728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 17 Februari 2017

    Memilih Pemimpin Karena Agama Itu Salah

    Kenyataan di Pilkada DKI Jakarta yang terjadi pada saat ini adalah orang Islam hanya berpatokan pada Al-Qur’an dan meninggalkan Hadis. Kenyataan ini terjadi karena perebutan kekuasaan dalam Pilkada. Kursi panas-dingin DKI Jakarta. Pemakaian Al-Qur’an tanpa Hadis adalah sesat.

    Nabi Muhammad pernah memprediksi ini, dinarasikan Miqdam ibn Ma’dikarib bahwa Rasulullah bersabda ; “Ketahuilah sesungguhnya saya diberi kitab (Al-Qur’an) dan wahyu yang semisalnya (Hadis) bersamanya. Akan terjadi (di masa depan) seorang yang kenyang sedang bersimpuh pada sofanya mengatakan, berpegang teguhlah dengan Al-Qur’an saja ! Apa yang dihalalkan Al-Qur’an, maka halalkanlah dan apa yang diharamkan Al-Qur’an maka haramkanlah.” (HR. Abu Dawud).

    Mengapa kewajiban memilih pemimpin karena agama yang sama adalah salah kaprah ? Al-Qur’an itu berada di 3 masa. Surat dari Tuhan bagi seluruh umat manusia yang berlaku pada masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Perihal memilih teman setia atau pemimpin di Al-Qur’an jelas hanya berlaku pada masa itu, masa dimana banyak yang ingin menghilangkan kedatangan Islam yang meliputi semua agama. Hal itu wajar dan mafhum. Saya menyimpulkan demikian karena sudah membaca terjemahan Al-Qur’an lengkap.

    Berikut transkip wawancara saya dengan ulama sejati NU yang pernah menjabat anggota DPR RI pada tahun 2009-2014. KH. Prof. Dr Ali Maschan Moesa ;

    “Banyak orang yang mempercayai teks Al-Maidah 51 dalam memilih pemimpin, pendapat antum (anda) ?”   “Mereka itu tidak mengkomparasikan (membandingkan) dengan sikap Nabi, Islam ( Al-Qur’an dan Hadis ) itu diterjemahkan oleh Nabi, kalau pedoman hidup berbangsa ya kita lihat Al Hujurat ayat 13 itu.

    “Bagaimana dengan pemimpin negara / wilayah yang non islam ?”
    “Kalau mereka baik ya tidak apa-apa”

    “Apakah mereka yang percaya begitu saja dengan teks di Al-Qur’an itu salah pak kyai ?”                             “Iya, mereka salah paham.”

    Mengapa memilih hanya karena kesamaan agama adalah hal yang salah ?. Dalam hadis Malaikat Jibril diutus untuk menawarkan 3 hal penting bagi Nabi Adam selaku manusia pertama di dunia. Nabi Adam ditawarkan untuk memilih antara agama, akal yang sempurna dan perasaan. Apakah Nabi Adam memilih agama ?   Tidak. Beliau memilih akal yang sempurna. Jibril memerintahkan keduanya (agama dan perasaan) untuk kembali ke akhirat. Keduanya berucap, sesungguhnya Tuhan memerintahkan kami agar tidak berpisah dengan akal yang sempurna.

    Apakah ketika memilih hanya karena agama, akal yang sempurna dan perasaan menjadi hilang ? Begitulah kenyataannya. Upaya pemakaian agama dalam politik benar-benar menghilangkan akal yang sempurna.

    Kinerja Bapak Basuki yang terbukti membereskan banjir, kali tempat menggenangnya sampah menjadi bersih, bantuan sebesar 600.000 per anak miskin, daging sapi seharga 35.000 dan ayam 10.000 per kg untuk orang miskin, pembangunan hunian layak (rusun), ruang ramah lingkungan (taman), e-budgeting dimana warga dapat memantau pengelolaan dana dan program pemerintah, transportasi murah dan gratis, akses komunikasi (satu pintu) langsung kepada gubernur untuk pelayanan terpadu – semua kebaikan itu akibat pemakaian agama Islam  yang setengah-setengah dalam politik yakni dengan menggunakan Al-Qur’an saja tanpa hadis, warga memilih dengan tidak memakai akal yang sempurna. Ini tidak benar.

    Berikut percakapan dengan teman yang memilih untuk mendukung Bapak Anies, alasannya hanya karena agama.

    “Bukankah kerja Ahok-Djarot benar-benar memberi perubahan untuk Jakarta ? Bagaimana dengan banjir dan kali yang penuh dengan sampah-sampah itu ?                                                                                                 “Oh iya, jelas, dulu itu banjir bisa sampai 2 minggu, kalau sekarang 3 jam langsung surut. Kali jangan ditanya, bersih banget.”

    “Lantas kenapa kamu memilih nomor 3 dari pada bukti kerja yang sudah ada di depan mata ?”
    “Iya karena agama, saya takut.”

    Saya menjelaskan perihal hadis di atas tersebut, dan teman saya manggut-manggut. Lantas menanggapi ;

    “Iya ya, buat apa memilih yang belum pasti kalau di depan kita sudah ada pemimpin yang terbukti bekerja dengan baik.”

    Selanjutnya pemakaian agama yang setengah-setengah dalam Pilkada menghilangkan perasaan dan nurani. Provokasi kebencian dan hasutan untuk memilih pemimpin yang satu akidah dikumandangkan di masjid Istiqlal pada aksi 122 ! Kalau memang mereka ulama mereka akan menyikapi hal ini persis sama seperti Nabi Muhammad.

    Apakah mereka ulama ? mereka memakai hawa nafsu dan ada kepentingan untuk pemenangan Pilkada. Nabi dan Ulama sejati tidak. “Dan tidaklah Ia (Nabi) berkata dengan hawa nafsu”. An-Najm ; 3. Yang sangat disayangkan Anies Baswedan menghadiri acara ini.

    Memilihlah dengan akal yang sempurna, pilih yang dapat dipercaya, bekerja melayani warga dengan rajin dan tegas memberantas para koruptor. Memilih hanya karena agama itu salah. Kita tidak memilih pemimpin untuk ritual ibadah, kita memilih pemimpin yang ahli dalam pemerintahan. Sekedar mengingatkan, bapak Anies adalah menteri yang dipecat oleh bapak Joko Widodo.

    Jakarta sebagai Ibu Kota harus memberikan pelajaran dan role model untuk menghancurkan para koruptor, create a great city dan memprioritaskan orang miskin-lemah untuk dapat bersaing di era global ini.

     Good bye Bapak Ahok, Welcome Bapak Basuki Tjahaja Purnama.


    Penulis : Hayat Ainul   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Memilih Pemimpin Karena Agama Itu Salah Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top