu elemen kuat dari fanatisme ini adalah soal isu SARA.

        Jikalau komposisi dari 17% massa pendukung Agus ini benar-benar terkumpul berdasarkan basis SARA dan fanatik, maka porsi besarnya akan mendukung paslon nomor 3 kelak di putaran kedua.

    Timses paslon nomor 2 tidak boleh lengah tentang hal ini. Di putaran kali kedua mereka harus betul-betul mengawal kantong-kantong suara mereka. Belajar dari pengalaman di putaran pertama, banyak berseliweran informasi bahwa kantong-kantong suara paslon nomor 2 itu dirongrong dan digembosi. Ini strategi busuk yang pasti dikerjakan oleh tangan-tangan kotor lawan. Kapan-kapan kita bahas apa saja kemungkinan strategi busuk yang dapat dijalankan di pilkada DKI ini. Kalau saya lupa, mohon pembaca Seword.com ingatkan saya.

    Akhir kata dari saya bagi para pembaca (Seword), FPI dan para penyetir kepentingan boleh merencanakan apa yang jahat, termasuk memanfaatkan nama Tuhan. Tapi, Tuhan tidak bodoh. Bagi mereka yang mau memanfaatkan nama-Nya, selamat dikerjai oleh-Nya. Lihat saja, sudah keluar uang banyak, tapi cuman dapat 17% suara plus nama rusak dan serangkaian kasus yang sudah menanti di muka pintu. Pertama-tama mungkin mulai dari diincarnya sang pangeran lengan panjang. Karena itu, wahai para pembacaku jangan lupa share tulisan-tulisanku. Bahahahahaha!
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Menangnya Paslon Haram di Tanah Suci FPI, Petamburan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top