728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 04 Februari 2017

    Menanggapi SBY, Jokowi Keluarkan Jurus Dewa Mabuk

    Presiden keenam RI dan juga Ketua Umum Partai Demokrat menyatakan bahwa dirinya disadap. Pernyataan itu muncul sebagai reaksi atas yang bergulir dalam persidangan Ahok yang sempat menyebut-nyebut namanya, Selasa (31/1). Dalam persidangan  saat itu, kuasa hukum Ahok, Humphrey Djemat , bertanya kepada Ketua Umum MUI, KH. Ma’ruf Amin yang menjadi saksi ahli. Pertanyaan Humphrey terkait komunikasi telepon dengan SBY pada Kamis, 6 Oktober 2016, pukul 10.16 WIB. Di ruang persidangan itu KH Ma’ruf Amin membantah adanya telepon itu.

    Namun dalam konfrensi pers, Rabu (1/2) di Wisma Proklamasi Jakarta Pusat, SBY malah menyatakan hal yang sebaliknya dari perkataan KH Ma’ruf Amin. SBY menyatakan pembicaraan telepon itu benar adanya. Menurut SBY substansi pembicaraan telepon itu tidak terkait Ahok dan fatwa MUI.

    “Kalau betul percakapan saya dengan Pak Ma’ruf Amin atau siapapun, dengan siapa disadap, tanpa alasan yang sah, tanpa perintah pengadilan dan hal-hal yang dibenarkan dalam undang-undang, namanya itu penyadapan ilegal,” ujar SBY, menyatakan dirinya merasa disadap. Presiden keenam RI itu menuntut penjelasan Jokowi dan respon penegak hukum atas dugaan penyadapan terhadap telepon miliknya. Pertanyaannya, apakah betul ada penyadapan terhadap SBY?

    Jawaban resmi dari beberapa lembaga terkait atas pertanyaan itu sudah disampaikan secara terbuka. Inti segala jawaban bahwa tidak ada lembaga intelijen yang menyadap SBY. Alasan SBY menyatakan merasa disadap lebih tepat dikatakan sebagai rumor politik. Kuasa hukum Ahok, Humprey Djemat, saat di persidangan itu menyatakan memiliki bukti mengenai adanya komunikasi telepon yang disangkal oleh KH Ma’ruf Amin. SBY menyimpulkan secara sepihak bahwa bukti yang dikatakan oleh Humphrey Djemat saat itu berupa rekaman ataupun transkrip percakapan antara dirinya dan KH Ma’ruf Amin.

    Cara SBY menyampaikan pernyataan bahwa dirinya disadap lewat konfrensi pers menunjukkan bahwa pernyataannya itu lebih dimaksudkan sebagai isu atau bola panas ketimbang upaya menemukan jawaban. Bola panas yang dilemparkan  ke arah Presiden Jokowi.  Lemparan bola panas itu disertai pula dengan berkembangnya wacana hak angket di DPR RI.  Maksud hati ingin menggelindingkan isu penyadapan itu agar terus membesar, namun sayang lemparan gayung itu tidak bersambut. Satu hal yang harus diwaspadai oleh SBY, jangan-jangan bola panas itu malah berbalik arah dan SBY terpaksa harus menangkapnya karena dihadapan pada situasi simalakama.

    Menanggapi lontaran bola panas SBY itu, Presiden Jokowi langsung mengeluarkan jurus dewa mabuk, menyarankan SBY agar langsung saja mengklarifikasinya kepada Ahok dan kuasa hukumnya.  “Itu kan isu pengadilan dan yang berbicara itu kan Pak Ahok dan pengacaranya Pak Ahok. Iya kan? Lah kok barangnya digiring ke saya? Kan enggak ada hubungannya,” ujar Jokowi, Kamis (2/2).

    Jurus dewa mabuk, Jokowi menyuruh SBY menemui Ahok  dan kuasa hukumnya untuk klarifikasi langsung ke mereka. Serangan  SBY yang bermaksud ingin menimbulkan kesan ke publik bahwa  pemerintah Jokowi telah mendholiminya jadi meleset. SBY malah akan menghadapi dilema bila terus menuntut penjelasan karena dugaan penyadapan yang dinyatakannya hanyalah berdasarkan isu di ruang pengadilan Ahok yang kental dengan aroma politik itu. Bila SBY bertanya langsung kepada Ahok dan kuasa hukumnya tentu jawaban mereka “jadilah saksi di persidangan agar dapat kami jelaskan”.  Bila mengajukan diri untuk menjadi saksi di persidangan maka situasinya malah terbalik,  SBY malah berada pada posisi sebagai saksi yang mengklarifikasi keterlibatannya terkait munculnya fatwa MUI itu.  Apa tidak runyam jadinya bila harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tajam dari kuasa hukum Ahok?

    Jurus dewa mabuk adalah jurus yang penuh dengan langkah-langkah kosong tak beraturan, cenderung menggoda lawannya untuk terus masuk menyerang, kadang harus mundur beberapa langkah seakan-akan terdesak. Namun itu hanya perangkap untuk menemukan momentum menyerang titik vital kelemahan lawan.  SBY boleh sombong punya pengalaman lebih banyak ketimbang Jokowi. SBY menjabat Presiden keenam RI selama 10 tahun. Namun itu bukan berarti SBY bisa leluasa mengacak-ngacak pemerintahan Jokowi-JK.  Jurus andalan “merasa didholimi” yang diperagakan SBY dalam berbagai varian dan kombinasi  telah terbaca sepenuhnya oleh Jokowi.

    Maksud hati ingin mendeligitimasi pemerintahan Jokowi-JK demi membangkitkan kembali kejayaan Demokrat. Namun dikhawatirkan malah akan menjadi blunder bagi SBY. Sulit untuk menebak apa yang akan dilakukan Jokowi dengan jurus dewa mabuknya bila SBY tidak juga merubah caranya. Ada baiknya bila SBY menampilkan dirinya sebagai negarawan sejati, tidak perlu membenturkan diri dengan pemerintah yang syah guna mencapai tujuan politiknya.  Tampillah sebagai negarawan, pemimpin yang lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negaranya ketimbang kepentingan pribadi dan kelompoknya.  Negarawan, di negara manapun dia berada pasti dicintai segenap rakyatnya karena ketulusan hatinya kepada bangsa dan negara.



    Penulis : Beni Guntarman    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Menanggapi SBY, Jokowi Keluarkan Jurus Dewa Mabuk Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top